Fokus pada Penanggulangan Tuberkulosis di Kelurahan Pannampu
Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) yang digelar di Kelurahan Pannampu, Kecamatan Tallo, Kota Makassar, baru-baru ini menempatkan isu kesehatan sebagai prioritas utama. Salah satu fokus utama dalam pertemuan tersebut adalah penanggulangan Tuberkulosis (TB). Pertemuan tahunan yang berlangsung di Baruga Kelurahan Pannampu menjadi momen strategis untuk menyatukan aspirasi masyarakat dan arah kebijakan pemerintah kelurahan.
Selain ketua RT dan RW, hadir pula Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), tokoh pemuda, perwakilan perempuan, serta unsur masyarakat lainnya. Dalam forum tersebut, sejumlah persoalan lingkungan dibahas, namun penanganan TB menjadi perhatian khusus mengingat Kelurahan Pannampu ditetapkan sebagai salah satu kelurahan percontohan di Makassar.
Lurah Pannampu, Imam Hanafi Harris, menjelaskan bahwa fokus pada penanggulangan TB sejalan dengan isu nasional di bidang kesehatan, sekaligus mendukung target pemerintah daerah dalam menekan angka penyebaran penyakit menular tersebut. Ia menegaskan bahwa meskipun data kasus berada di Puskesmas, peran kelurahan sangat penting pada aspek pencegahan dan deteksi dini.
Dalam Musrenbang tersebut, disepakati sejumlah langkah strategis untuk mendukung program penanggulangan TB. Salah satunya melalui penguatan edukasi kesehatan kepada masyarakat serta pelaksanaan screening atau pemeriksaan dini bagi warga yang terindikasi maupun berada di lingkungan dengan risiko penularan. Target sekitar 400 warga akan mendapatkan edukasi dan pemeriksaan kesehatan terkait TB.
Sasaran tersebut meliputi warga yang memiliki gejala, kontak erat dengan penderita TB, maupun masyarakat yang tinggal di wilayah padat penduduk. Setelah edukasi, akan dilakukan screening. Dari situ baru ditentukan tindak lanjut pengobatan. Tujuannya agar penanganan benar-benar tepat sasaran.
Penunjukan Kelurahan Pannampu sebagai kelurahan percontohan bukan tanpa alasan. Selama dua tahun terakhir, kelurahan ini dinilai berhasil menekan angka kasus TB secara signifikan. Dari sekitar 17 ribu jiwa penduduk, data Puskesmas menunjukkan penurunan jumlah kasus TB pada tahun 2025 dibandingkan tahun sebelumnya.
“Alhamdulillah, tahun lalu terjadi penurunan yang cukup drastis. Ini karena kasus terdeteksi lebih cepat dan masyarakat mulai sadar pentingnya pengobatan tuntas,” ungkap Imam.
Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat, termasuk Ketua RT dan RW yang menjadi garda terdepan dalam penyampaian informasi dan pendampingan warga. Dalam penanggulangan TB, peran RT dan RW dinilai sangat krusial. Selain sebagai penghubung antara warga dan pemerintah kelurahan, RT dan RW menjadi corong utama dalam menyosialisasikan pentingnya pencegahan, pemeriksaan dini, serta kepatuhan menjalani pengobatan bagi penderita TB.
Imam menuturkan bahwa RT dan RW telah aktif menyampaikan kondisi lingkungan masing-masing, termasuk laporan terkait warga yang membutuhkan perhatian khusus di bidang kesehatan. “RT dan RW yang paling tahu kondisi warganya. Mereka membantu kami dalam penjaringan data awal, penyampaian edukasi, hingga memastikan warga yang terindikasi mau menjalani pemeriksaan,” katanya.
Selain isu TB, RT dan RW juga menyampaikan berbagai aspirasi masyarakat lainnya dalam Musrenbang, seperti persoalan infrastruktur lingkungan, pengelolaan sampah, dan pemberdayaan ekonomi. Namun, dalam forum tersebut disepakati bahwa isu kesehatan, khususnya TB, menjadi salah satu prioritas yang harus ditangani secara kolaboratif.
Imam menegaskan bahwa keberhasilan program penanggulangan TB tidak hanya bergantung pada fasilitas kesehatan, tetapi juga pada kesadaran masyarakat dan peran aktif aparat lingkungan. “Tanpa dukungan RT dan RW, program ini tidak akan berjalan maksimal. Mereka menjadi ujung tombak di lapangan,” tegasnya.
Melalui Musrenbang ini, Pemerintah Kelurahan Pannampu berharap program penanggulangan TB dapat berjalan lebih terstruktur dan berkelanjutan. Dengan dukungan masyarakat serta sinergi lintas sektor, Kelurahan Pannampu optimistis dapat terus menekan angka TB dan menjadi contoh bagi kelurahan lain di Kota Makassar.
Sebaran Kasus TB di Sulsel
Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan mencatat 10.715 kasus tuberkulosis (TBC) selama Januari–Mei 2025. Kota Makassar menjadi daerah dengan kasus tertinggi, mencapai 3.483 pasien. Tren kasus TBC di Sulsel terus meningkat dalam dua tahun terakhir, dari 26.579 kasus pada 2023 menjadi 30.369 kasus pada 2024. Hingga Mei 2025 lalu, tercatat 1.461 kematian dari kohor pasien 2024.
Selain Makassar, daerah dengan kasus tinggi antara lain Gowa, Bone, dan Jeneponto. Sementara itu, Enrekang, Kepulauan Selayar, dan Tana Toraja menjadi wilayah dengan kasus terendah. Dinkes Sulsel menyebut kepadatan penduduk, kemiskinan, keterlambatan penemuan kasus, dan stigma masyarakat sebagai faktor utama penyebaran TBC.
Untuk menekan penularan, Dinkes Sulsel melakukan investigasi kontak, skrining massal dengan X-ray portable, kerja sama dengan laboratorium swasta, serta pelibatan kader dan layanan chatbot skrining mandiri. Namun, keterbatasan anggaran dan belum optimalnya keterlibatan layanan kesehatan swasta masih menjadi tantangan pengendalian TBC di Sulsel.
Data Kasus TBC di Sulsel 2025:
- Makassar: 3.483 kasus
- Gowa: 692 kasus
- Bone: 664 kasus
- Jeneponto: 413 kasus
- Wajo: 408 kasus
- Palopo: 400 kasus
- Pinrang: 389 kasus
- Bulukumba: 386 kasus
- Takalar: 376 kasus
- Maros: 375 kasus
- Pangkep: 354 kasus
- Bantaeng: 348 kasus
- Parepare: 339 kasus
- Luwu: 261 kasus
- Sidrap: 249 kasus
- Luwu Timur: 229 kasus
- Sinjai: 225 kasus
- Luwu Utara: 217 kasus
- Barru: 202 kasus
- Soppeng: 195 kasus
- Toraja Utara: 149 kasus
- Tana Toraja: 142 kasus
- Kepulauan Selayar: 128 kasus
- Enrekang: 91 kasus











