Kematian Tiga Tentara AS dalam Serangan Gabungan dengan Israel ke Iran
Pada hari Minggu (1/3/2026), Amerika Serikat (AS) mengumumkan kematian tiga tentaranya dalam serangan gabungan dengan Israel terhadap Iran. Selain itu, lima tentara lainnya mengalami luka parah, demikian menurut pengumuman Pentagon. Komando Pusat AS (Centcom) menyebutkan bahwa beberapa personel lain mengalami luka ringan akibat pecahan peluru dan gegar otak. “Beberapa lainnya sedang dalam proses pemulihan dan akan kembali bertugas,” kata Centcom dikutip dari Time Magazine.
Situasi di Lapangan Masih Dinamis
Centcom menambahkan bahwa operasi tempur utama masih berlanjut dan upaya respons AS tetap berjalan. “Situasinya dinamis, jadi untuk menghormati keluarga, kami akan menahan informasi tambahan, termasuk identitas prajurit kami yang gugur, hingga 24 jam setelah kerabat terdekat diberitahu,” tambah pernyataan itu. Pengumuman ini datang di tengah rangkaian serangan balasan Iran ke sejumlah pangkalan militer AS di Timur Tengah dalam 48 jam terakhir.
AS Balas Kematian Prajuritnya
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa tiga prajurit AS yang gugur dalam serangan gabungan dengan Israel ke Iran adalah patriot sejati yang telah memberikan pengorbanan tertinggi bagi negara. “Dan sayangnya, kemungkinan akan ada lagi. Sebelum ini berakhir, begitulah adanya. Tapi kami akan melakukan segala hal agar itu tidak terjadi. Amerika akan membalas kematian mereka dan memberikan pukulan paling menghukum,” ujarnya.
Operasi Epic Fury Diluncurkan
Trump mengungkapkan bahwa selama 36 jam terakhir, AS dan mitranya telah meluncurkan Operasi Epic Fury, yang disebutnya sebagai salah satu aksi ofensif militer terbesar, paling kompleks, dan paling dahsyat yang pernah disaksikan dunia. “Kami telah menghantam ratusan target di Iran, termasuk fasilitas Garda Revolusi dan sistem pertahanan udara Iran,” kata Trump. Selain itu, sembilan kapal dan fasilitas galangan kapal Iran berhasil dihancurkan dalam hitungan menit. Trump menegaskan, operasi tempur masih berlangsung dengan kekuatan penuh dan akan berlanjut sampai semua tujuan tercapai. Ia memperkirakan proses ini akan memakan waktu sekitar empat minggu.
Tewasnya Khamenei Picu Balasan Iran
Serangan gabungan AS dan Israel sebelumnya telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, beserta sejumlah pejabat tinggi lainnya. Pasukan Iran membalas dengan meluncurkan rudal dan drone ke pangkalan militer AS dan target lain di seluruh Timur Tengah. Trump mendesak Iran untuk segera menghentikan serangan balasan. “Sekali lagi saya mendesak Garda Revolusi, militer, dan polisi Iran untuk meletakkan senjata. Ini akan menjadi kematian yang pasti. Ini tidak akan menyenangkan,” tegasnya.
Markas IRGC Hancur, Korban di Israel
Militer AS menyatakan telah menghancurkan markas besar Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). “AS memiliki militer terkuat di dunia dan IRGC tidak lagi memiliki markas besar,” kata Komando Pusat AS. Serangan balasan Iran juga menewaskan sedikitnya sembilan orang dan melukai puluhan lainnya di Beit Shemesh, Israel. Sirene berbunyi di Israel utara setelah proyektil dari Hizbullah terdeteksi sebagai respons atas kematian Khamenei.
Korban Sipil Iran dan Pemimpin Tewas
Sementara itu, media pemerintah Iran mengutip Bulan Sabit Merah, melaporkan sedikitnya 201 orang tewas dan lebih dari 700 lainnya luka-luka akibat serangan AS dan Israel di berbagai wilayah Iran. Serangan pembuka kampanye militer ini juga menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang memimpin negara tersebut selama 37 tahun.
Pemimpin Iran Janjikan Balasan Hebat
Pemimpin Iran yang masih hidup menegaskan bahwa serangan balasan merupakan hak sah untuk membela diri. Presiden Masoud Pezeshkian menyebut pembunuhan Khamenei sebagai deklarasi perang terhadap umat Muslim Iran: “Iran menganggap ini kewajiban dan haknya sah untuk membalas dendam terhadap para pelaku dan dalang kejahatan bersejarah ini.” Ali Larijani, kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, memperingatkan bahwa Iran akan menyerang dengan kekuatan yang belum pernah dialami sebelumnya.
Situasi yang Menandai Eskalasi Konflik
Situasi ini menandai eskalasi terbesar konflik antara AS-Israel dan Iran sejak awal ketegangan terbaru di Timur Tengah, dengan korban dari kedua pihak mulai berjatuhan.











