"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"
Bisnis  

Tekanan Jual Asing di Saham Himbara Masih Berlangsung



JAKARTA.

Minat investor asing terhadap saham perbankan sempat menunjukkan tanda-tanda pemulihan, namun kini situasi kembali berubah. Investor asing kembali melakukan aksi jual terhadap saham-saham bank milik negara atau yang dikenal sebagai Himbara. Fenomena ini terlihat dalam sepekan terakhir, di mana hanya PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang masih mencatatkan net foreign buy sebesar Rp 241,79 miliar.

Sementara itu, tiga bank lainnya yaitu PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) mencatatkan net foreign sell dalam periode yang sama. BBRI menjadi yang paling besar dengan catatan net foreign sell sebesar Rp 3,06 triliun. Pada perdagangan Selasa (2/12) saja, asing mencatatkan net sell senilai Rp 26,85 miliar.

Selanjutnya, BBNI memiliki catatan net foreign sell sekitar Rp 35,87 miliar, sedangkan BBTN mencatatkan net sell lebih kecil yaitu Rp 4,58 miliar.

Penyebab Aksi Jual Investor Asing

Menurut Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas, tekanan jual dari investor asing di saham-saham Himbara sudah mulai mereda dibandingkan awal tahun 2025. Meski demikian, saat ini investor asing cenderung melakukan wait and see karena beberapa faktor.

Faktor-faktor tersebut antara lain:
* Timing penurunan Fed Rate – investor menunggu kepastian tentang kapan suku bunga AS akan turun.
* Margin yang belum pulih – biaya dana yang masih mahal menghambat pertumbuhan laba bank.
* Kredit yang belum pulih – kondisi kredit nasabah belum sepenuhnya pulih.
* Penugasan pemerintah – ada ketidakpastian terkait kebijakan pemerintah terhadap sektor perbankan.

Wafi menilai bahwa investor asing saat ini sedang menantikan hasil kinerja Himbara hingga akhir 2025, serta target akhir untuk tahun 2026. Ia juga menyatakan bahwa selama guidance belum solid, investor cenderung melakukan trading jangka pendek.

Stabilitas Saham Bank

Meskipun ada penurunan minat, Wafi melihat beberapa saham bank mulai stabil. Ia menyoroti BBRI karena memiliki dana murah yang kuat dan kualitas kredit UMKM yang stabil. Sementara BBNI dinilai memiliki valuasi paling murah dan prospek NIM yang cepat pulih.

“Secara keseluruhan, saham bank masih menarik. BBRI di harga Rp 5.000, BBNI di Rp 5.600, dan BMRI di Rp 5.800,” ujarnya.

Pandangan Analis Lain

Maximilianus Nicodemus, Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, setuju bahwa investor asing masih dalam posisi wait and see. Menurut Nico, tidak ada alasan kuat bagi mereka untuk kembali masuk ke saham perbankan. Ia menyoroti sektor-sektor lain yang memiliki kinerja positif secara fundamental, sehingga pergerakan sahamnya meningkat signifikan.

Nico menilai bahwa jika investor ritel ingin memperpanjang durasi investasi, akumulasi bisa menjadi peluang. Namun, ia memprediksi hingga kuartal 1/2026, pergerakan saham bank Himbara masih akan terbatas.

Perspektif Andrey Wijaya

Andrey Wijaya, Analis RHB Sekuritas, berpandangan bahwa investor asing saat ini lebih khawatir terhadap risiko volatilitas dan pelemahan rupiah. Hal ini bisa menyebabkan imbal hasil dalam mata uang asing berkurang.

Ia memprediksi bahwa pertumbuhan kinerja Himbara akan positif di tahun depan, meskipun saat ini mayoritas bank mencatatkan penurunan laba dibandingkan tahun lalu. “Seharusnya tahun depan kondisi akan lebih baik, terutama ketika rupiah sudah mulai stabil dan menguat,” katanya.

BMRI Chart

by TradingView

Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *