Kota Malang Kembali Dilanda Banjir, Warga Khawatirkan Kebiasaan Baru
Kota Malang kembali dilaporkan mengalami bencana banjir dalam tiga hari terakhir hingga Sabtu (6/12). Curah hujan tinggi yang berlangsung selama beberapa jam menyebabkan genangan dan luapan air di setidaknya 39 titik di tiga kecamatan, yaitu Blimbing, Sukun, dan Lowokwaru. Kejadian ini mengganggu aktivitas warga, melumpuhkan lalu lintas di jalur utama Malang-Surabaya, serta merendam ratusan rumah dan sejumlah kendaraan bermotor.
Beberapa netizen yang menjadi saksi kejadian hujan ini menganggap hujan bulan ini lebih tinggi dari musim penghujan tahun lampau. Mereka menyampaikan kekecewaan mereka atas kondisi yang semakin memburuk.
- “Agak kaget malang gapernah sekalipun banjir tiba-tiba dari taun kemarin mulai sering banjir,” ungkap akun X @exhaustedalr.
- “Belum lagi penduduknya memang makin padat. Aku kuliah di sana tahun 2019 masih belum banyak perantau bawa mobil. Tapi, pas lulus th 2024, kayak gaada perantau gabawa mobil sendiri ke Malang itu.”
- “Dari bayek sampe gede baru kali ini lait malang banjir brutal gini. Mana pemkotnya juga warwerwor perbaikin gorong-gorong di akhir tahun,” timpal RakaBummii melalui akun X.
- “Drainase malang jujur kalau mau dilihat parit2 di perumahan dan perkampungan, kemudian saluran yg bercabang dari dan ke tandon2 sampai ke kali besar itu lumayan. Masalahnya, kok masih banjir?” ungkap akun Leo Resha di X. Warga Lowokwaru itu mengungkapnya keheranannya pada fenomena akhir-akhir ini.
Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang, luapan air dari sungai di jalur utama Malang-Surabaya memicu genangan yang melumpuhkan arus lalu lintas selama berjam-jam. Air mengalir deras ke permukiman warga, merendam ratusan rumah, merusak tembok, dan bahkan menghanyutkan kendaraan bermotor. Ketinggian air di beberapa lokasi dilaporkan mencapai 150-160 sentimeter, cukup untuk menenggelamkan mobil kecil dan mengancam keselamatan jiwa.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang telah bergerak cepat menangani dampak banjir. Kepala Pelaksana BPBD Kota Malang, Prayitno, menyatakan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan pengurus RT/RW di wilayah terdampak untuk menyiapkan titik pengungsian bagi warga yang rumahnya rusak, serta mengatur pendistribusian bantuan makanan dan family kit.
Prayitno mengaitkan kejadian ini dengan fenomena perubahan iklim, yang menyebabkan peningkatan curah hujan ekstrem. “Yang jelas informasi nasional curah hujan memang naik sampai 40 persen karena perubahan iklim,” ujarnya.
Pernyataan ini sejalan dengan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebutkan bahwa fenomena La Niña kategori lemah diprediksi aktif mulai Oktober 2025 hingga awal 2026. Kondisi ini menyebabkan musim hujan datang lebih awal, dengan puncaknya diperkirakan terjadi pada Desember 2025 di wilayah Malang Raya.
Efektivitas Sistem Drainase Kota Malang
Data intensitas banjir di Kota Malang menunjukkan kecenderungan meningkat. Data 2024 mencatat 36 kejadian banjir Malang, sedangkan di 2025, jumlahnya meningkat menjadi 187 kejadian. Meski banjir terjadi dengan cepat dan ketinggian air di beberapa lokasi dilaporkan mencapai 150-160 sentimeter, waktu surut genangan relatif singkat. Dalam banyak titik, air surut kurang dari tiga jam setelah hujan berhenti.
Hal ini menunjukkan bahwa sistem drainase kota masih memiliki efektivitas yang cukup baik dalam menyalurkan air, bahkan lebih cepat dari standar Key Performance Indicator (KPI) penanganan genangan di beberapa kota besar yang berkisar maksimal enam jam.
Namun, kejadian ini kembali menyoroti kerentanan kota-kota Indonesia menghadapi iklim yang berubah. Data BNPB mencatat bahwa dalam satu dekade terakhir, lebih dari 90% bencana di Indonesia didominasi oleh bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor. Di balik faktor alam, tantangan tata kota seperti drainase yang tidak optimal, penyempitan sungai, dan alih fungsi lahan turut memperparah dampak bencana. Banjir di Malang menjadi pengingat bahwa adaptasi terhadap perubahan iklim dan perbaikan sistem drainase perkotaan harus menjadi prioritas kebijakan untuk mengurangi risiko di masa mendatang.











