Kritik terhadap Proyek Era Ridwan Kamil di Sumedang
Proyek-proyek besar yang dibangun pada masa kepemimpinan Ridwan Kamil sebagai Gubernur Jawa Barat kini menjadi sorotan tajam. Beberapa bangunan ikonik di Sumedang, seperti Masjid Al-Kamil dan Gedung Kreatif, dinilai tidak mampu memenuhi harapan awal saat peresmian. Pengamat menilai proyek-proyek ini terlalu fokus pada sisi artistik atau “mercusuar” tanpa memperhatikan konsep keberlanjutan.
Kritik dari Pengamat
Nandang Suherman, pengamat dari Perkumpulan Inisiatif Bandung, menegaskan bahwa kritik publik seharusnya difokuskan pada pertanggungjawaban kebijakan pembangunan, bukan pada urusan personal Ridwan Kamil. Menurutnya, era RK cenderung fokus pada pembangunan fisik yang artistik, sedangkan era KDM lebih mengutamakan pembenahan jalan.
Beberapa bangunan dengan pendekatan arsitektural yang menonjol di Sumedang meliputi:
- Masjid Raya Al-Kamil (Kawasan Jatigede)
- Menara Kujang Sapasang
- Gedung Kreatif (Sumedang Kota)
- Geotheater (Rancakalong)
Masjid Al-Kamil dan Kujang Sapasang: Ambisi Menyaingi Menara Eiffel?
Sorotan paling tajam diarahkan ke kawasan Jatigede. Bangunan Masjid Al-Kamil dan Menara Kujang Sapasang yang dibangun dengan anggaran besar disebut-sebut sempat memiliki ambisi untuk menyaingi pamor Menara Eiffel di Paris. Namun, realita di lapangan justru berbanding terbalik. Nandang mengungkapkan laporan dari warga yang menunaikan salat di sana hanya menemukan jemaah yang tidak sampai satu saf penuh.
“Katanya pamornya bisa menyaingi Menara Eiffel. Tapi itu tidak akan pernah terwujud kalau tidak diusahakan dan dihidupkan. Gedung-gedung itu kini hampir menjadi artefak,” tegasnya.
Gedung Kreatif yang ‘Menyedihkan’
Tak hanya di Jatigede, Gedung Kreatif yang saat pembukaannya sangat meriah kini kondisinya dinilai memprihatinkan. Nandang menilai bangunan tersebut tidak lagi mencerminkan semangat kreativitas yang diusung di awal. “Waktu pembukaan sangat meriah, tapi sekarang kondisinya menyedihkan. Proyek ini bukan lahir dari kehendak masyarakat, melainkan kehendak pejabat,” tambahnya.
Tanggung Jawab Moral Anggaran Publik
Karena proyek-proyek ini dibiayai menggunakan anggaran daerah (APBD), Nandang mengingatkan pemerintah untuk tidak lepas tangan. Ia meminta adanya evaluasi dan langkah nyata untuk menghidupkan kembali fungsi bangunan-bangunan tersebut agar manfaatnya kembali ke rakyat.
“Jangan mudah lupa. Itu duit rakyat. Saya meminta pertanggungjawabannya, bagaimana cara menghidupkan bangunan-bangunan itu,” pungkas Nandang.
Penjelasan Bupati Sumedang
Pemerintah Kabupaten Sumedang membantah anggapan bahwa sejumlah bangunan ikonik yang dibangun pada era Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (RK) kini terbengkalai dan nirguna (tidak dimanfaatkan). Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir menilai penilaian tersebut tidak menggambarkan kondisi terkini di lapangan.
Bantahan itu disampaikan menyusul pengamatan Anggota Perkumpulan Inisiatif Bandung, Nandang Suherman, yang menilai Gedung Kreatif, Kujang Sapasang, Masjid Al Kamil, hingga Geoteater Rancakalong tidak lagi hidup seperti tujuan awal dibangun.
“Sepertinya Kang Nandang enggak update keberadaan Gedung Kreatif, Kujang Sapasang dan Geoteater Rancakalong. Jangan sampai hanya satu kali datang dan itu di bulan September 2025, menjadi sebuah kesimpulan. Kasihan mereka yg sudah bekerja keras menghidupkannya,” kata Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir.
Aktivitas di Gedung Kreatif
Menurut Dony, Gedung Kreatif Sumedang justru menunjukkan tingkat pemanfaatan yang tinggi. Aktivitas di dalam gedung berlangsung hampir setiap hari dan bahkan kerap penuh. “Aktivitas padat dan sering waiting list. Contohnya anak-anak SMAN 1 Sumedang dan anak sekolah lainnya sangat sering menggunakan Gedung Kreatif. Kalau dilihat dari luar, sepintas seperti sepi tapi kalau masuk ke dalam ramai terutama di ruangan-ruangan sesuai dengan peruntukannya,” ujarnya.
Geoteater Rancakalong: Ruang Budaya yang Aktif
Sementara itu, Geoteater Rancakalong disebut telah berkembang menjadi ruang aktivitas budaya yang rutin. Setiap akhir pekan, kawasan tersebut menjadi pusat kegiatan seni yang melibatkan masyarakat lokal dan menarik kunjungan dari luar daerah. “Di Geoteater Rancakalong sudah ada kegiatan rutin setiap akhir pekan, Ekosistem Budaya Kasumedangan. Sekarang sudah edisi ke-10. Dubes Indonesia untuk Kuwait sudah datang ke Geotetater. Silahkan hadir setiap Saptu ke Geoteater berbagai atrasi seni budaya ada dan menjadi hiburan para wisatawan yang datang,” kata Dony.
Ia juga menegaskan bahwa aktivitas Geoteater dapat dipantau secara terbuka melalui media sosial. Pemerintah daerah, kata dia, telah melakukan berbagai perbaikan pendukung, mulai dari akses jalan hingga penerangan kawasan. “Aktivitas di Geoteater selalu disampaikan melalui medsos-nya atau medsos saya. Akses jalannya sudah diperlebar, bus bisa masuk. Penerangan Jalan Umum (PJU) ditambah,” ujarnya.
Kujang Sapasang: Proses Pengelolaan Baru
Adapun terkait kawasan Kujang Sapasang, Bupati Dony menjelaskan bahwa saat ini tengah berlangsung proses penentuan pengelola baru. Pengelolaan sebelumnya telah berakhir dan kini memasuki tahap seleksi lanjutan. “Pengelolaan oleh The Lodge selesai, sekarang sedang proses beauty contest. Apraisal harga sewa dari provinsi sudah keluar, tinggal menentukan penyewanya,” ujarnya.
Bupati Dony menegaskan, pemerintah daerah berkomitmen memastikan seluruh aset publik yang telah dibangun dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. “Potensi sudah ada. Dibangun sudah. Apa yang sudah dibangun harus berfungsi. Pemkab Sumedang berkomitmen kawasan-kawasan strategis desa yang telah dibangun harus tetap berfungsi dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” katanya.
Seorang penulis berita online yang mengutamakan kecepatan dan ketelitian dalam menyampaikan informasi terkini kepada pembaca. Aktif mengikuti perkembangan isu sosial dan digital. Memiliki hobi membaca artikel sejarah, bersepeda pagi, serta memotret momen sederhana yang menarik. Baginya, proses menulis adalah ruang untuk melihat dunia lebih dekat. Motto hidupnya: "Informasi yang jujur adalah fondasi kepercayaan."











