Kunjungan Gubernur Jabar ke Lokasi Bencana Aceh dan Sumatera
Beberapa waktu lalu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi melakukan kunjungan ke lokasi bencana banjir dan longsor di Aceh dan Sumatera. Dalam kunjungannya tersebut, ia memberikan bantuan senilai Rp 7 miliar yang mencakup pengakomodiran warga Jawa Barat yang terisolir akibat bencana.
Setelah pulang dari lokasi bencana, Dedi Mulyadi mengaku mendapat pelajaran berharga. Ia menyebutkan bahwa setelah melihat kondisi bencana di tiga provinsi di Pulau Sumatera, dirinya mempelajari betapa dahsyatnya bencana serta bagaimana penanggulangan dan pencegahan bencana harus dilakukan.
“Saya belajar pak, saya kemarin ke Aceh, ke Sumbar (Sumatera Barat) kemudian Sumut (Sumatera Utara), saya pelajari,” ujar Dedi Mulyadi dalam unggahannya di Instagram.
Menurut Dedi, penyebab bencana banjir dan longsor di Aceh dan Sumatera adalah rusaknya sistem lingkungan hidup dan ekologi. Ia menjelaskan bahwa ketika air dan lumpur menghantam daerah tersebut, hal itu mudah terjadi karena tidak ada pohon lagi, yang ada justru perkebunan sawit.
Perkebunan Sawit dan Dampak Lingkungan
Dedi menekankan bahwa karakteristik pohon sawit berbeda dengan pohon di hutan. Pohon sawit tidak tahan terhadap gelombang dan getaran, sehingga tidak cocok untuk melindungi daerah dari bencana. Sebaliknya, pohon di hutan mampu menahan air sekaligus menghasilkan pupuk sendiri.
Perkebunan sawit identik dengan tumbuhan yang manja, membutuhkan air dan pupuk. Berbeda dengan pohon-pohon di hutan yang memiliki variasi dan mampu menjaga keseimbangan ekosistem.
Dedi menegaskan bahwa perkebunan sawit merupakan tumbuhan homogen. Tumbuhan homogen ini seragam dan tidak memiliki variasi seperti yang ada di hutan. Menurutnya, banyaknya tumbuhan homogen seperti perkebunan sawit berbahaya bagi Indonesia, khususnya bagi kebinekaan.
Kondisi Lingkungan di Lokasi Bencana
Di lokasi bencana Aceh dan Sumatera, masyarakat sudah tidak memiliki lahan pangan dan lingkungan hidup yang rusak. Sungai-sungai tercemar, sementara lahan kebutuhan pokok seperti padi hampir tiada.
Dari pengalaman tersebut, Dedi Mulyadi merencanakan pembangunan di Jawa Barat. Jawa Barat sebagai wilayah yang rawan bencana, ia menegaskan akan melakukan berbagai pencegahan. Sejak menjabat selama 10 bulan lalu, ia fokus pada pencegahan dengan memperbaiki tata kelola lingkungan.
Upaya Pencegahan Bencana di Jawa Barat
Dedi menjelaskan bahwa ia telah melakukan perbaikan fungsi sungai, bendungan, dan lahan rawan bencana seperti Bekasi, Bogor, Bandung, dan lainnya. Ia menilai bahwa upaya memperbaiki tata kelola lingkungan selama 10 bulan cukup berhasil.
“Kita bisa melihat dalam 10 bulan terakhir ini waktu saya menjabat saya melakukan penanganan di Bogor, di hulu, melakukan penanganan di Bekasi. Sampai saat ini arealnya relatif sangat baik.”
Ia juga menyatakan bahwa rencananya akan bergerak ke wilayah Selatan, karena banyak lereng gunung berubah menjadi pemukiman dan perkebunan sayur, dengan risiko banjir dan longsor yang tinggi.
Pembangunan Berbasis Ekologi
Dedi ingin memitigasi atau mencegah bencana di Jawa Barat dengan cara menghijaukan gunung dan lereng, mengembalikan fungsi pesawahan dan sungai. Ia menekankan bahwa biaya pencegahan lebih murah dibandingkan pemulihan bencana.
Untuk menindaklanjuti langkah tersebut, Dedi berencana membuat pembangunan di Jawa Barat berbasis ekologi. Ekologi adalah ilmu biologi yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya, termasuk hubungan antar makhluk hidup itu sendiri dan dengan unsur lingkungan fisik seperti air, tanah, udara, cahaya, dan iklim.
Dengan memperhatikan ekologi, setiap pembangunan turut memperhatikan keseimbangan kehidupan. Manusia bukan pusat alam, tapi bagian dari sistem besar yang saling bergantung dengan tumbuhan, hewan, dan sekitarnya.
Kolaborasi dengan Dinas Terkait
Pemprov Jabar berkomitmen mengembalikan fungsi hutan, perkebunan, dan sungai. Dedi menyatakan bahwa pihaknya bekerja sama dengan dinas terkait untuk melancarkan kebijakan tersebut.
Ia menjelaskan bahwa selama ini lahan seperti pinggiran sungai di Jawa Barat sering dialihfungsi menjadi pemukiman warga maupun kuasai orang lain. Oleh karena itu, akan dilakukan penertiban sebagaimana yang telah dilakukannya selama 10 bulan menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat.
Selain itu, Dedi melakukan langkah dengan penataan aset lahan BUMN, serta lahan yang tersertifikasi. Ia menyatakan bahwa pihaknya ingin mendorong segera dilakukan sertifikasi dan kelengkapan administrasi, seperti izin lokasi dan Hak Guna Usaha (HGU) yang bertahun-tahun habis masa berlakunya, agar segera berproses.
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."











