Dukungan SBY Kepada Pemerintahan Prabowo dan Isu Kader Partai Demokrat
Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menyatakan dukungan penuh terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto selama dua periode. Pernyataan ini menarik perhatian publik karena SBY tidak secara eksplisit menyebutkan dukungannya kepada Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Ketidakhadiran nama Gibran dalam pernyataan SBY memicu asumsi bahwa SBY atau Partai Demokrat sedang mempersiapkan kader sendiri untuk menggantikan Gibran sebagai Wakil Presiden. Namun, Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat, Afriansyah Noor, membantah asumsi tersebut.
Afriansyah Noor mendatangi kediaman Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), di Kota Solo, Jawa Tengah pada Minggu (8/2/2026). Ia menjelaskan bahwa kunjungannya itu tidak terkait dengan dukungan politik SBY atau Partai Demokrat. Menurutnya, pertemuan tersebut bersifat spontan dan hanya sebatas silaturahmi pribadi.
Meski begitu, Afriansyah tidak menyangkal adanya pertanyaan tentang alasan SBY tidak menyebut nama Gibran dalam dukungannya. Ia mengatakan bahwa dirinya tidak ingin terlalu banyak mencampuri urusan partai. “Saya bukan kapasitas sebagai orang yang mengambil keputusan,” ujarnya dikutip dari tayangan Kompas TV.
Terkait apakah SBY hanya mendukung Prabowo tanpa satu paket dengan Gibran, Afriansyah tidak memberikan jawaban yang jelas. Ia hanya menegaskan bahwa dirinya akan menjalankan tugas yang diberikan hingga periode 2029.
SBY Menegaskan Komitmennya
Sebelumnya, SBY telah menegaskan komitmennya untuk mengawal dan mendukung keberhasilan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Pernyataan ini disampaikan dalam acara Yudhoyono Dialog Forum yang digelar di Museum dan Galeri SBY-Ani di Pacitan, Jawa Timur pada Jumat (4/2/2026).
Dalam kesempatan tersebut, SBY menyebut bahwa mendukung kesuksesan kepemimpinan nasional adalah tanggung jawab kebangsaan demi kepentingan seluruh rakyat. Ia juga memberikan penutup dengan komitmennya mendukung sepenuhnya pemerintahan Prabowo.
“Closing remarks saya harus menyampaikan bahwa saya mendukung Presiden Prabowo. Saya memberikan endorsement kepada Pak Prabowo. My classmate pada pemilu tahun 2024 yang lalu. Saya bahkan ikut berkampanye. Mengapa? Dan saya tetap memberikan pandangan-pandangan yang jernih kepada beliau hingga saat ini karena kita ingin presiden kita sukses,” tegas SBY.
Pertemuan Afriansyah dengan Jokowi
Di tengah dukungan SBY kepada Prabowo, Wasekjen Partai Demokrat Afriansyah Noor menyita perhatian publik saat mendatangi kediaman Jokowi di Solo pada Minggu (8/2/2026). Mantan kader Partai Bulan Bintang ini menyebut pertemuan tidak membahas soal politik.
Kunjungannya pun spontan tanpa ada arahan dari petinggi partai. “Sebagai yang pernah menjadi anak buah Pak Jokowi di periode 2022-2024, saya kebetulan sampai di Solo, saya teleponlah ajudan Pak Syarif agar bisa saya bersilaturahmi dengan Pak Jokowi sebagai mantan atasan saya, ya kan,” katanya.
[NAMA GAMBAR: ]
Afriansyah mengaku tidak meminta waktu atau lapor ke SBY sebelum bertemu Jokowi. Hal itu dilakukan spontan saat dia tiba di Solo, setelah menghadiri acara di Pacitan. “Karena memang spontan saya menghubungi Pak Syarif itu ketika saya sampai di Solo. Nah, saya habis ee berkunjung ee ke salah satu SPPG yang ada di Kota Solo bersama Walikota Solo begitu,” ujarnya.
Partai Demokrat Menjauhi Isu Ijazah Jokowi
Afriansyah juga menegaskan posisi Partai Demokrat yang tidak memiliki keterkaitan apa pun dengan polemik ijazah Jokowi yang belakangan mencuat ke ruang publik. Menurutnya, isu tersebut sama sekali tidak dibahas dalam pertemuan dengan Jokowi.
“Kalau soal ijazah, saya tidak bersinggungan sama sekali karena saya tahu persis. Menurut keyakinan saya, Pak Jokowi selama berproses dalam politik hingga menjadi presiden sudah melalui tahapan-tahapan yang sah,” ujar Afriansyah.
Ia menambahkan bahwa Jokowi memahami sepenuhnya sikap Demokrat yang konsisten menjauh dari isu-isu fitnah dan tudingan tanpa dasar. “Demokrat sangat tidak mungkin membuat fitnah atau menuduh. Itu bukan wataknya Pak SBY (Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono), bukan wataknya Mas AHY (Ketua Umum DPP Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono), dan juga bukan wataknya Partai Demokrat,” tegasnya.
Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."











