Pemilihan Ketua DPD I Partai Golkar Sulsel Belum Memiliki Jadwal Pasti
Hingga saat ini, pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan (Sulsel) belum memiliki jadwal pasti. Kepastian waktu Musda masih menunggu keputusan dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar.
Sekretaris DPD I Partai Golkar Sulsel, Marzuki Wadeng, mengatakan bahwa hingga saat ini belum ada perkembangan terbaru terkait penetapan jadwal Musda, meskipun kepengurusan Pelaksana Tugas (Plt) telah ditetapkan. Ia menjelaskan bahwa setelah adanya Plt, informasi tentang jadwal Musda belum diberikan.
“Belum ada. Setelah ada Plt itu juga belum ada informasi sampai sekarang. Mungkin sementara diurus di Jakarta,” ujarnya saat dihubungi Tribun Timur, Jumat (2/1/2026).
Marzuki menambahkan bahwa dalam Musda Golkar Sulsel nantinya, terdapat total 30 suara yang memiliki hak pilih. Suara tersebut berasal dari berbagai unsur struktural dan organisasi partai.
“Semua yang memilih itu penting suaranya. Dari DPD II ada 24 suara, ditambah organisasi sayap, satu dari Dewan Pertimbangan, satu dari organisasi pendiri, dan satu dari organisasi yang didirikan. Kemudian ada satu suara dari DPD dan satu juga dari DPD I. Total semuanya ada 30 suara,” jelasnya.
Ia juga menyebutkan bahwa setiap kader yang ingin maju sebagai calon ketua harus memenuhi syarat dukungan minimal 30 persen dari total pemilih.
“Persyaratan untuk maju sebagai calon kedua harus didukung oleh 30 persen dari pemilih itu. Jadi kira-kira sekitar delapan suara,” kata dia.
Nama-nama yang Disebut-sebut dalam Pemilihan
Terkait figur yang mulai disebut-sebut, Marzuki mengungkapkan bahwa telah melihat beberapa nama yang sempat muncul dalam pemberitaan. Salah satunya adalah kepala daerah yang saat ini masih aktif.
“Yang saya tahu itu Pak Wali Kota. Tadinya juga ada Pak Taufan Pawe, tapi tidak serius, kemungkinan akan lebih condong konsentrasi di DPR RI,” ujarnya.
Selain itu, ia menyebut ada pula nama tokoh internal Golkar lainnya, termasuk IAS. Nama Andi Ina juga disebut sebagai figur yang belakangan muncul dalam pembicaraan.
Meski demikian, Marzuki menegaskan bahwa seluruh nama tersebut belum masuk dalam tahapan resmi pencalonan karena Musda belum dimulai.
“Soal calon kan belum masuk, karena masih proses Musda. Nanti kalau proses Musda sudah ada penjaringan, baru bisa masuk. Yang saya sebutkan tadi itu yang ditemui Kora,” jelasnya.
Analisis Politik dari Pengamat
Pengamat Politik Universitas Hasanuddin (Unhas), Ali Armunanto, menilai Munafri Arifuddin (Appi) dan Andi Ina Kartika Sari sebagai figur yang paling berpeluang. Menurutnya, sejumlah jalur politik yang sebelumnya diperhitungkan kini sudah terkonsolidasi dan tidak lagi menjadi opsi utama.
Menurut Ali, hanya beberapa nama yang masih layak diperhitungkan secara serius.
“Saya kira jalur politik mereka sudah terkonsolidasi dan tidak akan menjadi pilihan lagi. Sisanya yang masih perlu diperhitungkan adalah Ilham Arief Sirajuddin, Appi, dan Andi Ina,” katanya.
Namun demikian, Ali menilai bahwa Ilham Arief Sirajuddin memiliki kendala besar. Selain berada pada jalur politik yang sama dengan Andi Ina, rekam jejak hukum IAS menjadi faktor penghambat yang cukup signifikan.
“Pak Ilham saya rasa sulit karena memiliki cacat hukum. Ke depan juga akan bermasalah jika dijadikan figur utama. Apalagi beliau sempat keluar dari Golkar, masuk ke partai lain, dan pernah menyandang status narapidana. Itu tentu menjadi pertimbangan serius,” tambah dia.
Ali juga menyinggung dinamika internal Golkar pasca keluarnya Surya Paloh yang mendirikan Partai NasDem. Menurutnya, figur seperti Nurdin Halid pernah menjadi poros penting, termasuk bagi Andi Ina yang mengandalkan relasi tersebut.
“Dulu di Golkar sempat berada di belakang Surya Paloh. Setelah Surya Paloh keluar dan mendirikan NasDem, yang menjadi tokoh sentral tentu Pak Nurdin. Andi Ina juga mengandalkan relasinya dengan Pak Nurdin,” ujarnya.
Kekuatan Relasi Politik Appi
Sementara itu, Appi dinilai memiliki keunggulan tersendiri dari sisi jejaring dan relasi politik, meski pengaruhnya tidak terlalu dominan. Ali menilai keberadaan sejumlah tokoh senior Golkar dapat menjadi jembatan penting bagi Appi.
“Appi punya relasi dan pengaruh, walaupun tidak terlalu signifikan. Namun keberadaan tokoh seperti Pak JK dan Erwin bisa menjembatani posisinya. Apalagi partner Pak Nurdin di Golkar sudah semakin berkurang dan tidak lagi diperhitungkan,” jelasnya.
Ali juga menilai sejumlah figur lama di Golkar Sulsel kini sudah tidak lagi memiliki pengaruh signifikan, bahkan cenderung menghilang dari dinamika politik internal partai.
“Figur lain seperti Setya Novanto sudah hilang jejak. Jadi, untuk konteks ini, yang paling besar kansnya memang Appi. Ia bisa menjadi kuda hitam, sementara Andi Ina tetap menjadi pesaing utama,” kata dia.
Dengan dinamika tersebut, Ali menyimpulkan bahwa dalam Musda Golkar Sulsel mendatang, Appi dan Andi Ina menjadi dua figur yang paling cepat menguat dan paling dijagokan untuk memperebutkan posisi Ketua DPD I Golkar Sulsel.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











