"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"
Bisnis  

Ini penjelasan GoTo mengenai investasi Google dan status Nadiem Makarim

Penjelasan Resmi Manajemen GoTo Mengenai Investasi Google dan Struktur Perusahaan

Manajemen PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) memberikan penjelasan resmi mengenai sejarah investasi Google, tata kelola perusahaan, serta informasi terkait kepemilikan saham pendiri Gojek, Nadiem Makarim. Penjelasan ini disampaikan dalam konteks proses hukum yang sedang berlangsung terkait Nadiem. Menurut manajemen, Nadiem telah melepaskan seluruh jabatannya di perseroan sejak 2019, ketika ia menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.

“Kami memilih momentum ini untuk menjelaskan perjalanan kami, dari perusahaan rintisan menjadi perusahaan teknologi besar,” ujar manajemen GoTo.

1. Investasi Google

Sejak didirikan pada 2010, GoTo yang awalnya dikenal sebagai Gojek mengalami pertumbuhan pesat dan menarik minat investor asing. Salah satu investor utama adalah Google, yang pertama kali berinvestasi di perseroan pada 2017. Sejak saat itu, Google terus berpartisipasi dalam beberapa putaran pendanaan bersama investor global lainnya.

Menurut manajemen GoTo, sebagian besar investasi Google dilakukan sebelum 2019, saat Nadiem belum menjabat sebagai menteri. Selain itu, investasi Google tidak pernah dilakukan secara terpisah atau eksklusif, melainkan selalu menjadi bagian dari putaran pendanaan bersama dengan investor lainnya.

“Google tidak pernah menjadi pemegang saham mayoritas maupun pengendali perseroan. Seperti halnya dengan semua investor lain, partisipasi Google dalam setiap putaran pendanaan dilakukan secara profesional dan transparan, tanpa perlakuan khusus serta sepenuhnya mematuhi hukum dan peraturan yang berlaku,” jelas manajemen GoTo.

Selain itu, setiap investor dalam setiap investasi selalu menyetujui dan menandatangani Perjanjian Pengambilbagian Saham (Shares Subscription Agreement). Hal ini sejalan dengan prosedur standar operasional (SOP) bagi perusahaan yang sedang melakukan penggalangan dana. Dana yang diperoleh dari investor digunakan semata-mata untuk pertumbuhan bisnis dan kebutuhan operasional.

2. Informasi Soal Share Buyback

Mengenai kepemilikan saham, manajemen GoTo menyatakan bahwa perusahaan tidak pernah membeli kembali saham sendiri (share buyback) dari Google. Namun, terdapat dua transaksi di mana GoTo melakukan pembelian saham perusahaan lain dari Google.

Pertama, pada Mei 2021, ketika Gojek dan Tokopedia bergabung menjadi GoTo, perseroan membeli saham Tokopedia dari Google yang merupakan salah satu pemegang saham Tokopeda. Proses serupa juga dilakukan antara perseroan dengan pemegang saham Tokopedia lainnya.

Kedua, pada Oktober 2021, perseroan membeli saham entitas teknologi keuangan milik sendiri, PT Dompet Karya Anak Bangsa (DKAB) dari beberapa investor, termasuk Google. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari restrukturisasi menjelang Penawaran Umum Perdana Saham (IPO).

“Dalam kedua transaksi tersebut, para investor memutuskan untuk menginvestasikan kembali dana yang diperoleh dengan membeli saham baru GoTo,” kata manajemen GoTo.

Selain itu, hubungan perseroan dengan Google telah terjalin sebelum adanya investasi karena perseroan menjadi pengguna layanan Google sejak 2015 melalui pembelian layanan infrastruktur komputasi awan (cloud), penggunaan layanan peta (maps), dan periklanan digital.

“Google adalah salah satu dari banyak penyedia solusi teknologi yang menyediakan layanan bagi kami, suatu praktik umum yang dilakukan perusahaan teknologi di Indonesia maupun di seluruh dunia. Kami membayar layanan tersebut menggunakan dana perseroan, dan semua transaksi dicatat sesuai dengan standar akuntansi keuangan Indonesia,” tambah manajemen GoTo.

3. Perubahan Struktur GoTo

Lebih lanjut, manajemen menjelaskan bahwa PT Gojek Indonesia (PT GI) didirikan pada 2010 sebagai entitas operasional awal Gojek, berbentuk Perusahaan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Saat itu, operasional PT GI sebagian besar didanai melalui penggalangan utang karena belum menghasilkan laba.

Pada 2015, bisnis tersebut berkembang melampaui model operasi call center awal menjadi bisnis teknologi melalui peluncuran aplikasi Gojek. Oleh karena itu, PT AKAB dibentuk sebagai entitas Perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) di tahun yang sama. PT AKAB menaungi aplikasi dan teknologi, sedangkan PT GI terus fokus dalam kegiatan yang mendukung operasional untuk mitra pengemudi.

Kemudian dalam rangka persiapan IPO pada 2021, PT AKAB perlu memperoleh kendali penuh atas PT GI yang masih menaungi beberapa operasional Gojek. Oleh karena itu, PT AKAB melakukan pengambil bagian atas saham baru yang diterbitkan oleh PT GI, bukan dengan membeli saham yang sudah dimiliki oleh pemegang saham yang ada.

Saat itu, PT GI telah mengakumulasi jumlah utang sebesar Rp809 miliar kepada PT AKAB guna membiayai operasionalnya. PT GI kemudian menggunakan dana hasil penerbitan saham baru untuk melunasi utang tersebut sepenuhnya.

“Tidak ada pemegang saham, termasuk Nadiem, yang menerima hasil dari transaksi tersebut. Seluruh transaksi terjadi hanya antara PT AKAB dan PT GI, dan dilakukan secara profesional serta transparan,” ujar manajemen GoTo.

Pada November 2021, nama PT AKAB diubah menjadi PT GoTo Gojek Tokopedia. Setelah IPO, status perseroan berubah dari PMA menjadi PMDN. Hal ini sudah sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Halwa Futuhan

Penulis yang rajin memberitakan kegiatan masyarakat lokal dan peristiwa lapangan. Ia gemar berkunjung ke pasar tradisional, memotret aktivitas warga, dan mencatat percakapan menarik. Hobinya termasuk mendengar musik tempo dulu. Motto: “Cerita kecil sering kali memiliki dampak besar.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *