Kritik terhadap Video Joget Hendrik dan Penyelidikan terhadap SPPG
Video joget yang diunggah oleh Hendrik Irawan, seorang mitra dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG), telah memicu reaksi tajam dari berbagai pihak. Dalam video tersebut, Hendrik menyebutkan bahwa insentif harian yang diterimanya mencapai Rp6 juta per hari. Hal ini menimbulkan kontroversi karena dinilai tidak sesuai dengan etika dan protokol yang seharusnya ditaati.
BGN Marah dan Tegaskan SPPG Bukan Bisnis
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik Sudaryati Deyang, mengungkapkan kekecewaannya terhadap tindakan Hendrik. Ia menekankan bahwa SPPG bukanlah bisnis, melainkan program nasional yang harus dijalankan sesuai aturan. Selain itu, Nanik juga menyoroti bahwa video joget Hendrik di dalam dapur MBG tanpa alat pelindung diri (APD) sangat tidak pantas.
“Ya saya minta mitra itu low profile lah jangan aneh-aneh, kalau ada yang aneh-aneh nanti saya suspend atau malah kita hentikan dapurnya,” ujar Nanik kepada wartawan.
Dapur Hendrik Disidak dan Di-Suspend
Setelah video tersebut viral, Direktur Tauwas Wilayah II BGN, Brigjen Doni Dewantoro, melakukan peninjauan terhadap dapur Hendrik. Hasilnya, dapur tersebut ditemukan memiliki layout yang salah dan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang tidak sesuai standar. Akibatnya, dapur Hendrik kini di-suspend atau dihentikan sementara.
“Dapurnya sudah kita suspend, bukan perkara dia nari, tapi karena layout-nya salah dan IPAL tidak sempurna,” ucap Nanik.
Hendrik Mengaku Salah dan Meminta Maaf
Hendrik secara pribadi mengakui kesalahan yang telah ia lakukan. Ia merasa kaget karena aksi jogetnya di ruangan SPPG serta pernyataannya tentang insentif berujung pada sanksi administratif yang berat.
“Saya merasa kaget, permasalahan ini menjadi besar. Memang ada kesalahan saya, tidak mematuhi protokol dengan nge-dance di ruangan. Saya tidak menyangka akan seviral ini,” ujar Hendrik saat memberikan keterangan.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada Presiden Prabowo Subianto dan masyarakat luas atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan. Meski demikian, Hendrik menegaskan bahwa kualitas menu MBG yang diproduksinya selalu terjaga.
Tegaskan Bangun SPPG Pakai Modal Sendiri
Hendrik menegaskan bahwa dapur SPPG yang ia kelola dibangun menggunakan dana pribadi, bukan dari anggaran negara. Ia mengklaim telah merogoh kocek hingga Rp3,5 miliar untuk mendukung program nasional tersebut.
“Saya buatnya (dapur SPPG) sampai Rp 3,5 miliar, jadi dari bapak presiden menghargai, akhirnya dibangunlah SPPG yang awalnya modal saya,” ungkap Hendrik Irawan dalam video di akun TikTok pribadinya.
Terkait angka Rp6 juta yang ramai diperbincangkan, Hendrik menjelaskan bahwa nilai tersebut merupakan insentif bangunan bagi seluruh mitra yang bergabung, bukan penghasilan pribadi semata.
Tempuh Jalur Hukum
Merasa nama baiknya tercoreng, Hendrik telah mendatangi Polres Cimahi untuk melaporkan akun-akun yang menyebarkan berita bohong (hoax). Ia mengklaim bahwa narasi yang beredar telah melenceng dari petunjuk teknis (juknis) yang ada.
“Tanggal 26 saya akan resmi melaporkan, pertama yang meng-up tentang video saya yang saya mendapat insentif SPPG Rp 6 juta, lalu salah saya di mana?” ujarnya.
Meskipun Hendrik sudah menyampaikan klarifikasi, BGN tetap mengambil langkah tegas dengan membekukan sementara aktivitas di SPPG Pangauban guna evaluasi lebih lanjut.











