MINNEAPOLIS,
Ketika Jennifer Arnold mendengar kabar bahwa tetangganya di Minneapolis ditangkap oleh otoritas imigrasi pada akhir tahun lalu, ia tidak tinggal diam. Ia mengingat peristiwa tersebut dengan emosi yang masih terasa. “Dia menjawab telepon sambil menangis karena dia pergi ke lokasi kerja bersama suaminya, dan suaminya ditarik keluar dari mobil mereka dan ditangkap,” ujarnya.
Sejak saat itu, Arnold aktif dalam menggalang dukungan dari warga sekitar untuk membantu para imigran menghadapi situasi sulit. Kekhawatiran semakin meningkat setelah tindakan penegakan hukum oleh pemerintahan Presiden Donald Trump berubah menjadi mematikan, ketika agen imigrasi federal menembak seorang ibu yang sedang mengendarai mobil.
Menurut Arnold, awalnya banyak tetangganya yang takut keluar rumah. Ia menyadari perubahan signifikan ketika melihat halte bus sekolah yang biasanya ramai dengan anak-anak, tiba-tiba sepi. “Biasanya ada 20 anak di halte bus itu, tetapi sekarang cuma ada sepuluh,” katanya. “Banyak keluarga merasa tidak aman mengeluarkan anak-anak mereka karena mereka harus berjalan kaki beberapa blok.”
Arnold pun mulai menawarkan bantuan. Ia bertanya kepada para orangtua, “Kalau saya bisa meminta seseorang mengantar anak Anda ke halte bus, atau mengantar mereka ke sekolah, maukah Anda?” Jawaban para tetangga: Ya.
Dari situ, Arnold mulai mengorganisasi bantuan antar-jemput anak ke sekolah. “Mulai minggu kedua bulan Desember, saya membantu 12 anak. Minggu berikutnya, jumlahnya naik jadi 18 anak. Sekarang ada 30 anak dalam daftar saya,” ungkapnya.
Saat libur Natal tiba dan sekolah tutup, Arnold tetap bergerak. Ia meminta relawan untuk mengadopsi satu keluarga, lalu mengatur pengiriman bahan makanan. “Mereka berbelanja dan membawa kantong-kantong bahan makanan ke keluarga yang mereka adopsi. Kami melakukan satu kegiatan tepat sebelum Natal dan satu lagi sebelum Tahun Baru,” ujarnya.
Bantuan itu sangat berarti bagi para keluarga penerima. “Orang-orang berkata kepada saya ‘anak-anak saya akan kelaparan’ kalau kami tidak melakukan itu,” kata Arnold.
Tragedi yang menggerakkan solidaritas
Pada Rabu (7/1/2026), agen Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) menembak mati Renee Nicole Good (37), warga perempuan di Minneapolis. Insiden itu semakin menggugah empati warga sekitar. “Saya pergi menjemput anak berusia empat tahun dan memperkenalkannya kepada tetangga yang akan mengantarnya pulang setiap hari,” kata Arnold.
“Banyak orang di jalanan bertanya, ‘Bisakah kami juga melakukan ini?’ Dan sejak kejadian hari Rabu, daftar saya semakin panjang.” Menanggapi situasi yang semakin genting, Pemerintah Kota Minneapolis mengumumkan akan menyediakan opsi pembelajaran jarak jauh hingga pertengahan Februari bagi siswa yang membutuhkan.
Sementara itu, kewaspadaan di tingkat lingkungan terus meningkat. Para tetangga menggunakan peluit sebagai bentuk peringatan terhadap kehadiran agen ICE. Natasha Dockter yang merupakan pemimpin serikat guru mengaku kini selalu mengenakan peluit. “Saya menggunakannya sepanjang waktu sekarang,” ujarnya. Menurut Dockter, peluit itu juga menjadi simbol komunikasi dan solidaritas. “Saya menggunakannya lebih sering daripada yang saya inginkan,” tambahnya. Ia bahkan menyimpan peluit tambahan di saku untuk dibagikan kepada tetangga yang ingin membantu.
Anak-anak trauma
Di balik aksi solidaritas warga, trauma diam-diam menggerogoti sebagian anak di lingkungan tersebut. “Ada anak-anak yang kehilangan anggota keluarga, yang benar-benar trauma, yang ketakutan setiap hari, yang tidak bisa meninggalkan rumah mereka selain untuk pergi ke sekolah,” ujar Becca Dryden (36), warga lainnya. Menurut Dryden, menjelaskan situasi ini kepada anak-anak menjadi tantangan tersendiri bagi para orangtua. “Sebagai orangtua, kita terus-menerus harus menjelaskan tragedi ini kepada mereka,” ujarnya. “Baik mereka sendiri yang menjadi sasaran atau menyaksikan lingkungan dan komunitas mereka menjadi sasaran, ini trauma yang terjadi pada semua anak kita.”











