"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Dari Perawat ke CEO: Pemimpin dengan Pikiran Terbuka

Kehidupan dan Perjalanan Karier Margaret Lee: Dari Perawat ke CEO Rumah Sakit

Margaret Lee, seorang mantan perawat, kini menjadi CEO dari Rumah Sakit Alexandra di Singapura. Perjalanan karier yang ia tempuh tidak biasa, tetapi penuh dengan inspirasi dan ketekunan.

Awal yang Tidak Konvensional

Lee memulai perjalanan kariernya di dunia kesehatan dengan latar belakang akademis yang tidak terlalu mengesankan. Nilai ujian O-Level-nya tidak begitu baik, dan keperawatan hanyalah pilihan kesembilan dalam daftar pendidikan pascasekolahnya. Namun, ia memiliki dorongan kuat untuk melayani masyarakat. Setelah lulus dari politeknik, ia memulai karier sebagai perawat klinis di Rumah Sakit Universitas Nasional (NUH) pada tahun 2001.

Meski awalnya tidak terlalu tertarik pada keperawatan, Lee memilih untuk bertahan dan secara perlahan menapaki jenjang karier yang lebih tinggi. Ia bekerja di unit perawatan intensif dan beberapa unit khusus lainnya, menangani pasien dengan kondisi serius.

Masa Belajar Kepemimpinan

Kepemimpinan tidak datang dengan mudah bagi Lee. Salah satu peran penting yang pernah ia emban adalah sebagai koordinator dialisis hati. Selain merawat pasien, ia juga harus mengelola perawat junior, mengurus pengadaan peralatan, serta berkoordinasi dengan vendor eksternal.

Di fase ini, Lee sering diliputi rasa imposter syndrome—rasa tidak pantas atau tidak cukup mampu untuk memimpin. Ia merasa kecil saat duduk dalam rapat bersama pimpinan senior atau pihak luar, dan ragu apakah pendapatnya benar-benar diperhitungkan.

Namun, seiring bertambahnya pengalaman, pemahamannya terhadap kondisi nyata di lapangan membuat kepercayaan dirinya tumbuh. Ia mulai melihat bahwa keberanian untuk menyuarakan kebutuhan staf dapat menghasilkan perubahan nyata.

Membawa Suara Perawat ke Tingkat Tertinggi

Pada tahun 2016, ketika National University Health System (NUHS) mulai merencanakan pembangunan ulang Rumah Sakit Alexandra, Lee diberi tanggung jawab lebih besar sebagai pemimpin keperawatan. Ia mengawasi persiapan serta pelatihan perawat baru dan lama.

Tiga tahun kemudian, pada 2019, ia bergabung langsung dengan Rumah Sakat Alexandra sebagai Kepala Perawat. Setelah memimpin timnya melewati masa sulit pandemi COVID-19, Lee diangkat menjadi Wakil CEO pada tahun 2024.

Membangun Budaya Kerja yang Lebih Manusiawi

Sebagai Kepala Perawat, Lee fokus menciptakan lingkungan kerja di mana staf merasa didengar. Pendekatan ini kemudian membawanya pada peran tambahan pada tahun 2022 sebagai Kepala Budaya Rumah Sakit.

Peran tersebut memformalkan apa yang sudah lama ia lakukan: menyatukan dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lain untuk mengatasi masalah kelelahan, rendahnya semangat kerja, dan tingginya angka pengunduran diri. Lee melibatkan staf dari berbagai bidang untuk memahami tantangan mereka secara langsung.

Dari masukan tersebut, lahirlah kebijakan nyata, seperti:
* Perawat diperbolehkan menyelesaikan tugas administratif tertentu dari rumah
* Perluasan layanan telekonsultasi, termasuk fisioterapi dan tindak lanjut medis
* Jam kerja yang lebih fleksibel bagi staf yang merawat anak kecil atau orang tua lanjut usia

Pola Pikir Terbuka sebagai Kebutuhan

Pengangkatan Lee sebagai CEO terjadi di tengah perubahan besar. Rumah Sakit Alexandra sedang menjalani pembangunan ulang besar-besaran, memperluas kapasitas dari 300 menjadi 1.300 tempat tidur mulai 2028.

Di saat yang sama, sistem kesehatan juga menghadapi tantangan populasi menua, meningkatnya masalah kesehatan mental, dan kebutuhan untuk memberikan perawatan di luar rumah sakit.

“Dalam kondisi seperti ini, berpikir di luar kebiasaan bukan lagi kemewahan tapi keharusan,” kata Lee. Ia juga mendorong pembelajaran berkelanjutan, termasuk penggunaan kecerdasan buatan (AI) secara bertanggung jawab.

Bertumbuh Agar Tetap Bisa Melayani

Lee menekankan bahwa pengabdian semata tidak cukup untuk mempertahankan tenaga kesehatan di masa kini. “Orang perlu merasa bahwa mereka terus belajar dan berkembang,” katanya. “Kita tidak boleh memanfaatkan keinginan staf untuk melayani tanpa memberi mereka ruang untuk bertumbuh.”

Baginya, kepuasan kerja bukan soal mengagungkan pengorbanan, melainkan menciptakan lingkungan di mana staf bisa berkembang, didengar, dan tetap merasa berarti.

Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *