Alasan Penyapu Koin Menolak Rp600 Ribu dari Dedi Mulyadi
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, memberikan tawaran kompensasi kepada para penyapu koin di Jembatan Sewoharjo, Subang, Jawa Barat. Tawaran tersebut berupa uang sebesar Rp50.000 per hari selama musim mudik Lebaran. Jika diberikan selama seminggu, totalnya mencapai Rp600.000. Namun, tidak semua penyapu koin menerima tawaran ini.
Penyapu koin biasanya bertahun-tahun melakukan aktivitas mereka setiap musim mudik. Tak sedikit, bahkan ratusan orang terlibat dalam kegiatan ini. Aktivitas mereka menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan dan kemacetan selama masa liburan. Oleh karena itu, Dedi Mulyadi mengeluarkan larangan untuk aktivitas penyapu koin tersebut.
Dalam kunjungannya ke Kantor Desa Karanganyar, Kecamatan Pusakajaya, Kabupaten Subang, Dedi Mulyadi memberikan himbauan kepada para penyapu koin untuk menghentikan aktivitasnya selama musim mudik. Ia menegaskan bahwa aktivitas tersebut sangat membahayakan.
“Saya minta tolong hentikan aktivitas menyapu koin selama mudik dan saya akan berikan kompensasi Rp 50.000 per hari jadi selama seminggu musim mudik jadi totalnya Rp 600.000 buat bapak dan ibu,” kata Dedi Mulyadi.
Namun, tawaran tersebut tidak semua diterima oleh para penyapu koin. Mereka menganggap bahwa aktivitas ini sudah menjadi tradisi tahunan, meskipun memiliki risiko kecelakaan. Salah satu penyapu koin, Warto, mengatakan bahwa penghasilan mereka bisa mencapai lebih dari Rp150.000 per hari.
“Ini sudah tradisi, pak Gubernur mau ngasih Rp 50.000 sehari, kami disini sehari bisa dapat Rp 150.000 lebih,” ucap Warto.
Setelah gubernur pergi, para penyapu koin kembali beraktivitas di tengah padatnya arus kendaraan pemudik. Bahkan jumlah warga yang menyapu koin semakin banyak, mencapai ratusan orang. Mereka berjejer di bahu jalan yang panjangnya mencapai ratusan meter baik sebelum maupun sesudah Jembatan Sewoharjo.
Upaya Penertiban dan Keamanan
Untuk memastikan kelancaran arus mudik di Jalur Pantura, pihak Pos PAM Jembatan Sewoharjo terus berupaya melakukan penertiban terhadap para penyapu koin. Meskipun mereka terus kucing-kucing dengan polisi, pihak kepolisian tetap berupaya agar aktivitas mereka tidak naik ke median jalan.
Kapolsek Pusakanagara, Kompol Jusdi Jachlan, mengatakan bahwa meskipun sulit di bubarkan, pihaknya akan terus berupaya agar aktivitas mereka tidak mengganggu kelancaran lalu lintas para pemudik.
“Kami bersama instansi terkait terus melakukan penertiban agar aktivitas para penyapu koin ini tidak mengganggu kelancaran lalu lintas para pemudik,” katanya.
Ia juga mengimbau kepada pemudik agar berhati-hati saat melintasi kawasan Jembatan Sewoharjo, mengingat semakin banyaknya aktivitas para penyapu koin yang sangat sulit ditertibkan.
“Pemudik diminta kurangi kecepatan saat mendekati kawasan Jembatan Sewoharjo dan yang paling penting tidak melemparkan koin dilokasi tersebut, karena akan membahayakan bagi pengguna jalan lain maupun para penyapu koin itu sendiri,” ujarnya.
Pendataan Warga Penyapu Koin
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Indramayu mulai mendata warga penyapu koin di Jembatan Sewo. Langkah cepat ini dilakukan sebagai tindak lanjut dari instruksi Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi guna menertibkan jalur tersebut demi kelancaran dan keamanan arus mudik Lebaran 2026.
Para penyapu koin ini diusulkan mendapat kompensasi dari pemerintah, dengan syarat mereka harus menghentikan aktivitas berbahaya tersebut selama momen mudik berlangsung. Camat Sukra, Sigit Widiyanto, mengatakan bahwa Bupati Indramayu Lucky Hakim telah memerintahkan jajarannya untuk segera turun ke lapangan. Sejauh ini, sekitar 200 warga penyapu koin telah berhasil didata.
“Untuk pendataan alhamdulillah sudah dilakukan, terdata kurang lebih sekitar 200 orang,” ujar Sigit saat ditemui di lokasi Jembatan Sewo, Senin (16/3/2026).
Hanya saja, dijelaskan Sigit, jumlah 200 orang tersebut masih bercampur antara warga Indramayu dan Kabupaten Subang. Hal ini terjadi mengingat Jembatan Sewo berlokasi tepat di perbatasan kedua kabupaten tersebut.
Meski begitu, sesuai arahan Bupati Lucky Hakim, seluruh warga di lokasi didata terlebih dahulu tanpa terkecuali. Data tersebut kini telah diserahkan ke Bupati Indramayu, sementara pihak kecamatan masih menunggu instruksi lanjutan.
Terkait teknisnya nanti (kompensasi) seperti apa, kami masih menunggu,” tambahnya.
Kolaborasi Antar Daerah
Dalam proses pendataan ini, Pemkab Indramayu tidak bergerak sendiri, melainkan turut melibatkan koordinator dari para penyapu koin. Pendekatan persuasif ini disambut positif. Para koordinator bahkan berkomitmen untuk membantu menertibkan warga yang masih membandel turun ke jalan setelah kompensasi diberikan.
“Ibaratkannya itu saya pegang sumbunya atau pegang koordinatornya ini, biar nanti koordinator ini ikut getok tular ke bawahnya,” ujar dia.
Sementara itu, guna menyelesaikan persoalan warga perbatasan, Sigit berencana untuk menjalin koordinasi dengan Camat Pusakanagara, Kabupaten Subang. Di tingkat pimpinan, lanjut Sigit, kemungkinan besar Bupati Indramayu juga akan menjalin komunikasi yang sama dengan Bupati Subang.
“Pada intinya kami ingin menjalin kolaborasi dan menunjukkan bahwa pemerintah di dua daerah Jembatan Sewo ini bekerja sama mengatasi masalah penyapu koin yang selalu menjadi sorotan setiap momen mudik Lebaran,” tegasnya.











