"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"
Bisnis  

Industri Kekayaan Intelektual Berkembang, Kreator Menghadapi Tantangan Kolaborasi dan Ekosistem



Perkembangan Bisnis Intellectual Property di Indonesia

Bisnis intellectual property (IP) di Tanah Air sedang mengalami pertumbuhan yang pesat. Namun, meskipun potensi bisnis ini terbuka lebar, masih ada beberapa tantangan yang harus dihadapi oleh para kreator. Ekosistem yang belum memadai dan akses pengembangan pasar yang terbatas menjadi hambatan utama.

Kreator Tahilalats, Nurfadli Mursiding, berbagi pengalamannya tentang bagaimana kesadaran akan potensi IP sebagai bisnis mulai muncul. Ia menyadari bahwa industri IP memiliki banyak peluang, terutama melalui kolaborasi dengan pihak-pihak lain. Pada tahun 2016, ia mulai menggali informasi lebih dalam tentang bagaimana industri IP berkembang sejak dulu.

Namun, proses transformasi karya kreatif menjadi IP bisnis tidak mudah. Salah satu tantangan terberat bagi Nurfadli adalah menjaga konsistensi karakter dan identitas Tahilalats di tengah berbagai kebutuhan klien dan kolaborasi. Ia menjelaskan bahwa hal-hal seperti style guide, tone cerita, dan cara mempertahankan DNA Tahilalats sangat penting dalam setiap kolaborasi.

Tantangan lain muncul ketika Tahilalats memutuskan untuk membawa karyanya ke ranah offline. Menurut Nurfadli, ekosistem kolaborasi lintas sektor di Indonesia masih terbatas, terutama karena kurangnya perusahaan yang memiliki sistem IP yang matang seperti Jepang. Hal ini membuat proses membangun kepercayaan dan kredibilitas berjalan lebih lambat.

Di sisi lain, kreator komik strip Duitto & Co, Thomdean, juga mengungkapkan bahwa penghargaan masyarakat terhadap IP masih minim. Ia pernah mengalami karyanya dicatut secara serampangan. “Itu sangat tidak etis. Ada yang menggunakan karyaku sebagai poster dan bahkan mencetaknya sebagai tempat untuk karya-karya lain,” ujarnya.

Nurfadli menambahkan bahwa skema kolaborasi IP dengan sektor lain di Indonesia masih jarang terjadi. Untuk menghadapi ini, Tahilalats memilih tetap “jujur” dalam berkarya sambil mencari partner yang tepat. Ia menilai, kreator tidak bisa terus-menerus bekerja sendirian. Oleh karena itu, dibutuhkan IP studio yang stabil dan tim bisnis yang kompeten.

Lebih jauh, Nurfadli menilai bahwa tantangan terbesar IP lokal bukan pada kekurangan kreator, melainkan pada struktur industri. Indonesia memiliki basis kreator yang sangat melimpah, namun sebagian besar masih bekerja secara all in one, seperti mengurus produksi kreatif, produk, hingga kolaborasi sendiri.

Di sisi lain, jumlah IP launcher atau pelaku bisnis yang fokus dan berpengalaman dalam mengembangkan IP masih sangat terbatas. “Kreator sangat berlimpah, tapi IP launcher yang punya passion dalam pengembangan IP masih langka. Banyak kreator juga belum sepenuhnya percaya jika karyanya dikelola oleh banyak orang,” ujarnya.

Kondisi ini, menurut Nurfadli, tidak bisa sepenuhnya disalahkan pada kreator. Minimnya sistem yang matang membuat banyak kreator memilih tetap bergerak mandiri sebagai jalan yang dianggap paling aman.

Untuk itu, bagi para kreator pemula, penting untuk menemukan partner bisnis yang tepat. Thomdean menyarankan agar kreator menemukan keunikan konten dan pasar yang tepat. “Jadi mesti punya nilai lebih, apa sih yang mau kamu sampaikan dengan karyamu itu. Dari situlah kamu bisa menjual karyamu sebagai produk yang memiliki nilai lebih,” katanya.

Dari sisi pengelola studio IP, Co-Founder Studio Mind Blow On sekaligus pengelola Tahilalats, Rakhman Azhari, mengatakan bahwa pihaknya sempat kesulitan menemukan partner ekspansi yang tepat mengingat belum familiarnya bisnis IP di Tanah Air. “Untungnya dari grup kita juga bisa bantu provide di situ, kemudian the right businesses-nya juga, yang licensing-nya itu, kita juga untungnya kemarin punya partner yang di mana partnernya juga bisa bantu buat nge-train,” ujarnya.

Selain itu, konsistensi produksi konten para kreator juga menjadi tantangan lain. Terlebih, perputaran konten menarik di jagat dunia maya bergerak amat cepat dan bergantung pada algoritma. Untuk menutup kekurangan itu, Mind Blow On Studio membentuk tim riset dan pengembangan khusus untuk menelurkan ide-ide konten yang stabil dan segar.

Tidak berhenti di sana, kolaborasi dengan perusahaan maupun instansi publik juga turut menjadi kunci bagi pertumbuhan bisnis IP yang sehat. “Jadi memang kadang beberapa IP owner juga banyak yang introvert, tapi memang the point is kita harus memperkenalkan IP, kita harus represent IP kita, IP kita itu bisa membantu atau IP kita itu adalah problem solver buat brand atau instansi,” pungkasnya.

Ratna Purnama

Seorang reporter yang gemar meliput isu publik, transportasi, dan dinamika perkotaan. Ia memiliki kebiasaan membaca opini koran setiap pagi untuk memperluas perspektif. Hobi utamanya adalah jogging, fotografi, dan menikmati senja. Motto: "Kepekaan adalah modal utama seorang penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *