JAKARTA,
Tantangan Global di Tengah Kekacauan
Menjelang Tahun Baru 2026, dunia sedang menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, memberikan peringatan keras tentang arah peradaban global. Menurutnya, kondisi saat ini diliputi oleh kekacauan dan ancaman serius yang melibatkan konflik, krisis iklim, serta peningkatan anggaran militer yang mencapai rekor tertinggi.
Dalam pesan Tahun Baru 2026 yang dirilis pada Rabu (31/12/2025), Guterres menyatakan bahwa dunia berada di persimpangan jalan. Ia menyoroti bahwa perpecahan antarnegara, kekerasan bersenjata, krisis iklim, serta pelanggaran terhadap hukum internasional masih terus berlangsung. Hal ini telah menggerus nilai-nilai yang seharusnya menyatukan umat manusia sebagai satu keluarga global.
“Memasuki tahun yang baru ini, dunia berada di persimpangan jalan. Kekacauan dan ketidakpastian menyelimuti kita,” ujar Guterres dalam pidatonya.
Pertanyaan Mendasar tentang Kepemimpinan Global
Di tengah situasi yang semakin kompleks, muncul pertanyaan mendasar dari masyarakat global. Banyak warga dunia mempertanyakan apakah para pemimpin benar-benar mendengarkan suara rakyat dan siap bertindak secara nyata. Guterres menilai bahwa jarak antara kepemimpinan global dan kebutuhan masyarakat semakin melebar.
“Perpecahan, kekerasan, krisis iklim, dan berbagai pelanggaran sistemik terhadap hukum internasional masih terus terjadi. Nilai-nilai yang seharusnya menyatukan kita sebagai satu keluarga umat manusia semakin tergerus. Di berbagai belahan dunia, masyarakat bertanya: Apakah para pemimpin benar-benar mendengarkan? Apakah mereka siap untuk bertindak?” tambahnya.
Lonjakan Anggaran Militer yang Mengkhawatirkan
Salah satu isu utama dalam pesan Tahun Baru Sekjen PBB adalah lonjakan anggaran militer global. Menurut data yang dirilis, belanja militer dunia telah mencapai 2,7 triliun dolar AS, meningkat hampir 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini sangat mencolok karena setara dengan total Produk Domestik Bruto (PDB) Afrika dan mencapai sekitar 13 kali lipat dari keseluruhan bantuan pembangunan global.
Ironisnya, peningkatan anggaran militer ini terjadi di tengah meningkatnya konflik bersenjata di berbagai kawasan. “Di saat yang sama, konflik bersenjata terus berkecamuk, mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sejak Perang Dunia II,” kata Guterres.
Menurutnya, eskalasi konflik bersenjata membawa dampak luas, seperti meningkatnya korban sipil, pengungsian massal, dan krisis kemanusiaan yang berkepanjangan. Di saat yang sama, perubahan iklim terus memperparah kerentanan negara-negara miskin dan berkembang.
Seruan untuk Meluruskan Prioritas Dunia
Guterres menyerukan perubahan arah kebijakan secara mendasar. Ia menekankan bahwa dunia yang lebih aman tidak dibangun melalui perlombaan senjata, melainkan lewat investasi untuk memerangi kemiskinan, mengurangi ketimpangan, dan memperkuat perdamaian.
“Di tahun yang baru ini, mari kita kembali meluruskan prioritas kita. Dunia yang lebih aman dimulai melalui investasi untuk memerangi kemiskinan, bukan peperangan. Perdamaian harus ditegakkan,” ujarnya.
Menurut Guterres, keamanan sejati hanya dapat tercapai jika kesejahteraan manusia menjadi pusat dari setiap kebijakan publik dan kerja sama internasional. Dalam pesannya, ia juga menyampaikan nada optimistis. Ia menegaskan bahwa secara kolektif, dunia memiliki sumber daya yang cukup untuk meningkatkan kesejahteraan umat manusia, memulihkan planet dari kerusakan lingkungan, serta menjamin masa depan yang adil dan damai.
Masalah utamanya, kata dia, bukan pada ketiadaan sumber daya, melainkan pada pilihan dan keberanian politik para pemimpin global dalam mengelolanya. Guterres secara khusus menyerukan kepada para pemimpin dunia agar menjadikan 2026 sebagai tahun aksi nyata. Ia meminta agar kepentingan manusia dan planet ditempatkan di atas kepentingan sempit yang justru melahirkan penderitaan dan konflik.
Ajakan untuk Bertindak Bersama
Tidak hanya kepada para pemimpin, Guterres juga mengajak seluruh masyarakat dunia untuk mengambil peran. Menurutnya, masa depan umat manusia tidak hanya ditentukan oleh keputusan di ruang-ruang kekuasaan, tetapi juga oleh keberanian kolektif setiap individu untuk bertindak.
Ia menutup pesan Tahun Baru 2026 dengan ajakan kebangkitan bersama demi nilai-nilai universal. “Dan kepada setiap orang yang mendengar pesan ini: ambillah peran Anda. Masa depan kita bergantung pada keberanian kolektif untuk bertindak. Di tahun yang baru ini, marilah kita bangkit bersama: Untuk keadilan. Untuk kemanusiaan. Untuk perdamaian,” tutupnya.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











