"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

5 Kekuatan Global: Teka-Teki Mojtaba Khamenei dan Invasi Israel ke Lebanon

Berita Internasional Terkini: Isu-isu yang Mengguncang Dunia

Dunia internasional kembali diguncang oleh sejumlah isu besar yang memperlihatkan dinamika geopolitik yang kompleks. Dari teka-teki keberadaan Mojtaba Khamenei di Iran hingga invasi darat Israel ke Lebanon, berbagai peristiwa ini menarik perhatian publik global.

Tingkat Kepuasan Terhadap Kinerja Trump Turun, Isu Pemakzulan Mencuat di AS

Posisi Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih kini terancam. Eskalasi perang dengan Iran yang memicu lonjakan harga BBM dan kekacauan di Timur Tengah, serta penghentian pendanaan Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) yang menyebabkan huru-hara di bandara, membawa tingkat kepuasan publik terhadap Trump ke titik terendah sepanjang masa jabatannya.

Kondisi domestik ini dimanfaatkan oleh faksi oposisi untuk menyuarakan impeachment atau pemakzulan, menjelang Pemilihan Umum Paruh Waktu, yang dijadwalkan pada 3 November 2026. Sejumlah kandidat dari Partai Demokrat, termasuk Christian Menefee, Wali Kota Daniel K. Biss, Senator Laura Fine, hingga aktivis Kat Abughazaleh, secara terang-terangan berkampanye dengan janji memakzulkan Trump.

Mereka menuding kebijakan luar negeri Trump terkait perang di Iran sebagai penyalahgunaan kekuasaan yang merugikan rakyat Amerika. Trump menyadari risiko ini. Kepada rekan-rekan partainya, ia mengatakan kemenangan Partai Republik di Pemilu Paruh Waktu adalah harga mati.

“Kalian harus menang di Pemilu Paruh Waktu. Jika kita tidak menang, mereka akan mencari-cari alasan untuk memakzulkan saya. Saya akan dimakzulkan,” tegas Trump dikutip Asbury Park Press, media terbesar ketiga di New Jersey, AS, yang merupakan bagian dari jaringan USA Today Network.

Keberadaan Mojtaba Khamenei Jadi Teka-Teki, AS dan Israel Bingung Siapa yang Mengendalikan Iran

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah semakin memuncak setelah Mojtaba Khamenei resmi menjadi Pemimpin Tertinggi Iran pada 9 Maret 2026. Ia naik tahta menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan udara gabungan AS dan Israel pada 28 Februari 2026.

Namun, pasca pelantikan, keberadaan Mojtaba putra ke-2 dari Ali Khamenei hingga kini masih menjadi misteri, membingungkan intelijen Amerika Serikat (AS) dan Israel. Menurut laporan Axios, ketidakhadirannya di publik menjadi bahan diskusi selama pengarahan intelijen Presiden AS Donald Trump. Bahkan Pejabat AS turut mempertanyakan siapa yang benar-benar memegang kendali di Teheran.

Pemimpin Baru yang Misterius
Sejumlah pihak juga menyebut Mojtaba sebagai “Pemimpin Baru yang Misterius” karena sejak naik tahta ia jarang muncul di depan publik. Teka-teki itu muncul lantaran selama menjabat, pernyataan pertama Mojtaba pada 12 Maret dan pesan Tahun Baru Persia (Nowruz) pada 20 Maret dibacakan oleh media pemerintah, bukan disampaikan langsung olehnya.

Oleh karena itu media Israel dan AS menyebut bahwa Mojtaba kemungkinan masih hidup, tetapi belum memiliki kendali penuh atas negara. Klaim tersebut sejalan dengan mencuatnya isu yang menyatakan Mojtaba diam-diam dievakuasi ke Moskow, Rusia, untuk menerima perawatan medis dan operasi rahasia di fasilitas yang dikaitkan dengan kediaman Presiden Vladimir Putin di Rusia.

Ancaman Terhadap Akademisi Mohammad Marandi, Dijuluki ‘Kepala Propaganda’

Ancaman terhadap Mohammad Marandi mencuat ke ruang publik setelah sebuah akun pro-Israel di platform X mengunggah tawaran hadiah sebesar 1 juta dolar AS bagi siapa pun yang dapat menangkapnya dalam keadaan hidup. Unggahan tersebut bahkan disebut sebagai bagian dari “paid partnership”, memicu kontroversi luas terkait batas kebebasan berekspresi di media sosial.

Dalam pernyataannya, Marandi mengecam keras ancaman tersebut dan mempertanyakan tanggung jawab Elon Musk sebagai pemilik platform yang dianggap membiarkan konten berbahaya beredar. “Ini bukan sekadar ancaman personal, melainkan bagian dari upaya sistematis untuk membungkam suara yang berbeda di ruang publik global,” tulisnya.

Lebih jauh, Marandi juga menyoroti sikap media Barat yang dinilainya cenderung diam terhadap insiden tersebut. Menurutnya, ketidakresponsifan ini menunjukkan adanya standar ganda dalam menilai ancaman terhadap tokoh publik, terutama ketika yang menjadi sasaran adalah individu yang kerap mengkritik kebijakan Barat dan sekutunya.

Sosok Mohammad Marandi sendiri bukan figur sembarangan. Ia merupakan akademisi terkemuka di Iran yang lahir pada 1966. Marandi dianggap sebagai salah satu pembela terkuat Republik Islam di media berbahasa Inggris, dengan keras menyerang Barat dan membela Republik Islam serta “Poros Perlawanan.”

Solidaritas Warga India untuk Iran, Janda Kashmir Donasikan Emas Warisan Suami

Gelombang solidaritas kemanusiaan muncul di India, khususnya dari wilayah Kashmir, untuk membantu warga sipil yang terdampak konflik di Iran. Warga menyumbangkan uang tunai, emas, hingga berbagai barang rumah tangga, disertai kisah-kisah pengorbanan pribadi yang menyentuh.

Salah satu kisah yang paling mengharukan datang dari seorang wanita di Kashmir yang rela mendonasikan emas peninggalan mendiang suaminya. Perhiasan tersebut telah ia simpan selama hampir tiga dekade, sejak sang suami wafat 28 tahun lalu.

Kisah ini dibagikan Kedutaan Besar Iran di India melalui platform X, yang turut menyampaikan apresiasi atas ketulusan tersebut. “Air mata dan emosi murni Anda adalah sumber penghiburan terbesar,” tulis kedutaan.

Aksi ini merupakan bagian dari gerakan kemanusiaan yang lebih luas di Lembah Kashmir. Di wilayah seperti Budgam dan daerah lain yang didominasi komunitas Syiah, warga mendirikan pos donasi di sekitar masjid. Bantuan yang terkumpul beragam, mulai dari perhiasan, uang tunai, hingga peralatan tembaga dan ternak.

Israel Mulai Invasi Darat Lebanon, Diawali Hancurkan Jembatan di Atas Sungai Litani

Pasukan Israel (IDF) menghancurkan jembatan Qasmiyeh, jalur utama yang menghubungkan wilayah selatan Lebanon ke seluruh negeri tersebut, Minggu (22/3/2026). Militer Israel menegaskan bahwa operasi ini merupakan persiapan strategis untuk melancarkan invasi darat berskala besar, guna melumpuhkan kekuatan Hizbullah, yang merupakan proksi Iran.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan telah memerintahkan penghancuran seluruh jembatan di atas Sungai Litani yang disinyalir menjadi jalur utama distribusi senjata dan pergerakan milisi Hizbullah ke arah selatan. “Operasi terhadap Hizbullah baru saja dimulai. Ini adalah operasi yang berkepanjangan,” tegas Letnan Jenderal Eyal Zamir, dikutip Arab News.

Ia menambahkan bahwa pasukannya tengah bersiap memajukan operasi darat sesuai rencana. Selain jembatan, Israel juga mempercepat penghancuran rumah-rumah warga di desa-desa garis depan untuk menciptakan zona penyangga, seperti yang pernah mereka lakukan di Beit Hanoun dan Rafah, Gaza.

Presiden Lebanon, Joseph Aoun, mengutuk keras penghancuran infrastruktur vital tersebut. Menurut dia, tindakan Israel sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan Lebanon sekaligus awal dari invasi darat yang segera terjadi. “Serangan ini menargetkan fasilitas vital, khususnya jembatan Qasmiyeh yang sangat penting bagi pergerakan warga. Ini adalah eskalasi berbahaya,” bunyi pernyataan resmi kepresidenan Lebanon.

Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *