"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Anak Tengah Sering Merasa Dihindari? Ini Fakta Mengenai Middle Child Syndrome

Apa Itu Middle Child Syndrome yang Sering Dialami Anak Tengah



Anak tengah seringkali menghadapi dinamika unik dalam keluarga. Banyak orang percaya bahwa anak kedua atau ketiga ini cenderung merasa kurang diperhatikan dibandingkan saudara-saudaranya. Namun, apakah perasaan ini selalu muncul atau hanya mitos belaka? Middle child syndrome adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perasaan seseorang yang lahir sebagai anak tengah dan merasa diabaikan karena posisi urutan kelahirannya.

Menurut penelitian seperti yang dipublikasikan oleh Sahal & Sharma (2025) dan Shahzad (2019), middle child syndrome merupakan keyakinan bahwa anak tengah sering merasa tidak mendapat perhatian yang cukup dibandingkan kakak atau adiknya. Perasaan ini bisa memicu keyakinan dalam diri mereka, “Aku harus kuat sendiri, karena jarang diperhatiin.”

Dalam praktiknya, anak tengah bisa mengalami berbagai gejolak emosi. Mereka mungkin merasa tidak dicintai dan tidak berharga, rendah diri, kurang yakin pada kemampuan diri, hingga cenderung memberontak atau justru menghindari konflik. Perasaan-perasaan ini muncul karena mereka merasa posisinya di tengah kurang spesial dibanding anak sulung atau bungsu.

Penyebab Anak Tengah Sering Merasa Diabaikan



Ada dua penyebab utama mengapa anak tengah bisa merasakan perasaan diabaikan dalam keluarganya. Pertama, kurangnya perhatian dari orangtua. Orangtua tanpa sadar lebih banyak memberikan perhatian lebih pada anak pertama dengan pengalaman baru atau anak bungsu yang paling membutuhkan bantuan. Akibat perlakuan yang tidak disadari oleh orangtua inilah, yang kemudian membuat anak tengah dianggap lebih mandiri dan justru luput dari perhatian.

Penyebab kedua adalah karena persepsi anak tentang interaksi orangtua. Meskipun middle child syndrome sendiri tidak selalu berasal dari perlakuan orangtua yang benar-benar membeda-bedakan, persepsi anak tentang bagaimana orangtua berinteraksi dengan saudaranya dibandingkan dengan dirinyalah yang berperan besar. Anak tengah mungkin merasa diperlakukan berbeda, meski kenyataannya belum tentu demikian.

Pandangan Para Ahli Mengenai Middle Child Syndrome



Tokoh psikologi Alfred Adler memang memperkenalkan gagasan bahwa urutan kelahiran bisa memengaruhi kepribadian seseorang. Namun, penelitian terkini juga banyak menyebutkan bahwa pengaruh urutan kelahiran tidak sesederhana itu. Dalam penelitian yang sama oleh Sahal & Sharma, ditegaskan bahwa justru ada faktor-faktor lain yang lebih besar perannya dalam membentuk kepribadian anak.

Pola asuh yang diterapkan orangtua, lingkungan sosial tempat anak tumbuh, pengalaman hidup yang mereka lalui, serta karakter bawaan sejak lahir memiliki kontribusi yang lebih signifikan. Faktor-faktor inilah yang membuat setiap anak, termasuk anak tengah, tumbuh dengan cerita dan kepribadiannya yang unik.

Sisi Positif Anak Tengah yang Sering Terlewatkan



Di balik perasaan diabaikan, anak tengah ternyata menyimpan banyak kelebihan yang patut diapresiasi. Terlepas dari urutan kelahirannya, anak tengah selalu punya caranya sendiri untuk bersinar. Lewat proses tumbuh yang mungkin terasa kurang diperhatikan, mereka justru belajar banyak hal berharga.

Para anak tengah ini sudah terbiasa belajar untuk mandiri karena tidak selalu mendapat bantuan instan. Selain itu, posisinya di tengah membuat mereka belajar menjadi pribadi yang peka dan mudah beradaptasi. Anak tengah juga terbiasa menjadi penengah atau penjaga keseimbangan dalam interaksi keluarga. Kemampuan ini seringkali menjadi bekal berharga saat mereka dewasa dalam membangun hubungan sosial.

Secara garis besar, middle child syndrome sendiri bisa dikatakan nyata maupun tidak. Namun yang terpenting, perasaan anak tengah tetaplah valid dan perlu didengar. Setiap anak, apa pun urutan kelahirannya, butuh kasih sayang dan perhatian yang sama dari orangtuanya. Dengan memahami perasaan mereka, Mama bisa membantu anak tengah tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan bahagia.

Hendra Susanto

Reporter online yang antusias menjelajahi isu terkini dengan pendekatan analitis. Ia suka membaca buku motivasi, mendengarkan musik akustik, dan membuat catatan ide. Menurutnya, menulis adalah proses belajar yang tak berakhir. Motto: "Setiap paragraf harus mengandung nilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *