"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"
Bisnis  

Laba Bersih PGN Naik di 2025, Ini Rekomendasi Sahamnya

Pertumbuhan Pendapatan PGAS pada 2025

PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) mencatatkan pertumbuhan kinerja pendapatan yang positif sepanjang tahun 2025. Meskipun demikian, emiten pelat merah ini menghadapi tekanan dari sisi laba bersih. Pendapatan PGAS tercatat tumbuh sebesar 5% year on year (yoy) menjadi US$ 3,9 miliar pada akhir 2025. Namun, laba operasi PGAS mengalami penurunan tipis sebesar 0,58% yoy menjadi US$ 519,6 juta, sedangkan laba bersih turun sebesar 36,54% yoy menjadi US$ 215,4 juta.

Penurunan laba ini terjadi di tengah kenaikan beban pokok pendapatan PGAS sebesar 10% yoy menjadi US$ 3,3 miliar pada 2025. Selain itu, PGAS juga mengalami kerugian bersih atas selisih kurs sebesar US$ 7,2 juta pada 2025, berbeda dengan tahun sebelumnya yang berhasil meraih laba selisih kurs sebesar US$ 11,1 juta.

Kinerja Operasional dan Infrastruktur

Dari segi operasional, PGAS mencatatkan volume niaga gas bumi sebesar 836 BBTUD sepanjang 2025. Sementara itu, volume transmisi gas bumi PGAS naik 4% menjadi 1.609 MMSCFD dibandingkan tahun sebelumnya, seiring meningkatnya penyerapan pelanggan.

Kinerja operasional PGAS diperkuat oleh segmen bisnis infrastruktur Liquefied Natural Gas (LNG). Volume regasifikasi melalui FSRU Lampung dan Terminal Regasifikasi Arun mencapai 254 BBTUD pada 2025, tumbuh 17% dan berkontribusi pada keandalan penyaluran gas untuk berbagai sektor, termasuk industri dan pembangkit listrik.

Di segmen transportasi minyak, PGAS mencatat volume penyaluran sebesar 174.811 BOEPD. Hal ini didorong oleh meningkatnya aktivitas pengangkutan minyak melalui jaringan pipa eksisting.

Pengembangan Infrastruktur dan Keandalan Sistem

Sepanjang 2025, PGAS terus memperluas infrastruktur gas bumi dengan menambah lebih dari 230 km jaringan pipa distribusi jargas, serta menjaga keandalan sistem operasi dengan tingkat availability mencapai 98,84%.

Corporate Secretary Perusahaan Gas Negara, Fajriyah Usman menjelaskan bahwa PGAS menjaga kesinambungan penyaluran energi melalui optimalisasi portofolio gas bumi dan LNG serta koordinasi intensif dengan pemerintah dan para pemangku kepentingan strategis. Keandalan penyaluran gas bumi bagi pelanggan tetap menjadi prioritas utama PGAS.

“Kami mengoptimalkan pemanfaatan infrastruktur gas dan LNG serta menerapkan pengelolaan volume secara adaptif untuk memastikan keberlanjutan layanan energi kepada pelanggan,” ujar Fajriyah dalam keterbukaan informasi, Jumat (6/3/2026).

Kinerja Keuangan dan Strategi Ke depan

Meski terjadi penurunan laba bersih, Manajemen PGAS mengklaim kinerja perusahaan pada dasarnya tetap solid. Hal ini ditunjukkan dengan penurunan beban umum dan administrasi PGAS sekitar 17% yoy menjadi US$ 33,3 juta berkat disiplin pengelolaan keuangan melalui efisiensi biaya, optimalisasi kas, dan pengelolaan portofolio yang prudent.

Selain itu, kontribusi laba dari entitas patungan (joint venture) juga meningkat menjadi US$ 76,4 juta pada 2025.

Fajriyah menambahkan bahwa kinerja PGAS didukung oleh portofolio bisnis yang terdiversifikasi yang berfokus pada midstream dan downstream, meliputi segmen transmisi dan distribusi gas bumi, LNG, serta kontribusi anak perusahaan dan afiliasi lainnya.

Untuk ke depannya, PGAS akan terus konsisten menerapkan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan arus kas dan portofolio, termasuk langkah selektif pada proyek prioritas. “Strategi ini penting untuk memperkuat ketahanan korporasi dalam menghadapi tantangan ke depan,” jelasnya.

Prospek Kinerja dan Rekomendasi Analis

Secara terpisah, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan bahwa penurunan laba bersih PGAS disinyalir akibat adanya peningkatan biaya distribusi gas, fluktuasi harga energi global khususnya gas, hingga efek kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) sebesar US$ 6 per MMBTU yang menekan margin perusahaan.

Jika ditelusuri di bagian pos beban pokok pendapatan, PGAS tercatat mengalami kenaikan pembelian gas bumi sebesar 17% yoy menjadi US$ 2,1 miliar pada 2025 lalu.

Memasuki 2026, prospek kinerja PGAS tergolong cukup positif seiring peningkatan permintaan gas domestik yang sebagian besar berasal dari sektor industri, pembangkit listrik, hingga proyek-proyek hilirisasi nasional.

“Kebutuhan energi di sektor manufaktur dan industri diperkirakan terus meningkat, sehingga permintaan gas domestik akan tumbuh,” ujar dia, Minggu (8/3/2026).

Untuk menangkap peluang tersebut secara maksimal, PGAS harus terus melanjutkan upaya penguatan jaringan energi seperti pengembangan infrastruktur LNG dan Compressed Natural Gas (CNG) serta perluasan jaringan distribusi gas.

Selain itu, PGAS juga harus memaksimalkan sinergi dengan Grup Pertamina dengan keuntungan seperti akses pasar yang lebih luas, ketersediaan infrastruktur pendukung yang memadai, hingga potensi peningkatan efisiensi bisnis.

Lantas, Nafan menyarankan add saham PGAS dengan target harga Rp 2.630 per saham.

Hartono Hamid

Penulis berita yang aktif menggali cerita dari sudut pandang humanis. Ia senang mengamati kebiasaan masyarakat dan perubahan kultur digital. Hobinya termasuk membuat catatan refleksi, menonton film, dan mengikuti kelas online. Motto: "Menulis adalah jembatan antara fakta dan empati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *