Teror terhadap Mahasiswa Pengkritik MBG adalah Serangan Nyata terhadap Kebebasan Akademik
Ketua BEM Universitas Gadjah Mada, Tiyo Ardianto, mengungkapkan bahwa rangkaian intimidasi yang dialaminya muncul setelah BEM UGM menyampaikan kritik terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG). Intimidasi ini berkembang menjadi fitnah digital yang masif, termasuk tuduhan LGBT, rekayasa gambar berbasis AI, hingga tudingan manipulasi dana KIP Kuliah. Tiyo menegaskan bahwa BEM UGM tidak akan berhenti mengawal isu publik dan justru meningkatkan solidaritas serta kewaspadaan menghadapi intimidasi.
Ruang akademik yang seharusnya menjadi benteng kebebasan berpikir kembali diguncang. Kali ini, sorotan tertuju pada Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada, Tiyo Ardianto, yang mengaku menjadi sasaran teror berlapis usai menyuarakan kritik tajam terhadap kebijakan negara. Bukan hanya dirinya yang terdampak, tetapi juga keluarga di desa hingga puluhan pengurus BEM UGM.
Kesaksian itu ia sampaikan dalam diskusi media yang digelar Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA) bertajuk “Teror terhadap Mahasiswa Pengkritik MBG adalah Serangan Nyata terhadap Kebebasan Akademik!” pada Selasa (17/2/2026). Forum tersebut menjadi ruang pengakuan terbuka atas apa yang ia sebut sebagai serangan sistematis terhadap kebebasan akademik.
Dari Mimbar Diskusi ke Pusaran Ancaman
Bagi Tiyo, gelombang intimidasi tidak hadir secara tiba-tiba. Ia meyakini teror itu berkelindan erat dengan sikap kritis BEM UGM terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintahan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka. Dalam diskusi tersebut, Tiyo kembali menegaskan posisi kritis organisasinya terhadap MBG yang dinilainya gagal menjawab persoalan mendasar bangsa.
“Ketika masalah kebangsaan kita adalah kebodohan dan akses pendidikan yang minim, justru direduksi solusinya pada MBG (Makan Bergizi Gratis) yang sebenarnya tidak bergizi dan juga tidak gratis. Dan justru malah menjadi lahan korupsi yang luar biasa basah, sehingga lebih layak kita sebut sebagai ‘maling berkedok gizi’,” ujarnya.
Anggaran Raksasa dan Luka Kemanusiaan
Kritik itu, menurut Tiyo, semakin menyayat ketika realitas sosial dipertemukan dengan kebijakan anggaran negara. Ia menyinggung kisah tragis seorang anak di Ngada, Nusa Tenggara Timur.
“Seorang anak di Ngada, NTT, yang memutuskan untuk bunuh diri hanya karena gagal membeli pena dan buku seharga Rp 10.000. Luar biasa kontras dan tragis saya kira, ketika kekuasaan hari ini menggelontorkan luar biasa banyak uang untuk MBG, Rp 1,2 triliun setiap hari atau Rp 335 triliun setiap tahun, sambil merampas anggaran pendidikan Rp 223 triliun,”
Bagi Tiyo, ironi tersebut memperlihatkan jurang ketimpangan antara kebijakan negara dan kebutuhan riil masyarakat.
Teror dari Nomor Asing dan Tuduhan Agen Luar
Tak lama setelah kritik itu bergema di ruang publik, ancaman mulai berdatangan. Tiyo menyebut, teror pertama kali muncul pada 9 Februari 2026, melalui pesan dari nomor asing.
“Rasanya kritik-kritik inilah yang kemudian mengantarkan kepada kami, mulai tanggal 9 Februari, ada teror yang beruntun dari nomor-nomor yang tidak dikenal dengan kontak Inggris Raya. Jadi bukan +62 tapi +44. Nadanya sejak awal adalah ancaman dan tuduhan bahwa kami adalah agen asing. Mereka juga mengancam penculikan,”
Ancaman personal itu kemudian merembet ke serangan digital yang lebih masif.
Fitnah Digital dan Pembunuhan Karakter
Media sosial berubah menjadi arena pembantaian reputasi. Tiyo dituduh terlibat praktik asusila hingga korupsi dana kemahasiswaan. Bahkan, ia mengaku menerima konten fitnah secara langsung.
