"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Minggu Kesadaran CHD 2026, Perki Sulteng Lakukan Skrining Jantung Bawaan Dini

Kegiatan Skrining Jantung Bawaan untuk Anak Sekolah Dasar di Palu

Dalam rangka memperingati Congenital Heart Defect (CHD) Awareness Week 2026, Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (Perki) Sulawesi Tengah menggelar kegiatan skrining dini penyakit jantung bawaan bagi anak-anak usia sekolah dasar. Kegiatan ini berlangsung di SD IT Bina Insan, Jl Agatis, Kelurahan Nunu, Kecamatan Tatanga, Kota Palu, pada Jumat (6/2/2026). Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk mendeteksi potensi kelainan jantung sejak dini agar bisa ditangani lebih cepat dan mencegah kondisi yang lebih parah di masa depan.

Pemeriksaan dimulai dengan pendataan awal berupa pengukuran tinggi badan, berat badan, serta tekanan darah. Selanjutnya, siswa menjalani pemeriksaan puls oksimetri, rekaman Elektrokardiogram (EKG), hingga ekokardiografi (Echo). EKG digunakan untuk merekam aktivitas listrik jantung guna mendeteksi gangguan irama, sedangkan Echo merupakan pemeriksaan USG jantung untuk melihat struktur fisik, otot, katup, serta fungsi pompa darah secara langsung.

Banyak reaksi yang terlihat dari anak-anak saat menjalani skrining. Sebagian terlihat tegang dan cemas, sementara lainnya tetap bercanda bersama teman-temannya sambil menunggu giliran diperiksa.

Koordinator kegiatan skrining penyakit jantung bawaan, dr Julia Sari, menyebutkan bahwa jumlah peserta mencapai sekitar 120 siswa. Awalnya, hanya ada 107 siswa yang terdaftar, namun kemudian ada tambahan daftar susulan dari pihak sekolah.

“Jika dalam pemeriksaan ditemukan indikasi kelainan jantung, kami akan langsung melakukan rujukan ke rumah sakit yang memiliki layanan dokter jantung anak,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa tindak lanjutnya akan dirujuk ke rumah sakit seperti RSUD Undata, RSUD Anutapura, dan RS Sis Al Jufri. Di sana akan dilakukan penanganan lanjutan, baik melalui obat-obatan maupun tindakan intervensi atau operasi sesuai kebutuhan.

Menurut dr Julia, kegiatan skrining ini merupakan bagian dari program nasional Persatuan Dokter Jantung Indonesia yang rutin dilaksanakan setiap tahun. Ia menuturkan bahwa penyakit jantung bawaan sering kali tidak terdeteksi karena minim gejala pada tahap awal. “Banyak anak datang sudah dalam kondisi berat. Padahal kesempatan orang tua membawa anak ke rumah sakit cukup terbatas, apalagi biaya pemeriksaan seperti EKG dan ekokardiografi tergolong mahal,” tuturnya.

Karena itu, Perki Sulteng melakukan pendekatan jemput bola dengan turun langsung ke sekolah-sekolah. Khusus di Sulawesi Tengah, jumlah kasus kelainan jantung tergolong cukup tinggi. “Hampir setiap bulan ditemukan dua sampai tiga kasus baru. Dalam satu tahun terakhir, data yang saya miliki sudah hampir 200-an kasus, termasuk penyakit jantung bawaan berat, kelainan katup jantung akibat infeksi, serta penyakit jantung reumatik,” ungkapnya.

Namun, dari ratusan kasus tersebut, baru sekitar lima persen yang mendapatkan penanganan lanjutan berupa operasi atau tindakan penutupan transkateter. Ke depan, Perki Sulteng berencana menggelar kegiatan proktorship dengan menghadirkan tim dokter dari Jakarta untuk melakukan tindakan intervensi non-bedah di Sulawesi Tengah. “Kami berharap anak-anak tidak perlu lagi dirujuk ke luar daerah. Insya Allah kegiatan ini akan kami adakan setiap tahun,” katanya.

Dalam kegiatan ini, Perki Sulteng melibatkan tenaga kesehatan dari sejumlah rumah sakit di Kota Palu, di antaranya RSUD Anutapura Palu, RSUD Madani, RS Sis Al Jufri Palu, serta RSUD Undata. Mahasiswa Kedokteran Universitas Alkhairaat Palu juga turut membantu pemeriksaan awal.

Sementara itu, Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, Reny A Lamadjido, turut hadir meninjau langsung jalannya skrining. Ia memberikan apresiasi atas inisiatif para tenaga medis yang melaksanakan pemeriksaan dini bagi anak-anak. “Kegiatan ini sangat penting untuk mendeteksi sejak awal apakah anak-anak memiliki kelainan jantung bawaan atau tidak. Ini merupakan langkah besar dalam upaya pencegahan,” ujar Reny.

Ia menambahkan, skrining jantung tidak sulit dilakukan selama ada persetujuan dari orang tua. “Selama orang tua mengizinkan, pemeriksaan bisa terus dilakukan. Ini sangat penting untuk kesehatan anak-anak kita,” katanya. Reny juga menyebut kegiatan tersebut sejalan dengan program kesehatan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah. “Saya ingin anak-anak berani untuk sehat, berani menjalani pemeriksaan, dan tidak perlu takut. Jika penyakit ditemukan sejak awal, penanganannya akan jauh lebih baik,” tutupnya.

Askanah Ratifah

Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *