"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Zulfa yang Menyentuh Hati



Ketegangan yang terjadi di Nahdlatul Ulama (NU) tampaknya sudah mencapai titik puncak. Jalan musyawarah tidak lagi berjalan lancar, dan upaya untuk meredakan perselisihan antara para tokoh NU juga tidak berhasil. Akibatnya, jabatan ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kini diisi oleh seorang penjabat (Pj).

Keputusan ini menandai akhir dari masa jabatan Gus Yahya Cholil Staquf sebagai ketua umum PBNU. Penunjukan Pj dilakukan oleh Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar. Yang mengambil alih posisi tersebut adalah KH Zulfa Mustofa, yang sebelumnya menjabat sebagai wakil ketua umum.

KH Zulfa Mustofa memang dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam struktur kepengurusan PBNU. Ia berada di urutan pertama dalam daftar wakil ketua umum, bersama dua orang lainnya. Meskipun demikian, ia belum banyak dikenal secara luas oleh masyarakat umum. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, namanya mulai viral melalui ceramah-ceramah agamanya yang disampaikan dengan gaya yang khas dan unik.

Beberapa contohnya adalah saat Kiai Zulfa menyanyikan salawat Nabi dengan berbagai irama, seperti lagu India Kuch Kuch Hota Hai, lagu Sunda Manuk Dadali, atau bahkan irama lagu Melayu Fatwa Pujangga. Bahkan, ia pernah menyanyikan salawat dalam irama lagu Mandarin Nán Ér Dāng Zì Qiáng yang terkenal dalam film Once Upon a Time in China.

Selain itu, Kiai Zulfa juga sering memberikan ceramah di forum Muhammadiyah. Ia menekankan pentingnya kerja sama antara NU dan Muhammadiyah, termasuk dalam hal pembangunan rumah sakit. Ia juga menjelaskan bahwa orang NU bisa membantu dengan menjadi pasien di rumah sakit yang dibangun oleh Muhammadiyah.

Kiai Zulfa juga dikenal sebagai tokoh yang menyuarakan moderasi. Hal ini membuatnya mirip dengan mantan ketua umum PBNU, Prof Dr KH Said Aqil Sirodj, yang dikenal sebagai sosok yang sangat dekat dengan Gus Dur. Kelebihan Kiai Zulfa dibandingkan Gus Yahya adalah kemampuannya dalam memahami ilmu agama serta pendekatannya yang lebih dekat dengan rakyat kecil. Humor-humor yang ia sampaikan juga cenderung santai dan tidak elit.

Sementara itu, konflik di NU terus berlanjut. Menurut Prof Mohammad Nuh, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan serta mantan Menteri Komunikasi dan Informatika, konflik ini bukanlah sengketa antarpihak, tetapi merupakan tindakan sanksi. Gus Yahya diberhentikan sebagai ketua umum karena dianggap bersalah, meskipun detail kesalahannya masih dirahasiakan.

Menurut informasi yang didapat, Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar pernah bertemu secara khusus dengan Gus Yahya pada 17 November 2025. Pertemuan tersebut diikuti oleh dua kali pertemuan lagi setelahnya. Dari pertemuan-pertemuan tersebut, muncul keputusan untuk memberhentikan Gus Yahya sebagai ketua umum.

Namun, Gus Yahya tidak dapat menerima keputusan tersebut. Ia merasa bahwa keputusan Rais Aam terlalu besar dan tidak sesuai dengan prinsip muktamar. Oleh karena itu, ia mengangkat Dra Amin Said Husni sebagai sekretaris jenderal baru, menggantikan Gus Ipul yang kini menjabat sebagai Menteri Sosial.

Langkah ini dinilai sebagai tindakan “mbalelo” oleh Rais Aam. Akibatnya, dilakukanlah sidang pleno syuriah PBNU yang dikenal sebagai tanfidiyah. Sidang tersebut diadakan di Hotel Sultan, Jakarta, dan dihadiri oleh Menteri Agama KH Prof Nasaruddin Umar. Dalam sidang tersebut, diputuskan bahwa KH Zulfa Mustofa akan menjabat sebagai penjabat ketua umum PBNU.

Kiai Zulfa sendiri telah menyatakan siap menjalani tugas tersebut. Dalam pidato penerimaan jabatannya, ia menyebut dirinya sebagai “Al Fakir” yang mendapat amanah memimpin NU.

Proses selanjutnya adalah pengesahan dari pemerintah, khususnya oleh Menteri Hukum dan HAM. Setelah itu, Kiai Zulfa akan resmi berkantor di gedung PBNU yang berada di Jalan Kramat Raya, Jakarta.

Yang terberat bagi Kiai Zulfa adalah menentukan mitra yang akan bekerja sama dalam pengelolaan tambang batu bara milik NU di Bontang seluas 25.000 hektare. Konflik ini bisa saja terjadi kembali jika tidak ada kesepakatan yang jelas.

Bayu Purnomo

Penulis yang terbiasa meliput isu-isu pemerintahan, ekonomi, hingga gaya hidup ringan. Ia gemar bersepeda sore dan merawat tanaman hias di rumah. Rutinitas sederhana itu membantunya menjaga fokus dan kreativitas. Motto: "Berpikir jernih menghasilkan tulisan yang kuat."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *