"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"
Bisnis  

Emiten Ritel ERAA, MAPI Siap Manfaatkan Berkah Imlek dan Ramadan 2026

Momentum Tahun Baru Imlek dan Ramadan 2026 Berpotensi Meningkatkan Kinerja Sektor Ritel

Perayaan Tahun Baru Imlek dan Ramadan yang jatuh pada tahun 2026 dinilai sebagai katalis musiman yang berpotensi mengerek performa sektor ritel. Secara historis, kedua momentum tersebut sering kali memicu peningkatan perputaran uang dan mendorong kinerja sektor berbasis konsumsi, termasuk ritel, di tengah dinamika daya beli masyarakat yang masih fluktuatif.

Equity Analyst PT Indopremier Sekuritas Hari Rachmansyah menilai bahwa sektor consumer staples, khususnya makanan dan minuman (F&B), menjadi salah satu penerima manfaat utama dari momentum ini. Permintaan bahan pangan untuk jamuan makan keluarga, seperti ayam, telur, dan beras, cenderung meningkat signifikan menjelang perayaan Imlek. Selain itu, sektor ritel modern juga berpeluang mencatatkan pertumbuhan penjualan seiring kuatnya budaya pemberian hadiah serta belanja pakaian baru.

“Di tengah narasi pelemahan daya beli, sejumlah indikator menunjukkan konsumsi domestik masih relatif bertahan. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Desember 2025 tercatat di level 123,5, menandakan masyarakat masih berada dalam zona optimistis,” ujarnya, Senin (9/2/2026).

Meski pertumbuhan kredit konsumsi melambat ke level 6,58%, dia menilai belanja pemerintah yang mencapai Rp335 triliun untuk program makanan bergizi gratis (MBG) menjadi bantalan permintaan domestik agar tidak tertekan terlalu dalam. Peran fiskal tersebut dinilai memberi kepastian tambahan bagi sektor berbasis konsumsi sepanjang awal 2026.

Dalam memanfaatkan momentum musiman ini, Hari menyarankan investor tetap selektif mengingat volatilitas pasar yang masih tinggi. Strategi utama meliputi pemilihan emiten dengan fundamental dan valuasi yang solid, termasuk memperhatikan skor ESG guna meminimalkan risiko non-keuangan. Likuiditas saham juga menjadi faktor krusial, terutama saham berkapitalisasi besar dengan volume transaksi tinggi atau yang masuk dalam indeks global.

Dari sisi teknikal, pendekatan buy on weakness pada saham-saham blue chip dinilai tetap relevan untuk menangkap peluang kenaikan musiman tanpa mengabaikan manajemen risiko.

Proyeksi Kinerja Sektor Ritel Menjelang Ramadan

Sejalan dengan pandangan tersebut, Retail Research Analyst BNI Sekuritas Muhammad Lutfi Permana menilai sektor ritel menjadi salah satu sektor paling menarik dicermati menjelang Ramadan. Dia memproyeksikan kinerja sektor ritel akan lebih agresif pada kuartal IV/2025 dengan pertumbuhan penjualan sekitar 16% secara tahunan, meningkat signifikan dibandingkan kuartal sebelumnya.

Lonjakan ini ditopang oleh meningkatnya trafik pengunjung pusat perbelanjaan serta membaiknya indeks penjualan ritel. “Katalis jangka pendek dinilai cukup solid, didukung oleh faktor musiman seperti libur akhir tahun Nataru yang kemudian berlanjut pada kuartal I/2026, peningkatan likuiditas, serta harapan membaiknya daya beli masyarakat,” ujarnya.

Lutfi menyebut peluncuran iPhone menjadi katalis penting bagi kinerja PT Erajaya Swasembada Tbk. (ERAA), yang mencatatkan pertumbuhan penjualan sekitar 20% secara tahunan. Selain itu, PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk. (MAPA) dan PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) juga turut menikmati momentum libur akhir tahun dengan pertumbuhan penjualan dua digit.