“Bahkan mereka juga membuat konten yang kemudian dikirimkan ke saya dalam bentuk gambar ‘Awas LGBT di UGM’ dengan foto saya,”
Ia menegaskan bahwa narasi tersebut sepenuhnya palsu dan menjijikkan.
“Mohon maaf saya terangkan di sini. Saya memang tidak punya kekasih, saya tidak punya cewek atau pacar. Tapi bukan karena saya tidak punya pacar, lalu bisa seenaknya di-framing seperti itu. Tidak hanya itu, di media-media juga muncul konten-konten sekaligus narasi yang luar biasa menghancurkan karakter. Yang pertama tadi, soal LGBT, yang bagi saya ini sangat menjijikkan.”
Bahkan, teknologi kecerdasan buatan digunakan untuk merekayasa citranya.
“Bahkan ada konten pembunuhan karakter yang foto saya itu di-generate by Artificial Intelligence dengan tulisan bahwa Tio ini adalah langganan, Tiyo ini suka menyewa LC karaoke. Lalu kita ini kalau boleh jujur sebagai anak muda tidak punya kecakapan untuk berkomunikasi secara asmara romantis kepada perempuan karena memang lahirnya di desa dan terbiasa pada keluguan-keluguan begitu, apalagi LC,”

Tuduhan KIP Kuliah dan Bantahan Tegas
Tak berhenti di ranah moral, Tiyo juga diseret dalam tuduhan manipulasi dana Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah.
“Narasi bahwa saya sebagai Ketua BEM UGM itu melakukan manipulasi keuangan, terutama dalam konteks Kartu Indonesia Pintar Kuliah. Ada yang menyebut bahwa Ketua BEM UGM punya relasi kuasa yang memungkinkan dari rekomendasi dia, itu ada orang-orang yang kemudian mendapatkan KIP. Dan dari orang-orang yang mendapatkan KIP itu, mereka punya kewajiban nyetor ke saya. Kira-kira gitu narasinya,”
Ia membantah tuduhan tersebut tanpa ragu.
“Saya katakan ke beberapa orang bahwa kalau benar Tiyo Ardianto ini melakukan penggelapan dana, sudah barang pasti saya sudah diberhentikan dan tidak lagi menjadi Ketua BEM UGM,”
Negara yang Tak Kunjung Hadir
Menutup kesaksiannya, Tiyo menanggapi pernyataan Menteri HAM Natalius Pigai dengan nada kritis.
“Mohon maaf, Mas/Pak Natalius Pigai, saya ini enggak perlu tahu siapa yang melakukan teror. Yang dibutuhkan oleh publik adalah jaminan bahwa ketika menghadapi teror, negara itu hadir di sana. Negara tidak boleh hadir sebagai teror itu sendiri. Tidak boleh sebagai orang yang mengklarifikasi bahwa mereka tidak melakukan teror. Kan yang terjadi justru semacam paranoia dari rezim, bahwa seolah-olah kita itu menduga mereka yang melakukannya,”
Ia menegaskan bahwa hingga kini negara belum menunjukkan keberpihakan pada korban.
“Saya fokus bahwa sampai hari ini negara, melalui seluruh lembaganya, tidak hadir di dalam teror yang dialami oleh tidak hanya saya, tetapi juga orang tua dan lebih dari 20 pengurus BEM UGM. Rangkaian teror yang kami terima ini bagi kami adalah bentuk dari kepengecutan rezim hari ini.”
Namun, perlawanan tidak akan berhenti.
“Pada prinsipnya, saya menyampaikan ke publik bahwa BEM UGM akan menggagalkan teror ini dengan cara tidak gentar, tidak takut, dan tidak berhenti melihat persoalan publik ini sebagai persoalan yang harus selalu untuk dikawal. Sehingga ke depan, tidak akan ada yang berbeda dari BEM UGM, siapa pun ketuanya nanti. Bahwa kemudian ada solidaritas yang lebih dan kewaspadaan yang lebih, itu adalah cara kami belajar. Tapi jangan bayangkan gara-gara teror ini kami kemudian berhenti,” pungkasnya.
Seorang jurnalis online yang gemar membahas tren baru dan peristiwa cepat. Ia menyukai fotografi jalanan, nonton dokumenter, dan mendengar musik jazz sebagai relaksasi. Menulis baginya adalah cara memahami arah dunia. Motto hidupnya: "Setiap berita harus memberi manfaat, bukan sekadar informasi."











