— Kabar duka datang dari keluarga penyanyi Raisa Andriana. Ibundanya, Ria Mariaty, meninggal dunia pada Sabtu (29/11/2025) sekitar pukul 07.19 WIB di Rumah Sakit Dharmais, Jakarta Barat, setelah berjuang melawan kanker paru.
Melalui unggahan di Instagram Stories, Raisa menyampaikan rasa kehilangan dan mengabarkan bahwa sang ibu telah berpulang.
Kepergian ini kembali membuka percakapan publik mengenai kanker paru yang menjadi salah satu kanker paling mematikan yang sering terlambat terdeteksi.
Untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat, berikut beberapa gejala kanker paru yang diuraikan oleh pulmonolog Cleveland Clinic, Dr. Humberto Choi:
Gejala kanker paru yang wajib diwaspadai
-
Batuk berkepanjangan yang tak kunjung membaik
Batuk adalah gejala paling umum. Namun, pada kanker paru, batuk biasanya datang dengan pola yang berbeda. Batuk bisa terdengar lebih berat, muncul lebih sering, atau berubah dari batuk kering menjadi berdahak. Choi menjelaskan, kanker paru sering tidak terdeteksi karena gejalanya seperti flu biasa. “Penyakit ini bisa sangat ‘diam’. Ketika gejala muncul, sifatnya sangat tidak spesifik sehingga orang menganggapnya cuma sinus atau alergi,” katanya. Yang harus diwaspadai adalah batuk yang bertahan lebih dari tiga minggu, terutama jika disertai penurunan energi, suara mengi, atau rasa tidak nyaman di dada. Batuk berkepanjangan menandakan adanya iritasi atau hambatan pada saluran napas yang tidak normal. -
Batuk berdarah
Munculnya darah, baik berupa bercak kecil maupun jumlah yang lebih banyak, merupakan tanda serius bahwa ada masalah di paru-paru. Darah dapat berasal dari tumor yang mengalami pendarahan atau jaringan paru yang rusak. “Ini bisa jadi tumor yang berdarah. Tumor yang membesar dapat menekan atau memasuki struktur di sekitarnya sehingga menyebabkan perdarahan,” ujar Choi. Gejala ini tidak boleh ditunda untuk diperiksa, bahkan jika hanya terjadi sekali. Sebab, hal itu menunjukkan adanya gangguan pada jaringan paru yang bisa berhubungan dengan kanker. -
Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas
Penurunan berat badan tanpa diet atau perubahan pola hidup menjadi salah satu tanda kanker paru karena tumor dapat mengganggu metabolisme dan menekan nafsu makan. Tubuh bisa saja secara tiba-tiba kehilangan massa otot dan lemak tanpa penjelasan medis. Menurut penelitian tahun 2023, penurunan berat badan adalah pola khas yang muncul beberapa bulan sebelum diagnosis kanker paru ditegakkan. “Jika saya kehilangan berat badan tanpa alasan yang jelas, itu menjadi sinyal penting untuk mencari bantuan,” terang Choi. Perubahan ini sering baru disadari ketika pakaian mulai longgar atau angka timbangan turun drastis lebih dari 10 persen dalam waktu singkat. -
Sesak napas atau napas terasa pendek
Sesak napas muncul karena berbagai mekanisme. Tumor bisa menyumbat saluran udara, menekan paru, atau mengisi ruang di dalam dada sehingga paru tidak dapat mengembang dengan baik. Kondisi ini membuat pasien merasa sulit mengambil napas dalam atau mengalami sesak napas. “Penyumbatan pada bronkus atau tumor yang tumbuh besar bisa membuat pasien sulit bernapas,” jelas Choi. Pada beberapa kasus, pasien merasa cepat lelah hanya dengan berjalan beberapa langkah atau menaiki tangga. Kelelahan akibat kanker juga dapat membuat sesak napas terasa lebih berat meski aktivitas dilakukan ringan. -
Nyeri dada yang muncul saat bergerak atau batuk
Nyeri dada pada kanker paru terasa berbeda dengan nyeri otot. Rasa sakitnya bisa muncul ketika pasien menarik napas dalam, batuk, atau sekadar mengubah posisi tubuh. “Jika tumor sudah menimbulkan rasa sakit, biasanya ukurannya besar atau mulai menyentuh jaringan tertentu seperti dinding dada atau selaput paru,” tuturnya. Nyeri dapat terasa seperti ditusuk, ditekan, atau nyeri tumpul yang tidak hilang meski sudah istirahat. Cairan berlebih di sekitar paru juga dapat memicu ketidaknyamanan pada dada. -
Suara serak atau perubahan suara tanpa alasan
Suara yang tiba-tiba menjadi serak, parau, atau berubah nada tanpa infeksi tenggorokan harus diperiksa lebih lanjut. Tumor di area dada bisa menekan saraf yang mengatur gerakan pita suara. “Saraf di area dada yang mengatur otot pita suara bisa terkena dampak tumor sehingga suara menjadi serak atau parau,” ucap Choi. Banyak kasus kanker paru ditemukan karena perubahan suara ini semakin jelas dan tidak kunjung pulih setelah beberapa minggu. -
Nyeri punggung yang tidak terkait cedera
Nyeri punggung pada kanker paru bisa muncul jika penyakit sudah menyebar ke tulang belakang atau jika terdapat penumpukan cairan di sekitar paru. Choi mengungkap, rasa sakitnya bisa muncul di punggung bagian atas atau bawah, tergantung lokasi tumor. Banyak pasien mengira nyeri punggung berasal dari postur tubuh atau kelelahan, padahal tumor bisa menekan jaringan saraf atau tulang.
Waspada kanker paru-paru sejak dini sangat penting. Sebagian besar pasien datang ke dokter setelah pemeriksaan X-ray atau CT scan menunjukkan adanya bintik pada paru yang sebenarnya ditemukan secara tidak sengaja. “Jika ada temuan abnormal di X-ray atau CT scan, jangan biarkan begitu saja. Segera lakukan evaluasi,” imbau Choi. Meski perokok memiliki risiko paling tinggi, kanker paru juga meningkat pada kelompok non-perokok, terutama perempuan muda, akibat paparan radon, mutasi DNA, dan kualitas udara yang buruk.