Di sisi lain, beberapa emiten ritel masih tertinggal akibat efek basis tinggi dari promosi besar pada periode sebelumnya. Meski margin kotor ritel turun tipis akibat faktor musiman dan perubahan bauran produk, stabilnya biaya operasional membuat laba bersih sektor ini justru diperkirakan melonjak hingga 35% secara tahunan.

“ERAA dan MAPA berpeluang mencatatkan kinerja di atas ekspektasi atau outperform, sementara MAPI cenderung sejalan dengan proyeksi pasar,” katanya.

Efek Bola Salju dari Imlek dan Ramadan

Momentum perayaan Imlek dan Ramadan yang berdekatan pada awal 2026 tersebut dinilai mampu menciptakan efek bola salju bagi konsumsi domestik. Head of Research PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi memperkirakan sektor yang paling diuntungkan meliputi ritel fesyen dan gadget, barang konsumsi makanan dan minuman, hingga industri unggas.

Dua perayaan besar yang jatuh berdekatan diperkirakan mendorong lonjakan permintaan secara beruntun sehingga berdampak positif pada kinerja penjualan emiten sejak awal tahun. Secara historis, terdapat tiga momentum utama pendorong penjualan sektor konsumsi, yakni Imlek, Lebaran, dan Natal/Tahun Baru (Nataru). Namun, pada tahun ini, kombinasi Imlek dan Lebaran yang berdekatan dinilai memberikan dampak yang lebih signifikan, terutama terhadap kinerja kuartal I yang biasanya cenderung lebih sepi.

“Dampaknya cukup besar karena dua momen belanja utama terjadi hampir bersamaan. Ini bisa membuat kuartal I yang biasanya relatif lemah justru menjadi lebih solid,” ujarnya, Senin (9/2/2026).

Sentimen konsumsi dinilai tetap kuat meskipun tekanan inflasi masih membayangi. Pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) menjadi bantalan penting bagi daya beli masyarakat. Selain itu, pola konsumsi selama hari raya bersifat inelastis atau wajib, sehingga belanja kebutuhan pokok maupun produk gaya hidup relatif tetap terjaga dari sisi volume.

Dengan prospek tersebut, investor disarankan menerapkan strategi akumulasi saham sektor konsumsi sebelum puncak perayaan. Beberapa saham ritel yang dinilai menarik antara lain PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) pada level Rp2.100, PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk. (ACES) pada level Rp600, serta PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk. (RALS) pada level RP580.

Senada, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai dua momen besar yang berdekatan membuat dinamika konsumsi masyarakat menjadi lebih optimal karena siklus belanja berlangsung tanpa jeda panjang. “Kinerja penjualan biasanya meningkat di periode Ramadan dan Lebaran. Apalagi ketika digabung dengan Imlek, potensi kenaikannya bisa lebih besar karena konsumsi masyarakat menjadi lebih aktif,” ujarnya.

Di tengah kondisi daya beli yang fluktuatif, sektor konsumsi dinilai tetap resilien. Belanja kebutuhan pokok dan produk terkait hari raya masih berjalan, sehingga menopang kinerja emiten secara keseluruhan. Dari sisi strategi investasi, pelaku pasar disarankan lebih selektif dengan fokus pada emiten yang berada pada level valuasi menarik, mulai menunjukkan pembalikan tren, serta memiliki fundamental yang solid.

Saat ini, sebagian besar saham konsumsi masih berada dalam fase akumulasi. Hanya beberapa saham tertentu yang mulai memperlihatkan potensi tren naik, sementara mayoritas lainnya masih bergerak terbatas dan membutuhkan katalis tambahan untuk menguat lebih lanjut. Dia merekomendasikan saham PT Matahari Department Store Tbk. (LPPF) dengan target harga Rp1.995 dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) dengan target harga Rp2.020.

Askanah Ratifah

Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *