"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Cerita dari Taheran: Warga Iran Tak Gentar, Demo Dimulai Pukul 9 Pagi Balas Serangan Trump-Netanyahu

Kondisi Terkini di Iran Pasca-Konflik Militer

Di tengah eskalasi konflik yang terus berlangsung antara Iran dan Israel-Amerika Serikat (AS), kondisi di kota-kota utama Iran masih dalam keadaan mencekam. Berbagai serangan saling menyerang terus terjadi, baik dari pihak Iran maupun pasukan militer AS-Israel.

Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi (KSS) di Iran, Ismail Amin, memberikan informasi mengenai situasi terkini melalui acara Ngobrol Virtual live di YouTube pada Kamis (5/3/2026). Menurutnya, perang masih terus membara di kawasan Timur Tengah. Iran tidak hanya melakukan serangan balasan terhadap pangkalan militer AS dan Israel, tetapi juga terus mengirimkan gelombang serangan ke berbagai wilayah di Israel.

  • Serangan Iran terhadap Tel Aviv dan Haifa terus berlangsung tanpa henti.
  • Seluruh wilayah Israel menjadi target serangan.
  • Pangkalan militer AS di Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, Yordania, dan Arab Saudi juga menjadi sasaran.
  • Intensitas serangan meningkat hingga pagi hari.

Selain itu, ibu kota Iran, Teheran, juga menjadi korban serangan. Dentuman ledakan terdengar dari berbagai arah, mengguncang beberapa titik penting di kota tersebut. Salah satu lokasi yang menjadi sasaran adalah Gedung Majlis-e Khobragan di Kota Qom. Lembaga ini memiliki kewenangan untuk memilih dan mengangkat pemimpin tertinggi Iran, termasuk pengganti Ayatollah Ali Khamenei.

“Memang ada upaya teror, tapi saat serangan terjadi, Gedung Majlis-e Khobragan sedang tidak bersidang atau kosong. Namun, tiga pegawai mengalami kematian akibat serangan tersebut. Mereka sedang dalam proses pemakaman,” kata Ismail Amin.

Kematian tiga pegawai tersebut memicu gelombang duka yang besar. Ratusan ribu warga turun ke jalan untuk mengantar para korban menuju pemakaman terakhirnya. Di tengah ancaman perang yang terus mengintai, kehidupan masyarakat Iran justru dipenuhi mobilisasi massa. Demonstrasi, pawai solidaritas, dan doa bersama di masjid terus berlangsung.

Pemerintah Iran telah menetapkan tujuh hari libur nasional serta masa berkabung selama 40 hari setelah wafatnya Ayatollah Ali Khamenei. Dalam waktu tujuh hari tersebut, tidak ada aktivitas persekolahan atau perkantoran. Semua warga mulai jam 9 pagi turun ke jalan untuk melakukan demonstrasi.

“Tujuan demonstrasi adalah mengecam Donald Trump dan Benjamin Netanyahu, serta mengecam agresi AS-Israel,” ujar Ismail Amin yang mengenakan songkok Recca.

Demonstrasi besar-besaran ini menjadi simbol persatuan masyarakat Iran di tengah situasi perang. Mereka ingin menunjukkan bahwa kematian pemimpin tertinggi tidak akan menggoyahkan sikap politik negara tersebut. Warga Iran ingin menyampaikan pesan kepada dunia bahwa negaranya tidak akan mudah ditaklukkan.

“Ini untuk menunjukkan meskipun pemimpin tertinggi mereka dibunuh, sikap politik tidak berubah. Iran tidak bisa di taklukkan dengan mudah, tidak bisa dikuasai, dan tidak mau menyerah dengan kondisi sekarang,” katanya.

Masyarakat Iran juga tidak ingin mengalami nasib seperti beberapa negara lain yang kehilangan pemimpin lalu jatuh ke dalam pengaruh asing. “Meskipun pemimpinnya terbunuh, tidak sebagaimana di Venezuela, Libya, Irak, pemimpinnya terbunuh, masyarakat langsung menyerah. Artinya kemudian dikuasai dan diberikan pemimpin boneka. Namun Iran dengan demonstrasi menegaskan tetap di garis perjuangan imam Ali Khamenei, tetap anti Israel dan Amerika,” katanya.

Warga Iran disebut tidak diselimuti ketakutan. Tidak ada evakuasi mandiri, mereka tetap tinggal di rumah yang sama dan tetap turun ke jalan. “Orang Iran itu betul-betul tidak ada rasa takut dan khawatir. Mereka tidak melakukan evakuasi mandiri ke kota lain yang dianggap aman. Mereka tetap di tempatnya masing-masing,” kata Ismail Amin.

Saat ini, eskalasi konflik militer belum juga mereda. Perlawanan masyarakat terus mengalir mengecam agresi militer AS-Israel.

Hendra Susanto

Reporter online yang antusias menjelajahi isu terkini dengan pendekatan analitis. Ia suka membaca buku motivasi, mendengarkan musik akustik, dan membuat catatan ide. Menurutnya, menulis adalah proses belajar yang tak berakhir. Motto: "Setiap paragraf harus mengandung nilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *