Presiden Prabowo Subianto Siap Jadi Penengah Konflik AS-Iran, Tapi Ada Syarat yang Harus Dipenuhi
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyatakan kesediaannya untuk menjadi penengah atau mediator dalam konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Pernyataan ini mendapat berbagai tanggapan dari para ahli, pengamat, dan tokoh masyarakat. Meski niatnya baik, beberapa syarat harus dipenuhi agar bisa menjadi mediator yang efektif.
Syarat Menjadi Mediator
Menurut Prof. Dr. Siti Mutiah Setyawati, M.A, pakar geopolitik Timur Tengah dari Universitas Gadjah Mada (UGM), salah satu syarat utama menjadi mediator adalah netralitas. Indonesia saat ini sudah masuk ke dalam Board of Peace (BoP), yang juga diikuti oleh Amerika Serikat dan Israel. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak sepenuhnya netral dalam konflik tersebut.
Selain itu, mediator harus diterima oleh kedua belah pihak. “Ya jelas kita (Indonesia) sudah pro pada yang satu (Amerika Serikat dan Israel). Nggak mungkin Iran menerima kita,” ujarnya. Kedua belah pihak harus merasa nyaman dengan mediator agar proses perdamaian bisa berjalan lancar.
Siti juga menilai bahwa posisi Indonesia sebagai negara dunia ketiga membuatnya sulit untuk menjadi mediator dalam konflik besar seperti ini. Dalam permainan politik internasional, negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Iran cenderung memilih mediator yang memiliki kredibilitas tinggi dan hubungan kuat dengan kedua belah pihak.
Pengalaman Sebelumnya dalam Mediasi
Sebelumnya, Amerika Serikat dan Iran pernah dimediasi oleh Oman dan Uni Eropa. Namun, mediasi oleh Uni Eropa melalui Joint Plan of Action (JCPOA) gagal karena Amerika Serikat keluar dari kesepakatan tersebut. Oman, yang merupakan negara Teluk yang kaya dan memiliki komunitas Syiah yang signifikan, lebih mudah diterima oleh Iran.
“Oman dan Uni Eropa saja gagal. Itu membuktikan bahwa mediasi antara dua negara besar bukanlah hal mudah,” tambah Siti.
Prioritaskan Keselamatan WNI di Timur Tengah
Selain itu, Siti menilai sebaiknya Indonesia memprioritaskan keselamatan Warga Negara Indonesia (WNI) yang tinggal di kawasan Teluk. Banyak Pekerja Migran Indonesia (PMI) bekerja di wilayah tersebut, terutama di kota-kota besar seperti Dubai dan Abu Dhabi.
“Yang penting sekarang adalah menyelamatkan, mengevakuasi penduduk Indonesia. Wilayah Teluk itu sangat kaya, dan konsentrasi PMI itu di wilayah Teluk,” ujarnya. Ia mengingatkan bahwa jumlah PMI yang bekerja di kawasan tersebut mencapai jutaan orang.
Tanggapan Jusuf Kalla
Mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla (JK), juga memberikan pandangan terkait rencana Prabowo menjadi mediator. Ia mengatakan bahwa niat Prabowo adalah baik, tetapi dalam kondisi perang seperti ini, menjadi mediator tidak mudah.
“Justru yang harus dikunjungi Trump, karena dia menyerang (Iran),” ujar JK. Ia menyarankan agar Prabowo bertemu langsung dengan Presiden Amerika Serikat untuk menjajaki kemungkinan mediasi.
Sebagai anggota Board of Peace (BoP), Prabowo bisa memperjuangkan organisasi tersebut sebagai alat perdamaian. “Bagaimana memperjuangkan Board of Peace itu menjadi perdamaian. Jadi pemerintah Indonesia sebaiknya minta agar Board of Peace itu untuk kedamaian,” tambahnya.

Rencana Kunjungan ke Teheran
Berdasarkan informasi dari Jimly Asshiddique, Ketua Dewan Penasihat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Presiden Prabowo akan berkunjung ke Teheran bersama pemimpin Pakistan untuk meredam eskalasi konflik di Timur Tengah. Rencana ini disampaikan langsung oleh Prabowo dalam pertemuan dengan ulama, pimpinan pondok pesantren, dan organisasi masyarakat Islam.
Jimly mengungkapkan bahwa Pakistan telah menelpon Presiden Prabowo beberapa jam sebelum pertemuan tersebut. “Nah mereka akan sama-sama pergi ke Teheran,” ujarnya. Ia menilai langkah ini sebagai upaya untuk menurunkan tensi dan mencegah serangan lanjutan dari Israel.
Meski peluang keberhasilan mediasi kecil, Jimly tetap mendukung usaha Prabowo. “Walaupun mungkin peluangnya kecil tapi dicoba. Intinya Indonesia mengambil global player peran sebagai global player. Itu kita dukung.”
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











