Menteri Pertahanan Arab Saudi Memperingatkan Risiko Kekuatan Iran
Menteri Pertahanan Arab Saudi, Pangeran Khalid bin Salman, memberikan peringatan penting mengenai risiko yang bisa terjadi jika Presiden Amerika Serikat Donald Trump tidak segera menindaklanjuti ancamannya terhadap Iran. Menurutnya, ketidakpastian dalam tindakan AS dapat memperkuat posisi rezim Iran dan membuat mereka semakin berani.
Meski AS telah meningkatkan kehadiran militer di kawasan Timur Tengah, Gedung Putih tetap menyatakan bahwa mereka masih membuka peluang untuk solusi diplomatik. Namun, hingga saat ini belum ada negosiasi konkret yang dilakukan. Hal ini menciptakan ketegangan di kalangan negara-negara Teluk, yang khawatir eskalasi peringatan Trump justru akan membuat serangan terhadap Iran semakin sulit dihindari.
Beberapa sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut mengatakan kepada Axios bahwa sikap ragu-ragu AS bisa membuat Iran semakin percaya diri. Sebelumnya, Arab Saudi sempat memperingatkan agar ketegangan dengan Iran tidak ditingkatkan. Sikap ini disebut menjadi salah satu faktor yang membuat Trump menunda rencana serangan militer terhadap Iran.
Pangeran Khalid bin Salman, yang merupakan adik kandung Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) dan orang kepercayaannya, sedang berada di Washington untuk membahas langkah-langkah yang harus diambil terhadap Iran. Dalam kunjungan tersebut, ia bertemu dengan 15 pakar dari think tank Timur Tengah serta perwakilan dari lima organisasi Yahudi. Pertemuan ini membahas tentang eskalasi ketegangan regional dan kemungkinan respons terhadap Iran.
Di sisi lain, Iran telah memperingatkan bahwa setiap tindakan militer terhadap negaranya akan dibalas dengan respons yang belum pernah terjadi sebelumnya. Axios melaporkan bahwa pada Kamis, Pangeran Khalid juga mengadakan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Utusan Gedung Putih Steve Witkoff, serta Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine.
Meskipun Trump telah memerintahkan pengerahan besar-besaran kekuatan militer AS di Timur Tengah, pejabat Gedung Putih mengatakan kepada Axios bahwa keputusan akhir belum diambil. Mereka mengklaim masih terbuka untuk solusi diplomatik, meskipun hingga kini belum ada negosiasi yang benar-benar berlangsung.
“Iran selalu ingin membuat kesepakatan. Tapi masalahnya adalah, kesepakatan seperti apa yang ingin dibuat,” ujar seorang pejabat Teluk kepada Axios. “Kesepakatan seperti apa yang diinginkan Iran dan kesepakatan apa yang bisa diterima Amerika Serikat? Itu pertanyaan besar, dan saat ini kami belum melihat titik temu,” tambahnya.
Dalam percakapan terpisah, Putra Mahkota Mohammed bin Salman disebut telah menyampaikan kepada Presiden Iran bahwa Arab Saudi tidak akan mengizinkan Amerika Serikat menggunakan wilayah udarinya untuk menyerang Iran. Sementara itu, negara-negara lain di kawasan seperti Qatar dan Oman dilaporkan tengah berupaya keras meredam Gedung Putih agar tidak melancarkan serangan terhadap Iran.
Namun, menurut tiga sumber yang mengetahui diskusi antara pemerintahan AS dan mitra Teluk, Gedung Putih belum memberikan jaminan konkret bahwa mereka akan mengikuti saran negara-negara kawasan. Sebaliknya, peringatan publik Trump yang semakin keras, ditambah dengan terus mengalirnya kapal perang dan aset udara AS ke kawasan Teluk, justru mempersempit pilihan presiden sendiri.
Kondisi ini memicu keyakinan yang kian menguat di kalangan pejabat regional bahwa suatu bentuk serangan terhadap Iran semakin sulit dihindari. Pada Kamis, Trump mengatakan kepada CBS News bahwa ia telah melakukan pembicaraan dengan Iran dalam beberapa hari terakhir dan berencana melanjutkannya.
“Kami memiliki kapal-kapal yang sangat besar dan sangat kuat yang sedang berlayar menuju Iran sekarang. Akan sangat baik jika kami tidak perlu menggunakannya,” ujar Trump. Trump juga mengungkapkan dua pesan utama yang ia sampaikan kepada Iran.
“Pertama, tidak ada nuklir. Kedua, hentikan pembunuhan terhadap para demonstran,” katanya. Pada Jumat, Trump kembali mengatakan kepada wartawan bahwa Iran ingin “membuat kesepakatan”.
“Mudah-mudahan kami bisa membuat kesepakatan. Jika kami membuat kesepakatan, itu bagus. Jika tidak, kita akan lihat apa yang terjadi,” pungkasnya.
Seorang penulis berita online yang mengutamakan kecepatan dan ketelitian dalam menyampaikan informasi terkini kepada pembaca. Aktif mengikuti perkembangan isu sosial dan digital. Memiliki hobi membaca artikel sejarah, bersepeda pagi, serta memotret momen sederhana yang menarik. Baginya, proses menulis adalah ruang untuk melihat dunia lebih dekat. Motto hidupnya: "Informasi yang jujur adalah fondasi kepercayaan."











