"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"
Bisnis  

Profil Djoko Susanto, Bos Alfamart yang Bisnisnya Terancam

Profil Djoko Susanto yang Kembali Menarik Perhatian

Di tengah wacana pembentukan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih sebagai ritel modern di setiap desa, profil Djoko Susanto kembali menjadi perhatian publik. Program ini bertujuan memperkuat ekonomi desa agar perputaran uang tetap berada di masyarakat setempat. Pemerintah bahkan berharap Kopdes bisa menjadi alternatif hingga pengganti minimarket berjejaring seperti Alfamart dan Indomaret di wilayah pedesaan.

Pemerintah daerah diminta untuk tidak lagi menerbitkan izin baru bagi minimarket modern di desa, meski gerai yang sudah beroperasi tetap diperbolehkan berjalan. Situasi ini secara tidak langsung menyorot sosok di balik jaringan ritel besar tersebut. Di tengah dinamika tersebut, profil Djoko Susanto kembali menjadi perhatian publik.

Latar Belakang dan Perjalanan Karier

Djoko Susanto lahir pada 9 Februari 1950 dari pasangan Kwok Man Toh dan Wong Sat Nyong, keluarga pedagang kelontong di pasar tradisional Jakarta. Sejak usia 17 tahun, ia sudah terlibat mengelola warung makan sederhana milik orang tuanya. Bahkan, ia sempat berhenti sekolah demi membantu usaha keluarga, pengalaman yang justru membentuk naluri bisnisnya.

Saat remaja, ia membuka kios rokok kecil di Pasar Arjuna, Jakarta. Ketekunannya menarik perhatian distributor besar rokok, termasuk pengusaha PT HM Sampoerna, Putera Sampoerna. Kerja sama strategis dengan Sampoerna menjadi titik balik penting dalam profil Djoko Susanto sebagai pebisnis ritel besar.

Awal Mula Alfamart dan Ekspansi Besar

Cikal bakal Alfamart dimulai pada 1989 melalui pendirian Alfa Toko Gudang Rabat (ATGR). Pada 1994, nama tersebut berubah menjadi Alfa Minimart, sebelum akhirnya dikenal luas sebagai Alfamart. Transformasi besar terjadi pada 1999 ketika gerai minimarket pertama dibuka di Karawaci, Tangerang, Banten, dengan konsep ritel modern yang menyediakan kebutuhan pokok dan harian masyarakat.

Bersama Grup Sampoerna, Djoko mendirikan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk sebagai pengelola jaringan Alfamart. Setelah Sampoerna menjual bisnis rokoknya ke Philip Morris pada awal 2000-an, Djoko mengambil langkah strategis dengan membeli kembali saham yang dimiliki Sampoerna sehingga menjadi pemegang saham mayoritas. Dari satu gerai pada akhir 1990-an, kini Alfamart menjelma menjadi jaringan ritel raksasa dengan lebih dari 17.000 gerai di Indonesia.

Bisnis dan Ekspansi Lainnya

Tak hanya fokus pada minimarket, profil Djoko Susanto juga mencakup ekspansi ke berbagai lini usaha. Ia mengembangkan Alfa Express, Alfamidi, hingga Lawson. Di sektor properti, ia memiliki divisi Alfaland yang mengoperasikan Omega Hotel Management di berbagai wilayah Indonesia.

Kehidupan Pribadi dan Kepedulian Sosial

Dalam kehidupan pribadi, Djoko Susanto menikah dengan Tan Lie Tjen atau Liliana Tanuwijaya dan dikaruniai lima anak, yaitu Hanto Djoko Susanto, Rita Djoko Susanto, Feny Djoko Susanto, Budiyanto Djoko Susanto, dan Harryanto Susanto. Kini, sebagian bisnis keluarga turut dijalankan oleh Feny dan Budiyanto, menandai regenerasi kepemimpinan di tubuh perusahaan.

Djoko Susanto juga menunjukkan kepeduliannya di bidang pendidikan. Pada 1986, ia mendirikan Yayasan Bunda Mulia yang mengelola institusi pendidikan setingkat sekolah dan universitas di Indonesia. Pada 2017, ia kembali membangun gedung kampus di Alam Sutera, Tangerang Selatan, sebagai bagian dari pengembangan pendidikan.

Kesimpulan

Itulah profil Djoko Susanto yang mencerminkan perjalanan panjang seorang pengusaha yang tumbuh dari pasar tradisional hingga menjadi raja ritel modern. Kisahnya memperlihatkan bagaimana pengalaman lapangan, strategi kemitraan, dan ekspansi terukur mampu mengantarkan seorang pedagang kecil menjadi salah satu tokoh bisnis paling berpengaruh di Indonesia.

Dian Sasmita

Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *