"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"
Bisnis  

Vale (INCO) Buka Alasan Fokus Ekspansi Smelter Nikel HPAL



CO.ID – JAKARTA

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) memilih untuk fokus pada ekspansi smelter atau pabrik pemurnian nikel dengan teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL) dibandingkan dengan smelter jenis Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF). Teknologi HPAL adalah proses hidrometalurgi yang menggunakan sistem kimia dengan bahan dasar asam sulfat. Sementara itu, RKEF dikenal sebagai teknologi pemurnian yang sangat intensif energi, karena membutuhkan konsumsi listrik dan batubara yang tinggi untuk melebur bijih nikel laterit menjadi feronikel.

Presiden Direktur Vale Indonesia Bernardus Irmanto menyampaikan bahwa saat ini ada tiga proyek yang sedang dibangun oleh Vale, dan ketiganya menggunakan teknologi HPAL. Menurutnya, HPAL lebih mengandalkan proses kimia, sehingga kebutuhan energinya tidak sebesar RKEF.

Bernardus menjelaskan salah satu proyek HPAL INCO di Pomalaa, Sulawesi Tenggara, yang memiliki kapasitas 120.000 metrik ton nikel per tahun dalam bentuk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), dengan target produksi pada Agustus tahun ini. Ia menambahkan bahwa kebutuhan energi untuk proyek tersebut sekitar 100 megawatt.

Untuk memenuhi kebutuhan energi tersebut, INCO akan memanfaatkan tiga Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang telah dimiliki, yaitu PLTA Larona dengan kapasitas 165 MW, PLTA Balambano dengan kapasitas 110 MW, dan PLTA Karebbe berkapasitas 90 MW. Dengan sumber daya energi yang murah dan biaya kurang dari 2 sen per kWh, INCO mendapatkan keuntungan signifikan dibandingkan pelaku industri lain yang mungkin menggunakan sumber energi yang lebih mahal.

Selain itu, karena karakteristik HPAL yang lebih menekankan proses kimiawi dengan bahan inti asam sulfat, INCO juga akan membangun pabrik acid plant sendiri. Acid plant merupakan unit pendukung utama dalam pabrik pengolahan nikel laterit yang bertugas memproduksi asam sulfat untuk melarutkan nikel.

Tekan Emisi

Dengan pembangunan acid plant, Bernardus menyatakan bahwa INCO dapat menekan emisi dengan cara menangkap panas dari proses yang terjadi, serta energi panas tersebut dapat disalurkan kepada pabrik HPAL. Ia menjelaskan bahwa saat membakar sulfur, panas yang dihasilkan dapat ditangkap dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi HPAL.

Dalam perhitungan Vale, untuk kapasitas 120.000 metrik ton nikel per tahun diperlukan setidaknya 4 acid plant. Setiap acid plant dapat memproduksi sekitar 22,5 megawatt listrik sebagai produk sampingan. Dengan demikian, total energi yang dihasilkan dari 4 acid plant mencapai 90 hingga 95 megawatt, sehingga hanya membutuhkan tambahan energi sebesar 5 hingga 10 megawatt.

Selain proyek di Pomalaa, INCO juga sedang menggarap proyek HPAL kedua, yaitu IGP Morowali di Bahodopi. Proyek ini bekerja sama dengan perusahaan China, GEM, dan perusahaan Korea Selatan, Ecopro. Target operasi proyek ini adalah kuartal keempat tahun 2026. Smelter HPAL Bahodopi akan dipasok dari tambang yang memproduksi 5,5 juta ton nikel saprolite dan 10,4 juta ton nikel limonite per tahun, dengan target produksi smelter mencapai 66.000 ton MHP per tahun.

Proyek HPAL ketiga INCO adalah IGP Sorowako Limonite yang juga mencakup tambang, bekerja sama dengan perusahaan asal China Zhejiang Huayou Cobalt. Proyek baru ini diharapkan berjalan pada tahun 2027 mendatang.

Hartono Hamid

Penulis berita yang aktif menggali cerita dari sudut pandang humanis. Ia senang mengamati kebiasaan masyarakat dan perubahan kultur digital. Hobinya termasuk membuat catatan refleksi, menonton film, dan mengikuti kelas online. Motto: "Menulis adalah jembatan antara fakta dan empati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *