Penyegelan Sekolah Dasar Negeri 1 Gerendong di Pandeglang
Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Pandeglang, Tb Udi Juhdi, mengungkapkan rencana pemanggilan pihak-pihak terkait terkait penyegelan Sekolah Dasar (SD) Negeri 1 Gerendong. Gedung sekolah tersebut yang berada di Desa Gerendong, Kecamatan Koroncong, disegel oleh ahli waris pada Senin (19/1/2026). Penyegelan ini dilakukan atas nama H Isa Bin Sumatri dengan luas lahan sekitar 2.400 meter persegi.
Akibat penyegelan tersebut, para murid harus menunggu di luar gedung sekolah karena gerbang digembok oleh ahli waris. Tb Udi Juhdi menyatakan bahwa pihaknya akan memanggil berbagai pihak seperti kepala sekolah, dinas pendidikan, BPKAD, dan juga ahli waris untuk memberikan keterangan lebih lanjut.
Ia menekankan pentingnya penyelesaian masalah ini secepat mungkin agar tidak mengganggu proses kegiatan belajar mengajar (KBM) para siswa. Ia juga meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pandeglang segera merespons masalah ini.
“Jika tidak cepat diselesaikan, khawatir akan menghambat KBM para murid. Makanya Pemkab harus cepat merespons,” ujar Tb Udi Juhdi.
Kronologi Penyegelan Gedung Sekolah SD Negeri 1 Gerendong
Salah satu keluarga ahli waris, Heri, menjelaskan bahwa pihaknya tidak bermaksud menyegel gedung sekolah. Namun, mereka merasa perlu melakukan tindakan tersebut karena Pemkab Pandeglang tidak menanggapi secara serius terkait pertanggungjawaban lahan yang digunakan sekolah.
Heri menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan upaya untuk meminta kepastian lahan kepada Pemkab Pandeglang sejak tahun 2019. Terakhir kali, rapat dilakukan pada akhir tahun 2025. Ia mengungkapkan bahwa jalur-jalur resmi telah ditempuh, termasuk rapat bersama dinas Perkim, bidang Aset, Camat, kepala desa, dan kepala sekolah, tetapi belum menemukan solusi.
Ia juga mengatakan bahwa Pemkab Pandeglang mengakui bahwa lahan tersebut adalah milik keluarga ahli waris. “Mereka tidak memiliki bukti apapun terkait status kepemilikan lahan itu,” katanya.
Sejarah Berdirinya SD Negeri 1 Gerendong
Heri mengungkapkan bahwa SD Negeri 1 Gerendong awalnya merupakan Inpres era Presiden Suharto sebelum berubah menjadi SD. Pada masa itu, Pemkab Pandeglang tidak memiliki lahan, sehingga almarhum keluarganya meminjamkan lahan tersebut.
“Waktu itu pemerintah tidak punya lahan, hanya punya bentuk fisik. Nah pemerintah mencari lahan, dan sifatnya meminjamkan sementara,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pihaknya tidak merasa menjual lahan tersebut. “Kami punya keterangan yang dibuat sekretaris Bapak saya. Apabila sudah tidak layak pakai bangunan itu maka kembali ke ahli waris,” tambahnya.
Luas lahan Gedung sekolah SD Negeri 1 Gerendong kurang lebih sekitar 2.400 meter persegi. Heri juga menyatakan bahwa SPPT lahan sekolah tersebut masih dibayarkan pihak keluarga ahli waris hingga kini.
Harapan Keluarga Ahli Waris kepada Pemkab Pandeglang
Heri berharap Pemkab Pandeglang dapat duduk bareng menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut. “Kita duduk bareng carikan solusi. Tapi kita sudah duduk bareng, tapi selalu tidak ada tindak lanjut dari Pemkab Pandeglang,” ujarnya.
Ia juga mempertanyakan mengapa Pemkab Pandeglang tidak ingin segera menindaklanjuti terkait permasalahan tersebut. “Saya sempat berpikir kenapa. Toh kita sudah legowo ko, kita sudah membuka pintu. Ya kalau tidak minat dengan tanah itu ya cari lagi, tapi kalau masih minat ya bagaimana caranya,” katanya.
Keterangan Warga Setempat
Menurut kesaksian warga setempat, penyegelan tersebut terjadi sekitar pukul 06.00 WIB pagi. Neni, warga setempat yang berhadapan dengan sekolah, mengatakan bahwa anak murid tidak bisa masuk ke sekolah lantaran gerbang sekolah digembok oleh ahli waris.
“Iya pada di luar mereka gak bisa masuk. Biasanya gerbang tidak digembok, cuma pada saat ada penyegelan itu digembok tumben,” ujarnya.
Anak murid bisa masuk sekolah sekitar pukul 09.30 WIB, setelah kunci gembok gerbang dibuka pihak ahli waris. Neni mengatakan bahwa mereka masuk setelah dibuka gemboknya sama ahli waris. “Tadi juga ada polisi dan kepala desa ke sini,” katanya.
Para orang tua sempat kisruh lantaran anak-anak tidak masuk sekolah. “Sempat kisruh tadi, bahkan mau ada demo tadinya kalau gerbang nya tidak dibuka,” ujarnya.
Seorang penulis berita online yang mengutamakan kecepatan dan ketelitian dalam menyampaikan informasi terkini kepada pembaca. Aktif mengikuti perkembangan isu sosial dan digital. Memiliki hobi membaca artikel sejarah, bersepeda pagi, serta memotret momen sederhana yang menarik. Baginya, proses menulis adalah ruang untuk melihat dunia lebih dekat. Motto hidupnya: "Informasi yang jujur adalah fondasi kepercayaan."











