"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Mensos Gus Ipul: Momentum Lebaran untuk Tingkatkan Program Sosial

Menteri Sosial Berikan Arahan Kepada Seluruh Jajaran



Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) memberikan arahan penting kepada seluruh jajarannya setelah libur Idul Fitri 2026. Ia menekankan bahwa usai lebaran menjadi momentum untuk kembali bekerja dengan semangat dan disiplin baru, serta orientasi yang lebih kuat pada pelayanan. Menurutnya, berbagai program dan layanan yang diberikan harus tepat sasaran, cepat, akuntabel, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Arahan ini disampaikan Gus Ipul dalam Rapat Pimpinan (Rapim) yang digelar secara hybrid di Kantor Kemensos, Jakarta Pusat. Rapat tersebut dihadiri oleh seluruh pimpinan dari masing-masing direktorat. Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan bahwa pascalebaran harus menjadi awal percepatan kerja yang lebih disiplin, bersih, dan berdampak. Semua program, data, pengawasan, dan layanan harus bermuara pada satu tujuan, yaitu melindungi, menguatkan, dan memuliakan masyarakat.

Kolaborasi dan Integrasikan Program Prioritas

Gus Ipul juga mengingatkan bahwa tidak boleh ada ego sektoral di tubuh Kemensos dalam bekerja. Ia menekankan bahwa seluruh unit harus bekerja dalam satu irama yang sama untuk mendukung program prioritas Presiden Prabowo Subianto. “Satu orkestrasi yang terhubung satu dengan yang lain,” katanya.

Ia meminta para direktur untuk sering melakukan komunikasi, baik secara formal maupun informal. “Pokoknya yang tugasnya tampak bersinggungan, saya minta benar-benar duduk bersama cari solusi, cari koordinasi, cari cara untuk mengintegrasikan program. Tolong konkretkan dan tolong ini jadi satu kebijakan yang nanti berdampak nyata di tengah-tengah masyarakat,” ujarnya.

Percepatan Pembangunan Sekolah Rakyat

Selain konsolidasi internal, Gus Ipul juga menyampaikan bahwa Kemensos harus segera berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) terkait pembangunan 104 Sekolah Rakyat permanen. Ia mendorong agar disiapkan solusi transisi yang layak, aman, dan bermutu bagi daerah yang belum memiliki gedung sekolah permanen dengan memanfaatkan aset atau fasilitas yang tersedia.

Ia juga menekankan perlunya percepatan evaluasi pemerataan SDM Sekolah Rakyat secara jujur, seperti mana yang sudah cukup, mana yang masih kurang guru, wali asuh, wali asrama, tenaga administrasi, dan tenaga pendukung lainnya.

Pendekatan Manusiawi dalam Rehabilitasi Sosial

Terkait rehabilitasi sosial (rehsos), Gus Ipul meminta Direktorat Jenderal (Ditjen) Rehsos memberikan layanan kepada lansia, penyandang disabilitas, anak, korban napza, dan kelompok rentan lainnya dengan pendekatan manusiawi, berbasis keluarga, dan berbasis komunitas. Standar layanan, etika pendampingan, dan mutu intervensi harus dijaga agar upaya memulihkan harkat, fungsi sosial, dan harapan hidup kelompok rentan dapat benar-benar terasa.

Sentra-sentra di beberapa provinsi merupakan ujung tombak layanan Kemensos. Ia meminta agar seluruh sentra tidak hanya menjadi tempat pelayanan administratif, melainkan harus menjadi pusat layanan terpadu yang aktif, responsif, dan solutif. Sentra harus menjadi simpul yang menghubungkan perlindungan sosial, rehabilitasi sosial, pemberdayaan, dan pelayanan kedaruratan.

Peran Sentra yang Lebih Proaktif

Pengelolaan sentra, lanjut dia, harus bergerak dari pola pasif menjadi pola jemput bola. Gus Ipul ingin agar sentra mampu membaca persoalan sosial di wilayah kerja masing-masing, membangun jejaring, dan menghadirkan intervensi yang tepat. Ia menekankan pentingnya kolaborasi dengan pemda, pilar-pilar sosial, komunitas, dan lembaga masyarakat.

Ukuran keberhasilan bukan hanya penyerapan anggaran, tetapi perubahan nyata dalam kehidupan penerima manfaat.

Perlindungan Sosial yang Tepat Sasaran

Terkait perlindungan dan jaminan sosial, Gus Ipul menyampaikan bahwa bansos harus makin tepat sasaran, tepat waktu, transparan, dan mudah diakses masyarakat. Ia meminta agar aduan yang disampaikan oleh masyarakat ditangani secara cepat, sederhana, dan solutif.

Perlindungan sosial harus menjadi bantalan masyarakat rentan sekaligus dihubungkan dengan pemberdayaan dan jalan menuju kemandirian atau graduasi. Pendamping sosial PPPK, Tagama, karang taruna, pekerja sosial, dan seluruh pilar sosial harus terus diperkuat kapasitas dan kolaborasinya.

Penguatan Program Pemberdayaan Sosial

Gus Ipul juga mengingatkan pentingnya penguatan program pemberdayaan sosial. Sehingga masyarakat tidak terus bergantung pada bansos, tetapi harus bangkit menuju kemandirian. Pemberdayaan harus dibangun bersama pemerintah daerah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan berbagai mitra. Target graduasi harus jelas.

Pengelolaan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional

Pemutakhiran Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai basis penyaluran bansos harus dikawal secara serius melalui kolaborasi dengan berbagai pihak. Ia menekankan soal budaya berbasis data. Menurutnya, semua unit bekerja berdasarkan data, bukan asumsi.

Pengawasan yang Lebih Ketat

Terakhir, Gus Ipul menegaskan pentingnya penguatan Inspektorat Jenderal (Itjen) dalam mengawal dan mengawasi. Sehingga program kerja Kemensos dapat berjalan dengan benar sejak awal, tepat aturan, tepat sasaran, dan minim risiko. Pengawasan harus lebih dini, lebih cermat, dan lebih menyentuh titik-titik rawan dalam pelaksanaan program, terutama yang berkaitan dengan bansos, pengelolaan sentra, Sekolah Rakyat, dan pemanfaatan anggaran.

Irjen perlu memperkuat fungsi pencegahan, pendampingan, audit, monitoring, dan peringatan dini, bukan hanya penindakan setelah masalah terjadi. Seluruh unit kerja harus terbuka terhadap pengawasan. Menurutnya, pengawasan yang sehat adalah bagian dari upaya menjaga kepercayaan publik. Penguatan Irjen penting agar tidak ada ruang bagi kelalaian, pemborosan, penyimpangan, atau lemahnya pengendalian internal dalam program yang menyangkut rakyat kecil.

Zaiful Aryanto

Penulis yang dikenal dengan gaya bahasa lugas dan informatif. Ia aktif meliput berita cepat, tren daring, hingga liputan human interest. Hobi utamanya adalah bersepeda, menonton video edukatif, dan mencoba tempat kuliner baru. Motto: "Tulisan yang baik selalu lahir dari kejujuran."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *