Kondisi Pasokan Minyak Global dan Dampaknya terhadap Emeni Migas Indonesia
Harga minyak global tetap berada di level tinggi akibat gangguan pasokan yang disebabkan oleh konflik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran. Situasi ini memberikan sentimen positif bagi emiten migas di Indonesia, karena lonjakan harga komoditas akan meningkatkan harga jual perusahaan. Para analis memperkirakan bahwa saham-saham seperti PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) dan PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) memiliki potensi kenaikan lebih dari 20% dari harga saat ini.
Rekomendasi Analis untuk Saham MEDC dan ENRG
Berdasarkan data dari Bloomberg Terminal, sebanyak 20 analis (100%) merekomendasikan pembelian saham MEDC dengan target harga Rp2.135. Ini mencerminkan potensi return sebesar 23,4% dari harga penutupan pasar pada Kamis (13/3) sebesar Rp1.730. Beberapa lembaga riset seperti RHB Research, Macquarie, dan UBS memberikan rekomendasi buy dengan target harga masing-masing sebesar Rp2.000, Rp2.200, dan Rp2.500. Target harga tertinggi diberikan oleh UBS, yang menjadi yang paling tinggi dibandingkan rekomendasi lainnya.
Sementara itu, saham ENRG juga mendapat rekomendasi dari 6 analis (100%) dengan target harga Rp1.992. Potensi return mencapai 36% dari harga penutupan Kamis (12/3) sebesar Rp1.465. Beberapa riset terbaru yang dirilis antara lain dari Kiwoom Sekuritas dengan target harga Rp2.100, Verdhana Sekuritas dengan target harga Rp2.140, serta UOB Kay Hian dengan target harga Rp1.700.
Pergerakan Harga Saham dan Indeks Pasar
Pada penutupan Jumat (13/3), saham MEDC turun 1,73% ke Rp1.700, sedangkan ENRG turun 3,75% ke Rp1.410. Pergerakan ini sejalan dengan penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang ditutup turun 3,05% ke Rp7.137.
Pandangan Analis tentang Komoditas Minyak
Liza Camelia Suryanata, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas, mengungkapkan bahwa topik komoditas minyak menjadi cerita utama di pasar saat ini. Meskipun ada harapan kenaikan harga yang akan menjadi keuntungan bagi sektor, dampaknya terlalu besar untuk bisa diredam oleh pasar, sehingga menyebabkan IHSG mengalami penurunan, termasuk saham emiten migas.
Harga minyak melonjak tajam akibat gangguan pasokan global dari konflik Iran. Brent sempat menembus US$101,57 per barel dan diperdagangkan sekitar US$99 hingga US$101 per barel. Sementara minyak mentah WTI naik sekitar 9% menjadi sekitar US$95 per barel.
Perkiraan Pasokan Minyak dan Respons IEA
International Energy Agency (IEA) menyebut konflik ini berpotensi menjadi gangguan pasokan energi terbesar dalam sejarah. Aliran minyak melalui Selat Hormuz turun drastis dari sekitar 20 juta barel per hari sebelum konflik menjadi hampir berhenti, memaksa negara produsen Teluk memangkas produksi sekitar 10 juta barel per hari.
Secara global, pasokan minyak diperkirakan turun sekitar 8 juta barel per hari pada Maret 2026. IEA merespons dengan pelepasan cadangan strategis sekitar 400 juta barel, sementara AS berencana melepas sekitar 172 juta barel dari cadangan daruratnya.
Dampak terhadap Pasar Saham dan Ekspektasi Moneter
Liza menilai bahwa meski IHSG mengalami koreksi pada perdagangan Kamis (12/3), arus masuk asing cukup besar sampai Rp1 triliun, ditambah indikator nilai tukar rupiah yang stabil di kisaran Rp16.886 per dolar AS. Namun, dampak perang tidak hanya berhenti pada lonjakan harga minyak saja.
Lonjakan harga minyak meningkatkan risiko stagflasi global dan menekan ekspektasi pelonggaran moneter. Pasar yang sebelumnya memperkirakan 2-3 pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini kini hanya memperhitungkan sekitar 20 bps pelonggaran hingga akhir tahun.
Presiden AS Donald Trump juga kembali mendesak Ketua Federal Reserve Jerome Powell untuk segera menurunkan suku bunga, namun pasar menilai lonjakan harga energi justru akan memperpanjang tekanan inflasi.
Prediksi IHSG dan Faktor Internal
Dalam kondisi pasar saat ini, Liza menilai bahwa IHSG akan sulit untuk rebound kuat mengingat semua sentimen global yang memberatkan. Di sisi lain, faktor libur panjang Lebaran 2026 juga menjadi pertimbangan. “IHSG agak susah naik tinggi menimbang segala sentimen global yang terjadi, pun di kala menjelang libur panjang Idul Fitri di mana ini membuat banyak investor mengurangi posisi portfolio mereka demi terhindar dari gejolak pasar selama ditinggal liburan,” tambahnya.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”











