Tantangan Sumpah Pocong dari Pensiunan Jenderal Polisi terhadap Roy Suryo
Pensiunan jenderal polisi, Siswandi, menantang Roy Suryo untuk melakukan sumpah pocong terkait tudingan ijazah palsu yang diajukan terhadap Presiden Joko Widodo. Ia juga menyatakan kesiapan untuk mendanai seluruh keperluan dalam ritual tersebut.
Siswandi, yang dikenal sebagai mantan perwira tinggi di korps Bhayangkara, mengajak Roy Suryo untuk memilih jalur kearifan lokal yang memiliki konsekuensi spiritual berat. Tradisi sumpah pocong biasanya digunakan dalam masyarakat Jawa yang beragama Islam sebagai cara membuktikan kebenaran atas suatu tuduhan. Caranya dengan membungkus diri dengan kain kafan seperti jenazah dan bersumpah dengan keyakinan adanya hukuman atau laknat dari Tuhan jika berbohong.
Tradisi ini sering kali menjadi solusi untuk menyelesaikan sengketa, krisis kecurigaan, atau ketidakpercayaan antara dua pihak. Siswandi meyakini bahwa sumpah pocong adalah cara paling jujur untuk mengakhiri kegaduhan di ruang publik. Ia bahkan menyatakan kesiapannya untuk mendanai seluruh keperluan pelaksanaan ritual tersebut jika Roy Suryo berani menerima tantangannya.
“Berani enggak, ayo Mas Roy sumpah pocong. Anda kan hebat, keras ngelawan. Saya akan datang kalau Anda sumpah pocong,” ujar Siswandi dalam pernyataannya. “Saya akan nyumbang anggaran secukupnya untuk melaksanakan sumpah pocong.”
Hingga saat ini, pihak Roy Suryo belum memberikan tanggapan resmi terkait tantangan dari jenderal purnawirawan tersebut. Siswandi juga meragukan kapasitas Roy Suryo dalam menilai keabsahan dokumen pendidikan sang mantan Presiden. Menurutnya, mustahil bagi seseorang untuk memvonis sebuah dokumen sebagai barang palsu jika yang bersangkutan belum pernah melihat atau memegang fisik aslinya secara langsung.
“Ngelihat, megang aja belum kok sudah bilang palsu. Apa hebatnya dia,” sindir Siswandi dalam tayangan di kanal YouTube Rasis Infotainment. Ia menekankan bahwa dalam dunia hukum maupun pembuktian ilmiah, beban pembuktian ada pada penuduh.
Dalam pernyataannya, Siswandi juga mengingatkan bahwa pihak Universitas Gadjah Mada telah memberikan klarifikasi resmi terkait keaslian ijazah Jokowi. Rektor UGM, Prof Ova Emilia, disebut telah memastikan dokumen akademik tersebut sah. “Rektor yang mengeluarkan aja bilang asli. Anda nggak ada urusannya bilang palsu. Apa kapabilitas anda?” tanyanya.
Menutup pernyataannya, Siswandi menyarankan Roy Suryo untuk lebih banyak melakukan refleksi spiritual agar mendapat ketenangan dan kejernihan berpikir. “Saya sarankan Anda salat tahajud agar dikasih pencerahan. Salat tobat, salat tahajud silakan,” pungkasnya.
Latar Belakang Sosok Siswandi
Siswandi bukanlah orang sembarangan. Ia memiliki rekam jejak panjang di korps Bhayangkara hingga dunia sosial dan hukum pasca-pensiun. Lahir di Medan pada 5 Juli 1959, karier Siswandi mulai bersinar saat menjabat sebagai Kapolres Cirebon Kota pada medio 2002 hingga 2004. Kedekatannya dengan masyarakat dan jurnalis di Cirebon membuat namanya tetap harum hingga dua dekade setelah ia meninggalkan kota tersebut.
Karier kepolisiannya terus menanjak saat ia dipromosikan ke Bagian Narkoba Bareskrim Polri. Prestasi puncaknya di bidang ini tercatat saat ia ditunjuk sebagai Direktur Pertama Badan Narkotika Nasional (BNN). Pengalaman ini membentuk karakternya yang tegas namun tetap humanis.
Memasuki masa purna tugas, Siswandi tidak memilih untuk berdiam diri. Semangatnya melawan narkoba diwujudkan dengan mendirikan GPAN (Generasi Peduli Anti Narkoba). Selain itu, ia juga aktif di ormas Keluarga Besar Putra Putri Polri (KBPP Polri) dan menyalurkan hobi seninya melalui Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI).
Tak hanya aktif di kegiatan sosial, Siswandi kini juga merambah dunia hukum secara profesional. Ia tercatat sebagai pendiri Jagratara Merah Putih Law Firm dan tergabung dalam organisasi advokat ternama, Kongres Advokat Indonesia (KAI).
Peran Roy Suryo dalam Polemik Ijazah Jokowi
Isu dugaan ijazah palsu Jokowi telah mencuat sejak 2022 dan terus menjadi perdebatan publik. Meski demikian, Jokowi dan pihak kampus berulang kali menegaskan bahwa ijazah tersebut asli dan dikeluarkan secara sah oleh Universitas Gadjah Mada.
Sebelumnya, mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI, Roy Suryo, melakukan aksi pamer kaos bertuliskan ‘budrek’. Kata budrek merupakan bahasa Jawa yang berarti pusing, sakit kepala, atau bingung. Tak cuma tulisan, kaosnya juga bergambar obat pereda sakit kepala, demam, dan nyeri yang populer di kalangan masyarakat.
Bukan kali pertama, Roy menunjukkan kaos budrek-nya. Di kesempatan sebelumnya, dia juga memperlihatkan kaos tersebut saat konferensi pers menanggapi pelimpahan berkas perkara ke Kejaksaan Tinggi pada Kamis (15/1/2026). Roy mempersepsikan kondisi orang-orang di luar yang saat ini mengamati polemik ijazah Jokowi. Menurut dia, polemik ijazah Jokowi sudah makin membingungkan terlebih setelah munculnya surat perintah penghentian penyidikan (SP3) untuk Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis.
“Silakan orang-orang pusing, budrek ya yang melihat ini,” kata Roy sambil membuka jaket dan memperlihatkan kaos budrek. Pendukung Roy yang ikut membersamai pemeriksaan tersangka kasus ijazah Jokowi ikut tertawa lepas.











