Perubahan yang Konsisten Mengubah Wajah Perkebunan Sawit
Kunjungan Managing Director Danantara ke PTPN IV Regional III Kebun Sei Pagar, Kabupaten Kampar, Riau, menunjukkan bahwa perubahan besar tidak selalu membutuhkan lompatan besar. Dari rasa takzim yang terasa saat ia menyusuri kebun dan pabrik, terlihat bahwa perusahaan ini telah melakukan transformasi yang signifikan.
Bukan hanya karena luas areal atau suara mesin yang terdengar nyaris tanpa jeda, tetapi karena detail-detail kecil yang menarik perhatian. Layar digital yang memantau kondisi kebun, peralatan mekanisasi yang meningkatkan efektivitas pekerjaan, pengelolaan limbah sebagai sumber daya, serta pemanfaatan biota alami untuk memperkuat produksi.
Digitalisasi telah membuat pengambilan keputusan lebih presisi, sedangkan mekanisasi mempercepat proses kerja di lapangan. Keberlanjutan menjadi bingkai utama yang mengikat semua inisiatif tersebut. Dari Sei Pagar, Danantara membaca pesan penting: perubahan yang konsisten meninggalkan jejak yang dalam.
Perubahan, akselerasi, dan konsistensi itu secara tegas mengikis kesan bahwa perusahaan perkebunan negara sering berjalan lamban. Justru, mereka menemukan cara baru yang lebih modern, terukur, dan percaya diri. Transformasi, bagi mereka, adalah keniscayaan.
Managing Director Business 2 Danantara Setyanto Hantoro dan Managing Director Risk Management Danantara Riko Banardi sepakat bahwa saat ini PalmCo adalah salah satu aset penting bangsa. Dengan transformasi yang dipimpin oleh Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko Santosa, keduanya memastikan bahwa Danantara mendukung penuh anak usaha Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) untuk mencapai kinerja terbaiknya.
PalmCo sendiri adalah perusahaan yang sangat besar. Total areal yang dikelolanya mencapai lebih dari 600.000 hektare. Itu setara dengan sembilan kali luas Provinsi Jakarta. Sementara Regional III merupakan salah satu dari tujuh Regional yang dikelola PalmCo di berbagai penjuru Nusantara. Dari kunjungan itu, Setyanto menyadari bahwa anak perusahaan Holding Perkebunan Nusantara III (Persero) tersebut masih memiliki potensi besar untuk dimaksimalkan.
“Jika seluruh Regional memiliki kinerja, semangat, standar, dan konsistensi seperti di sini, maka saya yakin PalmCo menjadi world best company in the world,” kata dia.
Untuk itu, Danantara menempatkan PalmCo sebagai aset strategis penting. Dukungan penuh dipastikan diberikan kepada PalmCo yang kini dinakhodai Jatmiko Santosa itu untuk secara bertahap melangsungkan perbaikan di seluruh lini.
“Transformasi di sektor perkebunan tidak cukup berhenti pada perencanaan. Yang kami lihat di sini adalah konsistensi dan keberanian mengeksekusi perubahan secara menyeluruh, dari hulu hingga hilir. Ini penting untuk mendukung kemandirian pangan dan energi sekaligus kedaulatan ekonomi,” kata Setyanto.
Hal senada diungkapkan Riko Banardi. Ia mengatakan bahwa dengan adanya kunjungan kerja ini, maka Danantara bisa mempelajari teknis bisnis sawit terintegrasi PalmCo. Sehingga, kolaborasi Danantara sebagai pemegang saham dan PalmCo bisa lebih baik di masa mendatang.
Ia turut mengapresiasi kebijakan Dirut PalmCo, Jatmiko Santosa, yang dinilai berhasil memadukan tiga hal utama dalam transformasi PalmCo, yaitu digitalisasi, mekanisasi, dan penguatan kapasitas sumber daya manusia.
“Saya bangga sekaligus sangat impressed dengan PTPN IV PalmCo. Pertama, Bottomline PalmCo sangat jelas. Impact dan output seperti apa, itu jelas. Kedua, saya bangga Pak Jatmiko bisa menyeimbangkan digitalisasi, mekanisasi, dan manusianya,” paparnya.
Sementara bagi Jatmiko, seluruh inisiatif yang diusung tersebut bukan semata untuk memanjakan mata. Hal yang paling utama dalam pengambilan keputusan atas inisiatif itu adalah efektivitas dan efisiensi.
Sebelum diputuskan untuk dimanfaatkan secara luas, tiap inisiatif diujicoba melalui demplot. Kemudian dikalibrasi, dihitung, dan dinilai hasil akhirnya. Jika memenuhi kriteria, maka inisiatif tersebut dimanfaatkan secara luas. Namun, jika dianggap mubazir, maka dihentikan.
“Kami pernah ujicoba grabber. Ternyata setelah kalibrasi dan hitung ulang, tidak efektif. Jadi tidak ada alasan untuk dilanjutkan,” kata Jatmiko.
Jatmiko sendiri adalah sosok penting yang membawa PTPN IV Regional III hingga berada di posisi berbeda saat ini. Sejak 2019, Jatmiko yang memimpin entitas dengan embrio awal bersama PTPN V itu mengusung ragam perbaikan. Kini, dia menakhodai PTPN IV PalmCo. Dengan kompleksitas, tantangan, dan areal yang lebih luas. Namun, dua tahun memimpin, ia cukup berhasil.
Hal itu dibuktikan dengan PalmCo yang berhasil mencatat kinerja positif sepanjang 2025. Secara keseluruhan, pada tahun lalu perusahaan mencatatkan produktivitas CPO 4,70 ton per hektare pertahun, tumbuh 9 persen dibandingkan periode sebelumnya. Laba bersih PalmCo juga mencapai Rp 6,19 triliun, atau sekitar 170 persen dari target Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP).
Meski begitu, tantangan nyata yang kini dihadapi adalah disparitas antar Regional. Ini menjadi PR penting yang membutuhkan kolaborasi dan sinergis serta dukungan Danantara.
Di tengah ketidakpastian global sektor pangan dan energi, apa yang berlangsung di Sei Pagar menawarkan sebuah pelajaran penting. Bahwa modernisasi BUMN perkebunan tidak harus hadir dalam lompatan besar yang gegap gempita. Ia dapat tumbuh dari perubahan kecil yang konsisten, dari bibit, kebun, pabrik, hingga cara memandang limbah.
Sawit, dalam konteks ini, sedang belajar menata masa depan. Tidak hanya untuk mengejar angka produksi, tetapi juga untuk menemukan keseimbangan antara kebutuhan hari ini dan tanggung jawab terhadap generasi yang akan datang.











