Penjelajahan Realitas Sosial dalam Film “Ghost in the Cell”
Film terbaru Joko Anwar, Ghost in the Cell, mengajak penonton untuk mendalami realitas sosial yang tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga relevan secara global. Dari penyalahgunaan kekuasaan hingga korupsi, film ini menawarkan wawasan mendalam tentang berbagai isu yang sering kali diabaikan.
Masih 40 menit sebelum film dimulai, Bioskop Delphi Filmpalast Berlin sudah dipadati oleh penonton yang antre. Di barisan tersebut, terlihat beberapa orang Indonesia, meskipun lebih banyak penonton asing. Sebelum masuk ruang bioskop, Abimana Aryasatya, salah satu aktor dalam film tersebut, sempat berkata, “Memangnya mereka bisa mengerti ya? Candaan (di film ini)-kan Indonesia banget!”
Film Ghost in the Cell dengan durasi 106 menit ini penuh dengan candaan satir yang seolah menormalisasi situasi absurd. Seperti kata para pemain, “Ah…namanya juga di Indonesia…Bukan di Norway…” Namun, dalam sekejap, adegan penuh candaan bisa berubah menjadi drama aksi penuh ketegangan atau situasi horor yang mencekam.
Di akhir film, beberapa penonton asing menyatakan bahwa selain hantu yang digambarkan memiliki kemarahan besar akan ketidakadilan, mereka juga melihat ‘potret’ masalah sosial Indonesia yang juga terjadi di beberapa negara. Tampaknya Joko Anwar berhasil meramu permasalahan sosial dengan komedi, aksi, horor, misteri, hingga sedikit renungan psikologis.
Gebrakan Joko Anwar dalam Film
Menurut Plaion Pictures, film ini berhasil menghibur dan lucu, tetapi juga memiliki isu sosial politik yang relevan tidak hanya di Indonesia tapi juga dunia. Ghost in the Cell bercerita tentang penjara sebagai ‘miniatur of society’ (miniatur masyarakat), dengan adanya narapidana, polsuspas (polisi khusus pemasyarakatan), serta membahas penyalahgunaan kekuasaan. Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di tempat lain.
Mengapa Memilih Narasi Horor?
Joko Anwar memilih narasi horor karena Indonesia sangat percaya takhayul. Orang yang bisa melihat hantu bukan dianggap gangguan mental, tetapi dianggap jago. Bahasa horor penting dalam cinema karena membuat takut, yang bisa dipahami semua orang di seluruh dunia. Meski bentuknya berbeda, rasa takut adalah hal dasar yang sama di negara mana pun.
Komedi dalam film ini bertujuan untuk mengejutkan penonton. Seringkali kita sulit mengartikulasikan sesuatu, dan komedi membantu kita mengutarakannya. Komedi juga mengutarakan ketakutan. Harapan setelah tertawa, penonton pulang ke rumah dengan sesuatu yang ‘menempel’ di kepala untuk berefleksi.

Pembahasan Masalah Psikologis dalam Film
Selain horor, Joko Anwar sering membahas soal permasalahan psikologis, trauma masa kecil, bahkan kali ini inferiority complex (kondisi psikologis di mana seseorang merasa nilai dirinya lebih rendah dibandingkan orang lain atau rendah diri). Ia percaya bahwa trauma harus dibicarakan, terutama sebagai suatu bangsa, agar tidak mengulang kesalahan yang sama.
Beberapa insiden gelap dalam sejarah Indonesia, seperti tahun 1998, sebenarnya harus dibicarakan. Soal inferiority complex, Joko Anwar menyebut bahwa orang Indonesia memiliki tingkat inferiority complex yang tebal. Hal ini harus dibicarakan, karena kita merasakan ada loh, namanya “inferiority complex” dan kita harus melakukan sesuatu untuk mengurangi atau menghilangkannya.
Hantu dalam Film: Kekerasan Emosi
Hantu dalam film ini memiliki amarah yang begitu besar. Menurut Joko Anwar, jika kita tidak bisa mengartikulasikan perasaan kita, maka kita marah. Orang Indonesia masih kesulitan mengartikulasikan perasaannya karena kultur kita tidak untuk speak up (berbicara secara langsung). Sampai sekarang masih dibungkam.
Marah itu seperti bahasa yang umum. Di Indonesia, yang penting marah dulu. Ini bisa dikaitkan dengan inferiority complex—mendewakan orang asing tapi ke bangsa sendiri. Marah seharusnya tidak jadi satu-satunya cara kita keluarkan saat berkomunikasi dengan orang lain. Ada banyak cara lain, seperti seni, untuk open sub our mind.

