"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Gejala anak sehat tapi kekurangan gizi, orangtua harus waspada

Memahami Ciri-Ciri Anak yang Terlihat Sehat Tapi Kurang Gizi

Di Indonesia, masih banyak orangtua yang menganggap bahwa anak sehat adalah anak yang bertubuh gemuk dan tidak mudah sakit. Meski satu di antaranya benar, tetapi anak yang bertubuh gemuk atau bahkan cenderung obesitas belum tentu memiliki kecukupan gizi yang baik di tubuhnya. Penampilan fisik saja tidak cukup untuk menilai status gizi anak. Menurut dr. Nany Leksokumoro, Sp. GK., Spesialis Gizi Klinik dari Eka Hospital Pluit, hal ini perlu dipahami oleh para orangtua.

Anak bisa saja terlihat baik-baik saja di luar, tetapi menyimpan masalah gizi yang berdampak pada tumbuh kembang dan kesehatannya di masa depan. Berikut beberapa ciri-ciri anak terlihat sehat tapi kurang gizi, yang perlu diperhatikan oleh orangtua:

1. Anak Tampak Gemuk, Tetapi Belum Tentu Gizinya Seimbang

Banyak orangtua merasa tenang ketika melihat anaknya bertubuh gemuk atau gemoy. Padahal, kondisi tersebut bisa masuk dalam kategori gizi ganda, yaitu kelebihan berat badan namun kekurangan zat gizi penting. “Anak terlihat gemuk dan sehat? Ini yang kita bilang gizi ganda, bisa kurang dan bisa lebih,” jelas dr. Nany Leksokumoro, Sp.GK.

Ia menekankan bahwa status gizi anak seharusnya dinilai menggunakan grafik pertumbuhan resmi. “Berat badan ideal anak punya chart atau grafik di Puskesmas. Kita mapping ke grafik itu, bukan membandingkan ke anak tetangga,” tegasnya.

Menurut Healthline, anak dengan berat badan berlebih tetap bisa mengalami defisiensi zat gizi mikro seperti zat besi, zinc, atau vitamin D, terutama jika pola makannya tinggi gula dan lemak tetapi rendah nutrisi. Jika berlangsung jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko gangguan metabolik dengan daya tahan tubuh rendah, hingga masalah konsentrasi.

Karena itu, orangtua perlu memahami bahwa sehat bukan hanya soal bentuk tubuh, tetapi tentang keseimbangan gizi yang mendukung tumbuh kembang optimal.

2. Pola Makan Tanpa Bimbingan Bisa Memicu Obesitas dan Masalah Kesehatan

Rasa bersalah karena jarang bersama anak kerap membuat orangtua memberikan kebebasan ke makanan si Kecil. Namun jika tanpa pendampingan, kebiasaan ini bisa menjadi masalah serius. “Kadang mama atau papa mengkompensasi karena merasa bersalah meninggalkan anak. Anaknya dibiarkan memilih tapi tanpa bimbingan,” kata dr. Nany.

Ia menambahkan bahwa jika hal ini terjadi terus-menerus, anak berisiko mengalami obesitas sejak dini. “Kalau sesekali mungkin tidak masalah, tapi kalau berlanjut ini yang membuat anak menjadi gemoy atau obesitas,” jelasnya.

WHO mengingatkan jika anak mengonsumsi makanan ultra-proses (UPF), gula, dan lemak jenuh pada anak berkaitan erat dengan peradangan kronis dalam tubuh. Dampaknya tidak hanya pada berat badan, tetapi juga pada sistem pencernaan, hormonal, dan kesehatan mental.

“Saluran cerna bisa mengalami peradangan, lalu berdampak ke saraf menuju otak. Akhirnya anak jadi cepat marah, mood buruk, sampai gangguan hormon saat remaja,” ungkap dr. Nany.

Inilah alasan mengapa peran orangtua sebagai pendamping dan pengarah pola makan anak sangat penting.

3. Aktif Bergerak dan Cukup Protein Jadi Indikator Gizi yang Lebih Sehat

Orangtua perlu menyadari bahwa kesehatan anak tidak bisa dinilai hanya dari indikator “enak dipandang”. Tubuh yang terlihat bulat belum tentu menandakan kondisi sehat, karena aktivitas fisik dan komposisi tubuh justru menjadi penentu utama kesehatan anak secara menyeluruh. “Kalau bentuk tubuh anak cenderung bulat tapi aktif, sering main sepeda, sepatu roda, lari-larian, itu sehat,” jelas dr. Nany.

Ia menjelaskan bahwa anak yang aktif biasanya memiliki massa otot yang baik. “Kalau ototnya banyak dan bertambah, anak itu pasti sehat dan jarang sakit. Dia juga tidak menanam peradangan di tubuhnya,” tambahnya.

Massa otot yang baik pada anak berperan penting dalam metabolisme, imunitas, dan kesehatan jangka panjang. Karena itu, asupan protein dan aktivitas fisik perlu berjalan seimbang. Selain gizi makro, dr. Nany juga mengingatkan pentingnya zat gizi mikro.

“Jangan lupa omega 3, ini dibutuhkan sangat besar untuk tumbuh kembang anak dan bersifat anti peradangan,” ujarnya. Ia menyarankan orangtua menstimulasi anak untuk rutin mengonsumsi ikan laut sesuai anjuran, agar tumbuh kembang anak optimal dan risiko gangguan kesehatan bisa ditekan sejak dini.

Hendra Susanto

Reporter online yang antusias menjelajahi isu terkini dengan pendekatan analitis. Ia suka membaca buku motivasi, mendengarkan musik akustik, dan membuat catatan ide. Menurutnya, menulis adalah proses belajar yang tak berakhir. Motto: "Setiap paragraf harus mengandung nilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *