"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"
Bisnis  

Dengan Modal 25 Juta, Pengrajin Ecoprint Tembus Pasar Eropa, Omzet Rp 50 Juta per Bulan

Inovasi dengan Bahan Alami

Dengan kreativitas, bahan sederhana yang berasal dari alam bisa diubah menjadi produk bernilai tinggi. Irfan Kristiyanto telah membuktikannya melalui berbagai produk seperti kain, pakaian, tas, sepatu, hingga home decore yang diminati pasar Eropa hingga Rusia.

Jenama lokal Jarihitam Ecoprint didirikan sejak 2018, dimulai dari rasa penasaran Irfan terhadap teknik ecoprint. Dengan modal awal Rp 25 juta, ia memperdalam teknik ini secara serius. Selama dua bulan penuh, ia melakukan eksperimen dengan berbagai teknik, media kain, dan daun.

Setelah banyak uji coba, Irfan akhirnya menemukan formula yang tepat untuk memanfaatkan bahan baku dari lingkungan sekitar rumahnya menjadi produk bernilai tinggi. “Saya merasa ini sangat menarik karena bahan bakunya berasal dari lingkungan, semuanya ada di sekitar kita. Isu ini sangat seksi, sampai kapan pun ecoprint tidak akan pernah mati,” kata Irfan.

Irfan melihat ecoprint bukan hanya sebagai produk, tetapi juga sebagai ekosistem bisnis. Tiga bulan setelah memulai bisnis Jarihitam Ecoprint, dia memberanikan diri membuka kelas untuk memperkenalkan ecoprint ke masyarakat sekitar. Tujuannya adalah agar bisnis dan alam dapat berkelanjutan.

“Ketika saya mengajar dan mengajak orang banyak belajar ecoprint, harapannya banyak orang akan menanam. Kita harus menjaga kesinambungan, harus menanam. Saya sebagai mentor menekankan bahwa kita jangan hanya mengambil daun lalu habis dan pindah tempat. Itu sama saja seperti hama,” jelas dia.

Komersialisasi dan Pemasaran

Komersialisasi Jarihitam dimulai pada 2018 melalui pameran-pameran offline. Irfan sengaja tidak langsung masuk pasar online karena merasa ecoprint perlu disentuh dan dirasakan. Langkahnya ke pasar global dimulai saat Dinas Industri Perdagangan Provinsi (Disperindag) Jawa Barat memboyong Jarihitam dalam misi dagang. Dari sana, pintu-pintu ekspor terbuka.

Belgia menjadi negara pertama yang disambangi pada 2018, disusul Perancis dan Jerman pada 2019, lalu Selandia Baru pada 2020. Kerja sama ekspor terpanjang dilakukan dengan buyer dari Rusia, menjual kain buatannya pada periode 2024-2025, dan masih akan berlanjut.

Membangun Komunitas

Seiring meningkatnya permintaan, Irfan sadar ia tidak bisa berjalan sendiri. Solusinya bukan pabrik besar, melainkan komunitas. Warga sekitar dilibatkan, mulai dari penjahit hingga penyedia bahan.

Ia juga bekerja sama dengan Koperasi Pemasaran Tlatah Nusantara Raya dan Jasa Raharja, sebagai anggota Holding Indonesia Financial Group (IFG), memberikan pelatihan kepada para ahli waris korban kecelakaan lalu lintas. Murid-murid ecoprint yang dia dampingi juga menjadi bagian dari rantai produksi.

Melalui Tlatah Nusantara Raya yang memiliki delapan butik di sejumlah hotel di Bandung, produk-produk Jarihitam Ecoprint turut dipasarkan secara berkelanjutan. Sebagai bisnis handmade, Irfan mengaku omzet Jarihitam tidak terlalu besar. Rata-rata berkisar Rp 40-50 juta per bulan. Namun bagi Irfan, nilai utama bukan sekadar angka, melainkan dampak sosial dan lingkungan.

Hingga kini, permodalan Jarihitam sepenuhnya mandiri, namun Irfan membuka kemungkinan mencari pendanaan lebih besar jika skalanya memang dibutuhkan. Untuk pasar ekspor, ia berharap pintu-pintu baru kembali terbuka. Eropa dan Rusia masih menjadi target, seiring kesiapan bahan baku dan kapasitas produksi berbasis komunitas.

Kepedulian Sosial

Kepala Bagian Administrasi Jasa Raharja Kanwil Utama Jawa Barat, Yudi Wiryawan mengatakan, Jarihitam Ecoprint sebelumnya merupakan salah satu UMKM binaan Jasa Raharja yang berhasil berkembang. Oleh karena itu, Jasa Raharja mempercayakan proses mentoring ahli waris kepada Irfan.

Berkolaborasi dengan Koperasi Pemasaran Tlatah Nusantara Raya, ada sekitar 30 ahli waris yang telah mengikuti pelatihan Jarihitam Ecoprint. Menurut Yudi, keunggulan ecoprint terletak pada pendampingan yang dilakukan secara menyeluruh, mulai dari hulu hingga hilir.

“Tujuan kami adalah pemberdayaan ekonomi. Banyak ahli waris yang kehilangan tulang punggung keluarga akibat kecelakaan. Melalui diklat dan pelatihan wirausaha ini, kami ingin ekonomi mereka tetap hidup dan memiliki sumber penghasilan baru,” ujar Yudi, dalam keterangannya Jumat (9/1).

Dampak Ekonomi yang Luas

Sekretaris Perusahaan Indonesia Financial Group (IFG), Denny S Adji mengatakan bahwa di balik aktivitas usaha yang tampak sederhana, tersimpan ekosistem ekonomi yang menghidupkan banyak pihak. Ekosistem serupa juga terlihat pada Jarihitam Ecoprint.

Dari dedaunan dan proses manual, usaha ini tidak hanya melibatkan pengrajin dan penjahit, tetapi juga masyarakat sekitar sebagai penyedia bahan dan mitra produksi. Dari proses yang tampak sederhana itu, produk Jarihitam justru mampu menembus pasar ekspor hingga Rusia.

Menurut Denny, keberhasilan UMKM tidak hanya diukur dari besaran omzet, melainkan dari dampak berantai atau trickle down effect yang dihasilkan. Tentang bagaimana aktivitas usaha tersebut mampu menggerakkan ekosistem ekonomi dan memberi manfaat luas bagi berbagai pihak.

Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *