"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Kisah Tersembunyi di Balik Disertasi Bupati Maros: Telepon Dirut Bank Selamatkan Opu Muetazim

Latar Belakang dan Pemikiran tentang Ilmu Hukum dan Politik

Ilmu hukum dan ilmu politik memiliki hubungan yang erat, seolah-olah keduanya adalah dua sisi dari sebuah mata uang. Namun, keduanya hanya akan bermanfaat ketika diterapkan untuk menciptakan kesejahteraan dan keadilan bagi masyarakat luas.

“Politik bukan sekadar ruang kekuasaan. Politik adalah ruang moral untuk menguji nurani pemimpin. Akhirnya, politik menjadi tempat di mana integritas hukum dan moral diuji,” kata promovendus Dr Andi Syafril Chaidir Syam (49) dalam pidato pengukuhan gelar doktor ilmu politik di kampus Universitas Hasanuddin, Kota Makassar, Rabu (11/2/2026) siang.

Chaidir, yang merupakan Bupati Maros dua periode, mempertahankan disertasi politik praktisnya dengan judul: “Partai Politik dalam Perspektif Demokrasi; Studi Fenomenologi Calon Tunggal di Pilkada Maros”.

Kondisi Pilkada Maros 2024

Menjadi petahana sekaligus calon bupati adalah hal yang umum dalam arena politik lokal Indonesia. Namun, menjadi petahana dan juga calon bupati dengan gelar doktor hukum, serta menjadikan pengalaman itu sebagai bahan disertasi doktor ilmu politik, mungkin hanya bisa dilakukan oleh Sekretaris DPW PAN Sulsel ini.

Chaidir adalah aktivis ormas Islam, politisi, dan pemimpin birokrat yang ingin menjadi akademisi. Tujuan dari disertasinya adalah untuk meneliti fenomena politik yang terjadi selama Pilkada Maros 2024.

Pada saat itu, Wakil Bupati Suhartina Bohari (45) dinyatakan tidak dapat ikut pilkada karena tersandung kasus amphetamine oleh Badan Narkotika Nasional (BNN). Hal ini membuat proses pilkada tertunda hingga 2027 jika salah satu dari 16 partai politik pengusung tidak merestui.

Drama Politik Lokal

Pilkada langsung serentak di Maros menjadi pertaruhan sejarah politik demokrasi Indonesia. Tidak pernah ada negara di dunia ini yang menggelar pemilu lokal serentak di 640 pilkada daerah. Dari jumlah tersebut, 37 pemilu provinsi, 93 kota, dan 415 kabupaten.

Dalam konteks ini, Pilkada ‘Kotak Kosong’ Maros menjadi satu-satunya di Sulsel. Sebelum drama zat amphetamine BNN mendera Suhartina, ratusan elite dan simpatisan 16 partai pengusung sudah mengantar paket incumbent Chaidir Syam dan Suhartina Bohari mendaftar di KPU Maros, Rabu (28/8/2024).

Namun, pada Jumat (20/8/2024), channel YouTube resmi BNN Sulsel menyatakan bahwa salah satu dari 140 calon kepala daerah yang menjalani tes urine positif amphetamine. Dan, salah satu itu adalah Suhartina Bohari.

Pengambilan Keputusan dan Perjalanan Politik

Hasil tes tersebut memicu spekulasi politik. Untuk meredamnya, BNN melakukan tiga kali uji sampel, tetapi hasilnya tetap positif. “Hasil pengecekan tersebut bisa membedakan antara penggunaan obat biasa atau narkotika,” kata Kepala BNN.

Ketika hasil itu diumumkan, ruang integritas sekaligus pengalaman politik Chaidir diuji. Ia harus mencari pengganti Suhartina, yang seharusnya mudah dilakukan seperti undian arisan. Namun, obstacle-keputusan saat itu justru meredam hasrat kekuasaan dan politisi 15 partai lain di luar PAN.

Langkah dan Pertemuan Penting

Langkah pertama Chaidir adalah menenangkan elite 15 parpol pengusung lain. Berkejaran dengan waktu, akhirnya, ia berkonsultasi dengan Ketua DPW PAN Sulsel Ashabul Kahfi (63). Hasilnya, ia harus menemui Yandri Susanto (51) (Wakil Ketua DPP PAN bidang organisasi dan kader).

Sabtu (21/9/2024), malam terbanglah Chaidir ke rumah Yandri di Serang, Banten. Di masa itulah, muncul seorang yang mengingatkannya untuk menunaikan shalat hajat dan istikharah. “Jujur, saya lebih tenang saat itu.”

Yandri mengusulkan pengganti calon bupati dari birokrat lokal. Di saat bersamaan, Chaidir juga harus meyakinkan elite parpol lain di level provinsi dan nasional untuk sabar menunggu ikhtiar politiknya.

Proses Pemilihan dan Tantangan

Di kepala Chaidir muncul empat nama. Pertama; Sekda Maros Andi Davied Syamsuddin. Kedua, Kepala Dinas Kesehatan Dr Muh Yunus. Ketiga, Direktur RSUD La Palaloi, Sry Syamsinar, dan terakhir Kepala Dinas Pekerjaan Umum Muetazim Mansyur.

Satu per satu, Chaidir menelepon keempat bawahannya. “Keputusan harus malam ini.” Keempatnya, lalu meminta waktu untuk konsultasi dengan keluarga lebih dulu.

Hasilnya, tiga calon awal menolak. Alasannya karier dan jaminan kehidupan pascalima tahun pemerintahan. Hanya satu menerima, Muetazim Mansyur. Namun dramanya, belum berhenti. Saat Muetazim sudah siap, tetiba istrinya menelepon dan menyampaikan kabar lebih menegangkan.

Pemilihan Pasangan dan Tantangan Baru

Pasangan ini kemudian menghadapi fenomena kolom kosong yang tak benar-benar kosong. Dalam penelitiannya, Chaidir mengkaji secara sosiologis dukungan terhadap kolom kosong yang muncul pada Pilkada Maros 2024.

“Kami meneliti fenomena kolom kosong, yang sebenarnya berisi. Bahkan kami melihat secara visual, spanduk kolom kosong terlihat lebih besar dibandingkan calon tunggal,” ungkapnya.

Menurutnya, fenomena tersebut menjadi indikator penting dalam membaca kualitas demokrasi lokal, baik secara prosedural maupun substansial. Berbagai upaya dilakukan pasangan Chaidir-Muetazim untuk memantapkan visi misi dan membangun kembali kepercayaan masyarakat di tengah menguatnya dukungan terhadap kolom kosong.

Hasilnya, pasangan ini memenangkan Pilkada Maros 2024 dengan perolehan 64,01 persen suara, sementara kolom kosong meraih 35,99 persen. Meski menang, Chaidir mengakui Pilkada dengan calon tunggal berdampak pada tingkat partisipasi pemilih yang berada di kisaran 69,62 persen.

Fenomena tersebut, kata dia, menjadi bahan refleksi akademik untuk memperkuat kualitas demokrasi di tingkat lokal ke depan.

Faiqa Amalia

Jurnalis yang fokus pada isu pendidikan, karier, dan pengembangan diri. Ia suka membaca buku motivasi, mengikuti seminar online, dan menulis rangkuman belajar. Hobinya adalah minum teh sambil menenangkan pikiran. Motto: “Pengetahuan harus dibagikan, bukan disimpan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *