Korban Keracunan Soto MBG di Kabupaten Muaro Jambi
Di Kecamatan Sekernan, Kabupaten Muaro Jambi, ratusan warga mengalami keracunan setelah mengonsumsi soto menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Salah satu korban adalah Ibu Rika, yang juga ikut terkena dampak dari makanan tersebut. Aroma soto yang seharusnya menarik selera justru menjadi awal petaka bagi banyak orang.
Pada hari Jumat (30/1/2026), sebanyak 145 orang dari berbagai kelompok usia, termasuk siswa taman kanak-kanak, sekolah dasar, dan guru, harus mendapatkan penanganan medis setelah menyantap menu soto MBG. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ahmad Ripin Sengeti penuh dengan pasien yang terbaring lemas. Hingga kemarin, sebagian dari mereka masih menjalani perawatan intensif.
Gejala yang dirasakan oleh para korban hampir seragam; perut mulas, muntah, diare, pusing, hingga tubuh terasa lemah. Tak hanya siswa, orang tua murid juga ikut merasakan dampaknya. Ibu Rika, salah satu orang tua murid SD Negeri 118 Desa Pematang Pulai, mengaku mengonsumsi makanan MBG yang dibawa pulang anak kerabatnya.
Ibu Rika mengatakan bahwa saat mencoba makan soto tersebut, ia merasakan kejanggalan sejak suapan pertama. Meski awalnya tidak merasakan gejala berat, beberapa jam kemudian, tubuhnya mulai terasa lemas dan muntah-muntah sepanjang malam.
“Kuahnya rasanya beda, tahunya seperti sudah lama, ayamnya juga aneh,” kata Rika, mengingat-ingat rasa makanan yang belakangan diyakini jadi penyebab tubuhnya lemas dan muntah-muntah sepanjang malam.
Banyak orang tua murid lainnya juga memberikan kesaksian serupa. Beberapa mengaku anak-anaknya memilih tidak menghabiskan makanan karena mencium bau tak sedap dari lauk. Ada pula yang menyimpan kecurigaan sejak awal, namun tak menyangka dampaknya akan sebesar ini.
Respons Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi
Pemkab Muaro Jambi merespons cepat terhadap kejadian ini. Operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sengeti disetop sambil menunggu hasil investigasi dan uji laboratorium sampel makanan. Dengan demikian, proses distribusi makanan MBG sementara waktu dihentikan untuk memastikan keamanannya.
Dalam wawancara dengan Jurnalis Tribun Jambi, Rifani Halim, Ibu Rika menceritakan pengalamannya:
Tribun Jambi:
Assalamualaikum, Tribuners. Saat ini saya berada di SD Negeri 118 Desa Pematang Pulai, Kecamatan Sekernan, Kabupaten Muaro Jambi.
Saya bersama salah satu orang tua siswa yang juga ikut mengonsumsi makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Bisa diperkenalkan namanya, Bu?
Ibu Rika:
Waalaikumsalam. Nama saya Rika.
Tribun Jambi:
Ibu adalah orang tua murid di sini?
Ibu Rika:
Iya, saya orang tua murid. Tapi kebetulan anak saya tidak sekolah hari Jumat kemarin.
Tribun Jambi:
Jadi siapa yang mengonsumsi makanan MBG tersebut?
Ibu Rika:
Saya yang makan. Anak saya tidak sekolah, jadi saya jemput keponakan.
MBG itu dibawa ke rumah, keponakan saya tidak mau makan, jadi saya yang makan. Sayang kalau dibuang.
Tribun Jambi:
Bagaimana rasa dan kondisi makanan MBG yang Ibu makan?
Ibu Rika:
Kuah sotonya rasanya agak beda dari soto-soto yang biasa saya masak di rumah. Tahunya juga beda.
Kalau tahu biasanya agak cokelat, ini kelihatan seperti tahu yang sudah beberapa hari, seperti digoreng dua kali. Ayamnya juga ada rasa yang aneh.
Tribun Jambi:
Kapan Ibu mulai merasakan gejala?
Ibu Rika:
Awalnya siang saya belum merasa apa-apa. Tapi setelah dengar ada anak-anak yang keracunan, saya minum air asam.
Malamnya sekitar jam 10 lewat, perut saya mulai mulas, pusing, badan terasa aneh.
Tribun Jambi:
Apa saja gejala yang Ibu alami?
Ibu Rika:
Perut mulas, mau BAB tapi tidak bisa, kepala pusing, badan terasa lemas. Dikerik juga tidak terasa. Lalu saya muntah-muntah. Itu terjadi malam hari. Besok paginya badan masih lemas.
Tribun Jambi:
Apakah Ibu sempat dibawa ke rumah sakit?
Ibu Rika:
Tidak. Saya tidak sampai ke rumah sakit. Saya hanya beli obat sendiri.
Tribun Jambi:
Bagaimana kondisi Ibu sekarang?
Ibu Rika:
Alhamdulillah sudah membaik.
Tribun Jambi:
Apakah Ibu mengetahui kondisi anak-anak lain yang juga keracunan?
Ibu Rika:
Sebagian masih lemas dan belum masuk sekolah. Ada yang diare, ada yang muntah-muntah.
Bahkan ada yang parah sampai mulutnya berbusa dan dibawa ke rumah sakit di Jambi.
Tribun Jambi:
Menurut Ibu, apakah menu berkuah seperti soto ini berisiko?
Ibu Rika:
Iya, menurut saya agak rentan. Apalagi kalau berkuah atau bersantan, cepat basi. Kita tidak tahu proses masaknya sampai jam berapa.
Tribun Jambi:
Selama ini apakah pernah menemukan makanan MBG yang mencurigakan?
Ibu Rika:
Pernah. Anak-anak kadang mengadu, makanannya tidak dimakan dan dibawa pulang. Saya cek, ayamnya agak berbau.
Pernah juga sayurnya ada kejadian tidak layak.
Tribun Jambi:
Apakah hal tersebut pernah disampaikan ke pihak sekolah?
Ibu Rika:
Sudah pernah. Biasanya disuruh ditulis di ompreng.
Tapi kami orang tua juga takut kalau harus terlalu banyak protes.
Tribun Jambi:
Setelah kejadian ini, apakah Ibu masih mengizinkan anak mengonsumsi MBG?
Ibu Rika:
Kalau bisa, jangan dulu. Saya takut kejadian seperti ini terulang.
Programnya sebenarnya bagus, tapi yang utama itu kesehatan anak. Jangan sampai kejadian kemarin terjadi lagi.
Tribun Jambi:
Baik, terima kasih Ibu Rika atas ceritanya. Semoga Ibu dan anak-anak segera sehat kembali.
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”











