Komisi XI DPR RI Gelar Uji Kelayakan dan Kepatutan untuk Deputi Gubernur BI
Komisi XI DPR RI akan menggelar uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test terhadap tiga calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) pada Jumat, 23 Januari 2026. Agenda ini bertujuan untuk mengisi kekosongan kursi pimpinan di bank sentral tersebut. Tiga nama besar yang akan bersaing memperebutkan posisi tersebut adalah Thomas Djiwandono, Dicky Kartikoyono, dan Solikin M. Juhro.
Calon Terkuat
Thomas Djiwandono disebut-sebut sebagai kandidat paling kuat dalam bursa pemilihan kali ini. Selain rekam jejak profesionalnya, latar belakang Thomas yang merupakan keponakan Presiden Prabowo Subianto turut menjadi sorotan. Pengusulan nama Pak Thomas itu adalah sebagai respon Gubernur Bank Indonesia atas surat pengunduran diri Pak Yuda Agung, kata Ketua Komisi XI DPR RI, Misbakhun.
Proses fit and proper test esok hari akan menjadi penentu arah kebijakan moneter dan stabilitas keuangan nasional melalui pemilihan figur yang dinilai paling kompeten mendampingi Gubernur BI.
Rekam Jejak Calon Deputi Gubernur BI
Dicky Kartikoyono
Dicky menjadi Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran sejak dilantik pada 2023. Pria kelahiran Jakarta, 19 Desember 1967 ini menyelesaikan pendidikan tinggi di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) jurusan Diploma Akuntansi. Dicky kemudian meraih gelar sarjana Bidang Akuntansi dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YAI, Jakarta, tahun 1994.
Memulai karier di Bank Indonesia pada 1995, ia lalu memutuskan lanjut S2 di George Washington University dan meraih Master di Bidang Project Management pada 1999. Karier Dicky di Bank Indonesia menanjak. Dia dipercaya menjadi Kepala Departemen Manajemen Strategis dan Tata Kelola sejak 2022 hingga 2023. Dia kemudian dipercaya menjadi Kepala Perwakilan Kantor Perwakalan Bank Indonesia di London, Inggris selama tiga tahun pada 2020-2022.
Partisipasi Dicky sebagai calon Deputi Gubernur Bank Indonesia di 2026 ini merupakan kesempatan kedua yang dia tempuh. Dia tercatat pernah maju memperebutkan posisi yang sama di tahun 2025 mengacu pada surat Presiden bernomor R-22/Pres/05/2025 yang dikirim ke DPR saat itu.
Solikin M. Juhro
Sosok Solikin yang maju menjadi calon Deputi Gubernur BI sehari-harinya menjabat sebagai Asisten Gubernur Bank Indonesia. Pria bergelar doktor ini di masa mudanya dikenal sebagai aktivis mahasiswa. Di kampusnya di Universitas Airlangga Surabaya dia aktif di Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM), Himpunan Mahasiswa serta UKM Sepakbola.
Solikin menyelesaikan pendidikan Sarjana di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga tahun 1991. Dia melanjutkan pendidikan ke S2 dan meraih gelar Master of Applied Economics dari University of Michigan tahun 1998 serta gelar Master pada Bidang Economics dari Maryland University AS di 2001. Solikin meraih gelar Doktor di Bidang Economics Monetary di Universitas Indonesia tahun 2005.
Solikin saat ini menduduki jabatan sebagai Sekretaris Umum Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (PP ISEI) dan telah memasuki periode ketiga. Di tengah kesibukannya sebagai Asisten Gubernur BI, Solikin tetap produktif dan aktif menulis. Dia sudah menyelesaikan puluhan artikel jurnal internasional dan menulis pula belasan buku.
Thomas Djiwandono
Thomas masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Presiden Terpilih RI 2024-2029 Prabowo Subianto. Saat pemilihan Presiden RI, Thomas merupakan Bendahara Umum Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran dan menjabat sebagai bendahara DPP Partai Gerindra sejak 2014.
Pria bernama lengkap Thomas Muliatna Djiwandono ini lahir di Jakarta, 7 Mei 1972 sebagai anak dari pasangan Soedrajat Djiwandono dan Biantiningsih Miderawati. Soedrajat Djiwandono pernah menjabat sebagai gubernur Bank Indonesia di masa Orde Baru. Hubungan dengan keluarga Prabowo berasal dari status Biantiningsih yang merupakan kakak kandung Prabowo Subianto.
Thomas menyelesaikan pendidikan sekolah menengah pertama SMP Kanisius, Menteng, Jakarta. Gelar sarjana dia raih dari luar negeri. Thomas menempuh studi sejarah di Haverford College, Pennsylvania, Amerika Serikat. Dia kemudian mengambil master di bidang International Relations and International Economics di Johns Hopkins University School of Advanced International Studies, Washington, AS.
Thomas pernah mencicipi dunia jurnalistik ketika dia menjadi wartawan magang di Majalah Tempo di 1993 dan menjadi wartawan di Indonesia Business Weekly tahun 1994. Tommy pernah menjadi analisis keuangan di Whetlock NatWest Securities, Hong Kong. Tahun 2006, Thomas diminta pamannya, Hashim Djojohadikusumo membantu bendera bisnisnya di Arsari Group. Di perusahaan itu Thomas menjabat sebagai deputi CEO Arsari Group yang antara lain bergerak di bisnis agroindustri.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











