"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Penderitaan Meylani, PMI Manado Terjebak di Libya, Masih Bekerja Tengah Malam

Kisah Pilu PMI Asal Manado yang Diduga Dianiaya di Libya

Meylani Madalombang, seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Manado, kini terjebak dalam situasi yang sangat menyedihkan. Ia diduga mengalami penganiayaan oleh majikan di Libya dan kini dalam kondisi sakit. Keluarganya menceritakan penderitaan yang dialaminya dan berharap bisa segera pulang ke tanah air.

Keluarga Meylani memohon bantuan kepada para tokoh penting seperti Presiden Prabowo Subianto, Menteri, serta Gubernur YSK agar dapat membantu memulangkan Meylani dari negara tersebut. Mereka telah melakukan berbagai upaya, namun semuanya terasa sia-sia.

Pengalaman Meylani di Libya

Pengalaman Meylani di Libya sangat menegaskan. Dari cerita-cerita yang ia bagikan melalui chat dengan keluarganya, terlihat betapa beratnya beban yang ia alami. Dalam chat yang diterima oleh adiknya, Olivia, Meylani mengungkapkan bahwa dirinya dibuat seperti robot, bekerja tanpa henti. Bahkan, ia hanya diberi waktu istirahat singkat.

“Qt dbking rupa robot ksyg Krja nd brnti Kong krja bkg cma 1 rumh Dy pigi pdpe mm mntu dy bwa pqt suru krja leh Pigi pdpe mm perumh krja leh ksyg Qt nd kuat Tpe bdn”, smua ini so saki saki,

Berikut terjemahan dalam bahasa Indonesia:

“Saya dibuat seperti robot kasihan, kerja tidak berhenti dan kerja bukan hanya 1 rumah. Dia pergi ke rumah mama mantu, terus dia bawa saya dan suruh kerja lagi di rumah mamanya, badan saya sudah tidak kuat, semua sakit.”

Sampai di rumah sudah jam 12 malam, masih membersihkan dapurnya, kemudian baru mau naik ke kamar masih dipanggil-panggil lagi. Lebih jauh, Meylani mengeluh tentang perlakuan buruk yang ia terima. Bahkan, saat ia mencoba untuk beristirahat, ia tetap dipanggil dan diminta bekerja.

Perjalanan Ke Libya

Awalnya, Meylani ingin bekerja di luar negeri untuk menambah penghasilan. Ia awalnya berangkat melalui sebuah perusahaan, namun ada penyalur yang menawarkan jalan lebih cepat. Meylani ditawarkan paspor wisata, meskipun ia merasa aneh. Namun, penyalur tersebut mengatakan bahwa itu hanya sementara.

Setelah tiba di bandara, Meylani diberitahu bahwa ia akan diberangkatkan ke Dubai. Ia protes karena sebelumnya ia dijanjikan kerja di Turki. Namun, penyalur mengatakan bahwa ia harus membayar ganti rugi, dan akhirnya Meylani setuju.

Dari Manado, Meylani menuju Makassar, lalu Jakarta. Di Jakarta, ada agen yang menjemputnya dan membawanya ke Dubai. Setelah dua minggu di Dubai, Meylani akhirnya dibawa ke Libya. Di sana, ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

Perlakuan Buruk dari Majikan

Di Libya, Meylani menghadapi perlakuan yang sangat tidak manusiawi. Majikan pertamanya sangat kasar, hanya bekerja selama dua minggu. Setelah itu, ia pindah ke majikan lain, yang ternyata juga tidak berbeda. Meylani sering dilempari barang tajam dan bahkan pernah terluka di tangan. Ia meminta pertolongan, tapi tidak dianggap serius.

Akibat tekanan mental dan fisik, Meylani akhirnya kabur. Ia hanya membawa baju, ponsel, dan charger. Ia mencari sinyal di sebuah cafe dan berhasil menghubungi seorang pramugara yang pernah ia temui di pesawat. Pramugara tersebut membantunya dan membawanya ke saudara temannya.

Kembali ke KBRI dan Masalah Baru

Setelah sampai di KBRI Indonesia di Tripoli, Meylani menghadapi masalah baru. Staf KBRI meminta uang kepada Meylani, padahal ia tidak memiliki uang sama sekali. Semua uang yang ia miliki telah habis digunakan untuk biaya perjalanan.

Meskipun begitu, keluarga dan teman-temannya berusaha membantu. Meylani ditempatkan di bawah perlindungan orang yang baik, tetapi ia tetap membutuhkan bantuan untuk pulang ke Indonesia.

Harapan Keluarga

Keluarga Meylani terus berharap agar bisa segera memulangkan kakak mereka. Mereka percaya bahwa bantuan dari tokoh-tokoh penting bisa menjadi jalan keluar dari kesulitan yang mereka hadapi.


Amirah Rahimah

Reporter berita perkotaan yang gemar berkeliling kota untuk mencari cerita. Ia menikmati fotografi gedung, membaca artikel arsitektur, dan menyusun catatan kecil tentang perubahan kota. Hobi lainnya adalah menikmati kopi di kedai lokal. Motto: “Kota bicara melalui cerita warganya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *