Isu Reshuffle Kabinet di Tengah Perayaan Retret
Setelah Presiden Prabowo Subianto menggelar retret bersama para menteri, isu perombakan kabinet kembali mencuat. Pengamat politik mulai memetakan empat klaster menteri yang dinilai rawan diganti dalam proses reshuffle tersebut.
Retret yang dilaksanakan oleh Presiden Prabowo bersama jajaran menteri di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada awal Januari 2026 lalu, menjadi momen penting dalam evaluasi kinerja pemerintahan. Dalam konteks politik, retret adalah kegiatan menyepi atau berkumpul tertutup yang biasanya dilakukan oleh tokoh, partai, atau elite politik untuk refleksi, konsolidasi, dan perumusan strategi, sering kali di luar sorotan publik.
Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis, Agung Baskoro, menyoroti bahwa empat klaster menteri di kabinet Prabowo wajib waspada terkait isu reshuffle. Terlebih, menteri yang menangani kebijakan yang berkaitan langsung dengan rakyat.
Klaster 1: Berkaitan Program untuk Rakyat
Agung menjelaskan bahwa menteri-menteri yang menangani program-program seperti Makanan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, dan Cek Kesehatan Gratis, rentan diganti jika target kualitas program tidak terpenuhi. Ia menegaskan bahwa program ini menjadi fokus utama karena berdampak langsung kepada masyarakat luas.
Klaster 2: Sektor Ekonomi
Klaster kedua yang harus waspada adalah menteri di sektor ekonomi. Situasi ekonomi saat ini menuntut penguatan daya beli masyarakat hingga stabilitas harga bahan pokok. Sehingga, kementerian di bidang ekonomi menjadi perhatian utama publik dan pemerintah.
Klaster 3: Profesional
Ketiga, menteri dari kalangan profesional namun kinerjanya biasa saja juga beresiko diganti. Agung menyatakan bahwa menteri-menteri yang kinerjanya tidak maksimal akan menjadi prioritas evaluasi dalam reshuffle.
Klaster 4: Kalangan Parpol
Klaster keempat adalah menteri yang berasal dari partai politik (parpol). Meski di-reshuffle, Agung menilai menteri dari parpol tidak akan keluar dari lingkaran kementerian, meskipun posisi mereka mungkin bergeser.
Isu ‘Gelap Gulita’
Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno, menilai isu reshuffle yang berembus saat ini terasa janggal. Ia mengatakan situasi isu reshuffle saat ini gelap gulita karena tidak ada tanda-tanda Presiden Prabowo Subianto akan melakukan perombakan dalam waktu dekat. Bahkan, Prabowo justru mengapresiasi positif kinerja para menterinya.
Adi menegaskan bahwa meskipun isu reshuffle terkesan mendadak, hal ini tetap wajar sebagai bentuk evaluasi terhadap pemerintahan. Ia juga menyebut adanya dinamika politik di balik isu reshuffle, termasuk kunjungan beberapa menteri ke kediaman mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan rumah Prabowo di Kertanegara, Jakarta Selatan.
Ia menambahkan bahwa setelah setahun lebih pemerintahan Prabowo-Gibran, banyak desakan publik agar menteri yang kerjanya buruk segera diganti. Namun, ia menegaskan bahwa urgensi reshuffle tetap ada jika memang ditemukan menteri yang tidak menunjukkan performa maksimal.
Reaksi PAN dan Golkar
Menanggapi isu reshuffle, Wakil Ketua Umum DPP PAN, Saleh Partaonan Daulay, menilainya sebagai hak prerogatif Presiden Prabowo Subianto. Ia menekankan bahwa Presiden punya kewenangan penuh untuk mengevaluasi dan mengganti menteri di kabinet.
Saleh menyebut bahwa reshuffle bisa saja menyasar menteri-menteiri yang dianggap punya kinerja baik. Ia mengatakan apabila sudah seperti itu, semua pihak harus mengikuti keputusan presiden. Ia juga menyampaikan harapan PAN apabila reshuffle benar terjadi dalam waktu dekat.
Sementara itu, Golkar melalui Sekretaris Jenderalnya, Sarmuji, juga menyebut reshuffle merupakan hak prerogatif presiden. Ia berpendapat bahwa presiden adalah pihak yang paling mengetahui apakah diperlukan evaluasi hingga perombakan kabinet atau tidak.
Hubungan Golkar dan Presiden saat ini berjalan sangat baik. Karena itu, apabila ada langkah seperti reshuffle, kemungkinan Prabowo akan mengajak bicara Golkar.
Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”











