Kekesalan Gubernur Dedi Mulyadi terhadap Suderajat
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengungkapkan kekecewaannya terhadap Suderajat, seorang penjual es kue yang viral di media sosial. Menurut Dedi, Suderajat dinilai sering berbohong tentang kondisi ekonomi dan rencana penggunaan uang bantuan yang diberikan olehnya.
Beberapa hal yang membuat Dedi merasa tertipu antara lain:
- Suderajat mengaku memiliki utang biaya sekolah anak selama 6 bulan, padahal hanya menunggak selama 1 bulan.
- Ia juga menyatakan bahwa rumah kontrakan tidak mampu dibayar, meskipun sebenarnya memiliki rumah sendiri yang sedang direnovasi.
- Terlebih lagi, Suderajat mengungkapkan niat menggunakan uang bantuan usaha untuk menggelar pesta pernikahan anaknya.
Dedi Mulyadi mengatakan bahwa uang tersebut seharusnya digunakan untuk memperbaiki kondisi hidup Suderajat, bukan untuk kebutuhan anaknya. Ia menyarankan agar uang itu digunakan untuk membuka usaha baru.
Namun, ternyata jualan es kue yang dilakukan Suderajat tidak memerlukan modal. Ia mengatakan bahwa ia akan mulai berjualan besok tanpa perlu mengeluarkan modal apa pun. Hal ini membuat Dedi semakin kecewa karena merasa banyak dibohongi meskipun dirinya sangat peduli.
Keluarga Suderajat Langsung Beri Klarifikasi
Anak dari Suderajat, Andi, memberikan klarifikasi terkait tudingan bahwa ayahnya berbohong. Ia menjelaskan bahwa pernyataan ayahnya bukanlah niat untuk menipu, melainkan akibat gangguan mental pascatrauma.
Andi menyatakan bahwa Suderajat saat ini terindikasi mengalami gangguan kejiwaan setelah sempat dituduh menjual es gabus berbahan spons yang kemudian viral. Hasil diagnosis sementara didasarkan pada tinjauan awal pihak Kecamatan Bojonggede.
Ia juga meluruskan tuduhan mengenai rumah yang dianggap berbohong. Menurut Andi, Suderajat dan keluarga tinggal di rumah kontrakan sejak Desember 2025 karena rumah pribadi mereka sedang direnovasi melalui program bantuan RTLH Pemerintah Kabupaten Bogor.
Selain itu, kondisi kejiwaan tersebut juga berdampak pada kemampuan komunikasi Suderajat. Ia kesulitan menyampaikan informasi secara runtut dan konsisten.
Indikasi Disabilitas Mental
Pihak Kecamatan Bojonggede juga mengungkapkan bahwa ada indikasi disabilitas mental terhadap Suderajat dan istrinya. Camat Bojonggede, Tenny Ramdhani, menjelaskan bahwa perilaku Suderajat yang kerap memberikan jawaban berubah-ubah saat ditanya bukan semata-mata karena bohong.
Menurut pihak kecamatan, ada dugaan gangguan mental pascatrauma yang memengaruhi kemampuan komunikasi verbal Suderajat dan istri. Bahkan, menurut keterangan RT dan RW setempat, tampak tanda-tanda keterbelakangan secara psikologis dan mental sejak lama.
Kondisi tersebut diperparah dari tekanan setelah peristiwa yang menimpanya. “Apalagi kondisi istrinya bahkan terlihat lebih parah,” ungkapnya.
Awal Mula Viral, Kronologi Diintimidasi
Suderajat menceritakan kronologi kejadian sebelum dirinya mendapatkan intimidasi. Saat itu, ada seorang anak perempuan yang membeli dagangannya. Menurut Suderajat, anak itu baru pertama kali membeli es kue jualannya.
Setelah itu, beberapa oknum aparat datang dan langsung menginterogasi dirinya. “Datang 10 orang, saya ditonjok, ‘ngaku gak lu, ngaku gak lu’. Saya udah ngomong, tapi budek dia,” katanya kesal.
Padahal menurut Suderajat, dirinya sudah berjualan di sekolah tersebut selama 10 tahun. Selama ini, tidak ada anak sekolahan yang komplain dengan dagangannya. Setelah itu, Suderajat dibawa ke kantor polisi untuk diinterogasi lebih lanjut.
Es kue dagangannya juga turut diperiksa. “Dibawa ke kantor polisi, baru dipulangin jam 3 subuh. Es nya dites, ternyata asli. Terus pada minta maaf ke saya, sampe suduj di kaki,” tuturnya.
Sehari-hari, Suderajat bisa membawa pulang uang Rp 200 ribu sebagai keuntungan. Namun hingga saat ini, ia masih belum berani berjualan lagi. “Belum jualan lagi, takut diincer, takut dibunuh,” katanya.
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”











