Perang Amerika-Iran: Kekuatan dan Keberanian yang Mengguncang Dunia
Perang antara Amerika Serikat dan Iran telah berlangsung sejak 28 Februari 2026, dan terus berlanjut hingga hari raya kemenangan Ied Fitri 1447. Bulan Ramadan, saat umat Islam tengah berpuasa, bagi negara-negara seperti Amerika dan sekutunya bukanlah waktu yang dihormati. Muslim Iran, yang mayoritas berpaham Syiah, juga menjalani puasa selama sebulan Ramadhan, seperti halnya mereka melaksanakan salat menghadap kiblat dan amaliyah lainnya.
Namun, dalam konteks perang, Islam mengajarkan etika bahwa tidak boleh menyerang siapa pun, tetapi jika diserang maka wajib membela diri. Dalam sejarah perang dalam Islam, beberapa perang yang pernah terjadi di bulan Ramadhan termasuk perang Badar dan juga perang merebut kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah. Namun, dari sekian banyak perang yang pernah terjadi, khususnya di Bulan Ramadhan, perang Amerika-Iran saat ini adalah perang yang terbesar karena melibatkan alat perang yang besar, mutakhir, dan tercanggih.
Eskalasi konflik di Kawasan Timur Tengah semakin membesar, serta jumlah korban yang terus bertambah hingga ribuan. Upaya Amerika dan sekutunya mulai dari embargo yang sudah berlangsung puluhan tahun, memancing instabilitas dengan propaganda anti pemerintahan Iran, hingga konspirasi membenturkan Sunni-Syiah di Kawasan Timur Tengah, semua dinilai tidak berhasil menggulingkan rezim kepemimpinan teokrasi Republik Islam Iran.
Di tengah keputusasaan itulah, Amerika melakukan serangan militer bersenjata dengan mengerahkan pesawat tempur yang membom tempat-tempat vital, termasuk kantor dan kediaman pemimpin tertinggi Iran. Serangan Amerika berhasil menargetkan kediaman pemimpin tertinggi dan mengakibatkan wafatnya Ali Khamenei di usia 86 tahun, beserta beberapa keluarga dan pejabat teras yang bersamanya.
Boleh jadi, Amerika dan Israel mengira kondisinya sama dengan menggulingkan pemerintahan Saddam Husain di Irak, mengeksekusinya lalu dengan mudah mengambil alih negaranya. Atau mungkin Amerika mengira sama dengan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro yang ditangkap oleh pasukan khusus Amerika Serikat dalam operasi militer di Caracas lalu politik pemerintahan dikuasai.
Praduga itu meleset jauh, perang yang mereka targetkan hanya tiga hari, lalu kematian Ali Khamenei sebagai entry point mengantar gerakan rakyat untuk mengganti sistem pemerintahan itu terjadi, ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi Reza Pahlavi sebagai putra mahkota terakhir Iran yang diasingkan, tinggal di Amerika Serikat vokal menyerukan perubahan rezim, dan menanti untuk kembali berkuasa di Iran.
Ali Khemenei boleh tiada, tapi semangat perjuangannya sudah menjadi nafas rakyat Iran untuk membela agama dan negaranya. Mati bagi mereka adalah kemuliaan dan bukan momok yang mengerikan dan menakutkan. Kematian bagi mereka sebagai syahid yang mengantar dirinya secara pintas menuju damainya alam keabadian.
Di saat hari kemenangan 1 Syawal dirayakan oleh umat Islam yang berpuasa, mereka berhasil melawan godaan setan yang tidak berhenti menggodanya, ternyata apa yang dirasakan oleh pejuang muslim Iran, demikian dahsyat dengan kesiapan mereka mempertaruhkan nyawanya di medan perang. Tapi sayang seribu sayang, jika propaganda Syiah-Sunni terus dicetuskan lalu melemahkan semangat doa dalam melawan Israel yang sudah menjajah beberapa negara sekitarnya terutama Palestina dan Gaza yang mengalami penindasan dan genosida.
Ketika umat Islam termasuk di Indonesia, dengan syahdu bertakbir Allohu Akbar, Allohu Akbar dengan microphone, pejuang Iran bertakbir dengan roket-roketnya. Ketika umat Islam di Indonesia bertakbir dengan lanjutan “Shadaqa wa’dah, wa nashara ‘abdah, wa a’azza jundah, wahazamal ahzaba wahdah” (benar janji Allah, menolong hambanya, menguatkan pasukannya, dan mengalahkan lawan-lawannya). Ternyata kalimat ini dirasakan sekarang oleh pasukan dan rakyat Iran, sekalipun di Indonesia hanya sekedar dibaca.
Hari kemenangan tidak akan ada nilai sama sekali, jika tidak ada rasa empati seperti yang akan dilakukan oleh Ketua PMI Jusuf Kalla yang akan mengirim bantuan obat-obatan bagi Iran, atau minimal dengan doa dari pelantun-pelantun takbir kemenangan di hari kemenangan 1 Syawal 1447 H.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











