"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"
Bisnis  

Dampak konflik Iran-AS, pasar saham Asia turun bersamaan

Pergerakan Pasar Saham Asia yang Mengalami Koreksi Tajam

Pergerakan pasar saham di kawasan Asia mengalami koreksi tajam akibat berbagai faktor yang memengaruhi sentimen investor. Salah satu penyebab utama adalah eksodus besar-besaran dari investor asing, serta kekhawatiran terhadap eskalasi konflik antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel. Hal ini memicu ketidakstabilan di pasar keuangan global.

Harga minyak mentah Brent melonjak sebesar 12 persen, mencapai Rp1,32 juta per barel. Sementara itu, harga gas di Eropa meroket hingga 65 persen dalam dua hari akibat serangan pada infrastruktur energi di wilayah Teluk. Kejadian ini menunjukkan bahwa konflik regional dapat memiliki dampak yang sangat luas terhadap stabilitas ekonomi global.

Investor mulai cemas akan kemungkinan inflasi yang persisten akibat kenaikan harga energi dalam jangka panjang. Hal ini juga menyebabkan penundaan rencana pemangkasan suku bunga oleh bank sentral dunia. Dampaknya terasa di berbagai pasar saham Asia, termasuk di Korea Selatan dan Jepang.

Bursa Saham Asia Kembali Terpuruk

Pada perdagangan Rabu (4/3/2026), bursa saham di kawasan Asia mengalami koreksi tajam. Indeks Kospi di Seoul menjadi salah satu yang paling terdampak dengan penurunan sebesar 4 persen. Penurunan ini memperparah tren bearish yang telah mencatatkan kerugian lebih dari 11 persen hanya dalam dua hari perdagangan terakhir.

Eksodus besar-besaran investor asing dari pasar Korea Selatan terjadi, terutama pada saham-saham produsen cip memori berbasis kecerdasan buatan (AI) yang sebelumnya sempat menguat tajam. Tekanan jual ini turut menyeret nilai tukar won ke level terendah dalam 17 tahun terakhir.

Di Jepang, indeks Nikkei melemah sebesar 2,5 persen, menandai kerugian selama tiga sesi berturut-turut. Sebagai negara importir energi utama, Jepang dan Korea Selatan sangat rentan terhadap fluktuasi harga komoditas global. Harga minyak mentah acuan Brent sendiri telah melonjak lebih dari 12 persen sepanjang pekan ini hingga mencapai angka $81,40 atau setara dengan Rp1,32 juta per barel.

Meski demikian, harga minyak mentah tersebut sempat sedikit melandai setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan jaminan asuransi pengiriman di wilayah Teluk dan menyatakan kesiapan angkatan laut untuk mengawal kapal tanker di Selat Hormuz jika situasi mendesak. Namun, situasi keamanan di Timur Tengah tetap memanas setelah pasukan AS dan Israel melakukan pemboman terhadap Iran selama empat hari terakhir.

Iran mengerahkan serangan pesawat nirawak atau drone dan rudal yang menyasar sejumlah kilang minyak di Teluk serta kompleks kedutaan besar AS di Arab Saudi dan Kuwait.

Pandangan Para Ahli tentang Situasi Pasar

Damien Boey, ahli strategi portofolio di Wilson Asset Management di Sydney, memberikan pandangannya terkait situasi ini. Ia menilai bahwa koreksi indeks saham Asia secara dalam merupakan respons investor yang mulai memperhitungkan skenario harga minyak yang akan tetap tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.

“Memang terlihat seperti konflik akan berlangsung sedikit lebih lama daripada yang orang pikirkan pada awalnya. Dan ada eskalasi, karena perang sekarang meluas hingga mencakup sekutu AS. Infrastruktur minyak tampaknya sedang diserang, sehingga orang harus memikirkan berapa lama hal itu akan berlangsung,” ungkap Boey.

Tanggapan juga diberikan oleh Chuck Carlson, CEO Horizon Investment Services di Hammond, Indiana, AS. Menurutnya, isu terbesar yang sedang dipertimbangkan investor kembali ke keterkaitan antara inflasi dan suku bunga. “Apakah harga energi akan tetap tinggi lebih lama daripada yang dipikirkan orang kemarin, dan kemudian apakah hal itu akan tersalurkan?” tanya Chuck.

Dampak Ekonomi di Eropa dan Pasar Komoditas

Dampak ekonomi juga terasa di daratan Eropa, di mana mata uang Euro merosot di bawah akibat prediksi bahwa kawasan tersebut akan menanggung beban biaya energi yang sangat besar. Harga gas acuan Eropa dilaporkan melonjak sekitar 65 persen hanya dalam kurun waktu dua hari.

Sementara itu, di pasar komoditas, harga emas turun sekitar 4,5 persen sementara dolar Australia melemah 0,8 persen karena para pelaku pasar memilih mencairkan keuntungan guna menutupi kerugian di sektor lain di tengah volatilitas pekan ini.

Pada awal sesi perdagangan Asia, emas mulai stabil di posisi $5.128 per ounce atau setara dengan Rp2,67 juta per gram. Sementara itu, bursa berjangka AS dan Eropa mencoba untuk bangkit, di mana futures S&P 500 bergerak datar dan futures Eropa tercatat naik 0,8 persen. Bursa Wall Street juga mengalami tekanan, dengan indeks S&P 500 ditutup melemah 0,8 persen.

Wahyudi

Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *