"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Bahri Ingat Gaji Pertama Rp35.000, Kini Jadi PPPK Setelah 30 Tahun Mengabdi

Perjalanan Panjang Bahri Menjadi Pegawai Negeri Paruh Waktu

Bahri (51), seorang honorer yang telah bekerja selama 30 tahun di Dinas Pertanian Luwu, akhirnya berhasil meraih gelar sebagai pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) paruh waktu. Keberhasilan ini menjadi momen penting dalam hidupnya setelah melewati berbagai tantangan dan rintangan.

Surat Keputusan (SK) PPPK diberikan langsung oleh Bupati Luwu, Patahudding, di Lapangan Andi Djemma, Kota Belopa, Sulawesi Selatan, pada Rabu (31/12/2025). Penyerahan SK ini terjadi tepat pada hari ulang tahun istri Bahri, Rusnaini, yang ke-50. Momen ini membuat Bahri semakin bahagia karena keberhasilannya bersamaan dengan perayaan spesial keluarga.

Perjalanan Bahri sebagai honorer dimulai sejak tahun 1993, ketika ia masih berstatus siswa STM Palopo (sekarang SMK 2 Palopo). Dua tahun pertama, ia bekerja tanpa status resmi. Baru pada tahun 1995, ia menerima Surat Keputusan (SK) sebagai honorer dari pemerintah kota. Saat itu, Kabupaten Luwu belum berpisah dengan Kota Palopo, sehingga statusnya masih menyatu.

Setelah Luwu mekar dan berpisah dengan Palopo, Bahri ikut pindah. Ia tinggal di Dinas Pertanian Luwu, sementara rumahnya berada di Kota Palopo. Jarak antara rumah dan kantor mencapai sekitar 60 kilometer. Untuk menghemat biaya, Bahri memilih tinggal sendirian di ruang rapat Dinas Pertanian. Ia hanya pulang ke Palopo setiap Jumat sore dan kembali ke kantor pada Minggu malam.

Pekerjaan Bahri tidak hanya terbatas pada tugas administratif. Ia juga bertanggung jawab atas penyiraman bibit pohon alpukat di greenhouse, serta pengelolaan gudang yang berisi aset dinas. Bahri juga membantu menyalurkan bantuan bibit padi dan buah kepada masyarakat di wilayah Walmas atau Larompong.

Selama 30 tahun menjadi honorer, Bahri mengalami berbagai perubahan kepemimpinan kepala daerah. Mulai dari Kamrul Kasim hingga Patahudding. Gajinya juga naik secara bertahap, dari Rp35 ribu pada awal karier menjadi Rp1 juta di akhir masa kerjanya.

Namun, proses menuju status PPPK tidak mudah bagi Bahri. Pada tahun 2010, ia nyaris diangkat melalui jalur Kategori 1 (K1), tetapi gagal karena dokumen yang tidak lengkap. Pada 2013, ia mencoba jalur K2, tetapi kembali gagal. Akhirnya, pada 2025, ia mencoba seleksi PPPK penuh waktu di Unismuh Palopo.

Proses belajar Bahri cukup menantang. Ia belajar menggunakan komputer dan video YouTube selama hampir dua minggu. Meski usianya sudah mendekati kepala lima, ia tetap berusaha keras. Sayangnya, saat ujian, kursor komputernya macet, sehingga ia hanya meraih skor 406, sedikit di bawah ambang batas.

Meskipun sering terjatuh, motivasi Bahri tidak pernah padam. Tujuan utamanya adalah untuk pendidikan ketiga anaknya. Anak ketiganya kini kuliah di UIN Palopo. Bahri juga harus menjalani kesendirian, karena tidak ada yang bisa membantunya jika sakit.

Setelah menerima SK PPPK paruh waktu, Bahri merasa sangat senang. Ia mengucap syukur atas keberhasilannya yang tercapai setelah 30 tahun bekerja sebagai honorer. Ini menjadi hadiah spesial untuk istrinya di hari ulang tahunnya.


Dina Nabila

Penulis yang mengamati perkembangan gaya hidup sehat dan tren olahraga ringan. Ia suka jogging sore, membaca artikel kesehatan mental, dan mencoba menu makanan sehat. Menurutnya, menulis adalah cara menjaga keseimbangan pikirannya. Motto: “Sehat dalam pikiran, kuat dalam tulisan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *