Pengertian Menstruasi dan Istihadhah
Menstruasi atau haid adalah darah yang keluar dari kemaluan seorang perempuan, saat usianya telah mencapai usia baligh. Darah menstruasi ini biasanya muncul dalam keadaan sehat, bukan karena penyakit, dan tidak terjadi saat melahirkan. Sementara itu, istihadhah adalah darah yang muncul atau keluar dari kemaluan wanita di luar masa menstruasi dan nifas. Penting untuk diketahui bahwa istihadhah tidak bisa dimasukkan dalam kategori menstruasi karena tidak memenuhi syarat-syarat haid.
Masa Keluar Darah Haid dan Istihadhah

Salah satu hal penting yang harus diketahui muslimah dalam menentukan masa haidnya adalah adah atau kebiasaan keluarnya darah. Dalam mahzab Syafi’i, siklus haid yang paling sedikit adalah sekitar 1-3 hari. Berdasarkan riset Imam Syafi’i, umumnya haid terjadi selama 6-7 hari. Masa maksimal seorang wanita haid adalah 15 hari 15 malam. Jika haid seseorang berlangsung selama 6 hari, maka sucinya adalah 24 hari. Jika haidnya 7 hari, maka sucinya 23 hari.
Apabila darah keluar lebih dari masa tersebut, maka darah itu bukanlah darah menstruasi, melainkan dihukumi darah istihadhah. Jika seorang perempuan haidnya datang enam hari di tiap awal bulan, lalu mengalami istihadhah terus menerus, maka ditetapkan enam hari awal tiap bulan adalah haid, sementara selebihnya adalah darah istihadhah. Oleh karena itu, penting bagi para muslimah termasuk Mama untuk selalu mencatat kapan ‘awal dan akhir’ keluarnya darah menstruasi, agar bisa membedakan antara darah menstruasi dan istihadhah.
Hadis yang Mengatur Keadaan Istihadhah

Islam juga mengatur ketentuan istihadhah bagi perempuan agar tidak meninggalkan ibadahnya. Dalam hadis Aisyah RA, Fathimah bintu Abi Hubaisy datang mengadu kepada Nabi Muhammad SAW, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku tidak suci maka apakah aku harus meninggalkan shalat?” Nabi menjawab, “Tidak, engkau tetap mengerjakan shalat. Itu hanyalah darah karena terputusnya urat. Apabila datang saat haidmu tinggalkanlah shalat dan bila telah berlalu hari-hari yang kau biasa haid, kemudian mandilah dan shalatlah.” (HR. Bukhari).
Ucapan Nabi SAW kepada Fathimah bint Abi Hubaisy juga menyebutkan: “Apabila darah itu darah haid maka dia berwarna hitam yang dikenal. Apabila demikian berhentilah dari shalat. Namun bila bukan demikian keadaannya berwudlulah dan shalatlah karena itu adalah darah penyakit.” (HR. Abu Daud, An Nasa’i, dan lain-lain. Dishahihkan oleh As Syaikh Al Albani rahimahullaah).
Karakteristik Darah Keduanya yang Terlihat Sama

Selain dilihat dari waktu kebiasaan keluarnya darah, untuk bisa membedakan antara darah haid dan istihadhah juga bisa Mama lihat berdasarkan karakteristik darah yang keluar. Beberapa di antaranya:
- Warna: Darah haid berwarna hitam, kemerahan bahkan sangat merah sehingga tampak hitam. Sedangkan warna darah istihadhah umumnya merah segar.
- Kelunakan: Darah haid sifatnya keras ketika dipegang, sementara darah istihadhah lunak saat dipegang.
- Kekentalan: Darah haid punya kekentalan yang khas, sedangkan darah istihadhah ketika keluar langsung mengental sebab berasal dari urat yang pecah.
- Bau: Darah haid umumnya berbau darah segar seperti besi dan tidak busuk, dan terkadang punya bau yang amis. Sementara darah istihadhah seperti bau darah biasa.
Hukum Melaksanakan Ibadah Puasa Saat Keluar Darah Istihadhah

Sebagian Mama tentu tak asing ya dengan kondisi di mana setelah haid selesai dan sudah melaksanakan mandi wajib, tiba-tiba masih ada darah yang keluar meskipun sedikit. Mama pun bingung, kira-kira apakah hal ini menunda kita untuk beribadah dan harus menunggu benar-benar bersih, atau justru ibadah saja?
Karena istihadhah bukan bagian dari menstruasi atau nifas yang tidak menentu kapan berakhirnya, maka muslimah yang sedang mengalami Istihadhah tetap diwajibkan untuk beribadah ya, Ma. Adapun ibadah yang wajib dilakukan dan tak boleh dilewatkan ini mulai dari salat, puasa, hingga membaca dan memegang Al-Quran. Selain itu, berbeda dengan masa menstruasi, bagi perempuan yang sedang dalam masa istihadhah diperbolehkan untuk berhubungan dengan suami, asal bukan dilakukan dalam kondisi berpuasa di siang hari.
Cara Melaksanakan Ibadah Puasa dan Salat Saat Istihadhah

Istihadhah bukan bagian dari darah nifas atau haid, maka wajib hukumnya untuk para muslimah- termasuk Mama menjalankan ibadah shalat dan puasa ya, Ma. Adapun di bulan Ramadan dan bulan-bulan lain, jika Mama ingin berpuasa namun dalam keadaan istihadhah, maka diwajibkan puasa ya, Ma.
Kemudian apabila ragu memutuskan darah haid atau istihadhah, maka Mama sebaiknya tetap berpuasa juga, dan kemudian mengganti puasa itu di luar Ramadan. Maka ibadahnya tetap sah dan masih bernilai pahala. Untuk tata cara salatnya sebagaimana salat pada umumnya ya, Ma. Akan tetapi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar salat menjadi sempurna, selagi Mama masih dalam masa istihadhah.
Dikutip dari laman NU Online sebagaimana dari Sayyid Abdurrahman bin Abdullah bin Abdul Qadir as-Saqaf dalam kitab al-Ibanah wal Ifadhah fi Ahkamil Haidh wan Nifas wal Istihadhah, ada lima hal yang harus dilakukan muslimah istihadhah saat mengerjakan salat, di antaranya:
- Membasuh kemaluannya sebelum mengerjakan salat
- Meyumbat atau menutup kemaluannya dengan kapas atau bisa juga dengan pembalut, apabila darah istihadhah keluar saat hendak mengerjakan salat
- Membalut kemaluannya setelah menyumbat dan menutupnya (langkah di nomor 2)
- Berwudhu setelah masuknya waktu salat.
Penting untuk diketahui, perempuan istihadhah tidak boleh wudhu sebelum masuknya waktu shalat, karena wudhu yang dilakukan saat istihadhah termasuk dari bagian bersuci yang dharurah atau darurat. Harus cepat-cepat tanpa jeda waktu yang panjang antara kewajiban pertama hingga kelima. Sehingga bisa Mama pahami, wajib ketika waktu shalat sudah masuk untuk segera membasuh kemaluan, kemudian menyumbat dan menutupnya, dilanjut membalut, setelah itu wudhu dan shalat.
Terakhir, wajib bagi perempuan istihadhah untuk selalu wudhu dalam setiap salat wajib. Sebab ia tidak bisa menggunakan wudhu untuk dua shalat wajib, meski wudhunya masih terjaga. Selain itu, wajib juga untuk kembali membasuh kemaluannya dan memperbarui pembalutnya (langkah 1-3).
Nah itulah beberapa pengertian dan perbedaan antara menstruasi atau haid dengan istihadhah yang wajib para muslimah ketahui. Agar ibadah wajib tetap terjaga, jangan lupa untuk terus pantau masa awal dan akhir haidnya ya, Ma. Semoga bermanfaat!