Keberanian dalam Membuat Film
Saat diinterview oleh Berlinale, Joko Anwar bilang bahwa film membutuhkan lebih banyak keberanian dan mendobrak batasan. Namun, bagaimana melakukannya di tengah represi? Ia menjelaskan bahwa mundurkan batasannya, mainkan dengan cerdas jangan sampai batasannya hancur. Bisa sedikit ‘dicolek’, bayangkan sedang bermain permainan yang sulit. Kita harus tahu bagaimana memainkannya. Lakukan terus. Biar ranah bermainnya lebih luas lagi.
Pengaruh Alfred Adler dan Pertanyaan Tentang Peran Perempuan
Sepertinya Joko Anwar itu berani terus orangnya, apa ada pengaruh Alfred Adler? Ia menjawab bahwa ia tidak (selalu) berani. Pernah ada masa-masa ia banyak pertanyaan soal hidup seperti “kenapa sih aku dilahirkan” dan “tatanan-tatanan masyarakat yang harus diikuti”. Soren Kirkegaard-lah yang ‘menyelamatkan hidup aku’, lewat bukunya Either Or-nya ia paham kalau pertanyaan-pertanyaan itu valid dan seseorang tidak bisa fully content (sepenuhnya puas). Jadi ya itu ingatlah Soren Kirkegaard — it is okay.
Mengenai peran perempuan dalam film, Joko Anwar menjelaskan bahwa nanti kalau laku, mereka akan membuat versi penjara perempuan.

Industri Perfilman Indonesia dan Softpower
Berhasil sampai Berlinale, apa berarti industri perfilman kita sudah naik kelas? Joko Anwar menjelaskan bahwa film horor Indonesia sudah menjadi ciri khas di sinema global. Kita dikenal dari film horor. Bahkan mencapai ‘golden age’ di tahun 80-an itu karena film horor. Sekarang, untuk tahu film Indonesia lewat film horor. Film horor kita selalu berkelas.
Tahun 2000-an mungkin beberapa PH menggunakan film horor untuk membuat film yang murahan atau seksi. Tapi sekarang selama satu dekade terakhir sudah kembali. Film horor Indonesia sudah dikerjakan sangat serius.
Apakah ada bantuan dari Pemerintah untuk menjadi film horor Indonesia sebagai softpower? Joko Anwar menjelaskan bahwa Pemerintah sudah ada gesture seperti Indonesiana dan bantuan lain. Tapi itu masih sporadis, belum ada kebijakan jangka panjang. Harus duduk bareng, sektor pendidikan, pemerintah, para pemangku kebijakan, dan produser.
Film horor sangat punya potensi tinggi untuk jadi softpower kita di dunia.
Seorang penulis berita online yang mengutamakan kecepatan dan ketelitian dalam menyampaikan informasi terkini kepada pembaca. Aktif mengikuti perkembangan isu sosial dan digital. Memiliki hobi membaca artikel sejarah, bersepeda pagi, serta memotret momen sederhana yang menarik. Baginya, proses menulis adalah ruang untuk melihat dunia lebih dekat. Motto hidupnya: "Informasi yang jujur adalah fondasi kepercayaan."











