"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

PM Hungaria: Pemimpin Eropa Siapkan Skenario Perang Dunia III

Peringatan tentang Ancaman Perang Dunia Ketiga

Perdana Menteri Hungaria, Viktor Orbán, menyampaikan pernyataan yang mengejutkan mengenai ancaman perang dunia ketiga. Ia menyatakan bahwa para pemimpin Eropa telah membentuk “Dewan Perang” untuk merencanakan kemenangan dalam potensi konflik global. Pernyataan ini memicu kekhawatiran akan kemungkinan meluasnya konflik yang lebih besar.

Orbán menyampaikan pernyataannya dalam sebuah pertemuan umum anti-perang di Miskolc pada hari Sabtu (17/1/2026). Ia mengklaim bahwa 27 perdana menteri dan kepala negara Eropa duduk mengelilingi meja saat bertemu, dan ia menyatakan bahwa mereka siap berperang. Menurutnya, Uni Eropa tidak lagi fokus pada diplomasi, tetapi beralih ke persiapan konfrontasi militer skala besar.

Klaim ini muncul dalam tengah situasi geopolitik yang semakin memanas. Di Eropa Timur, perang di Ukraina belum menunjukkan tanda-tanda mereda, sementara di Barat, Presiden AS Donald Trump membuat kejutan dengan dorongannya untuk mencaplok Greenland. Dengan latar belakang ‘kekacauan global’ ini, Orbán berargumen bahwa para elit Eropa telah memilih jalan menuju konflik langsung dengan Rusia.



Tentara Denmark menurunkan kapal di pelabuhan di Nuuk, Greenland, 18 Januari 2026. – (EPA/Mads Claus Rasmussen DENMARK OUT)

Orbán, yang sering dianggap sebagai tokoh yang terpisah dari politik UE, memberikan gambaran tentang suasana di balik pintu tertutup di Brussels. Ia menggambarkan pertemuan 27 kepala negara bukan sebagai perdebatan mengenai kebijakan, tetapi sebagai sesi perencanaan militer yang berisiko tinggi. Menurutnya, para pemimpin negara-negara besar seperti Perancis dan Jerman tidak lagi membahas perdamaian, melainkan terobsesi dengan mekanisme kekalahan total Rusia.

Diskusi tersebut, menurut Orbán, berkisar pada upaya memaksa Moskow untuk membayar ganti rugi dan mendapatkan kembali dana miliaran dolar yang digunakan untuk upaya perang Ukraina. Ia memperingatkan bahwa alokasi keuangan dan militer yang saat ini diberikan oleh para pemimpin terpilih adalah langkah awal menuju konflik global yang lebih luas.

Bagi Hungaria, tujuan Orbán tetap berupa isolasi. Ia bersumpah bahwa pemerintahannya akan ‘menutup pintu’ dengan sekuat tenaga, menolak mengirimkan tentara atau pendanaan ke garis depan. Logikanya bersifat ekonomis dan pasifis: “Jika Anda tidak punya uang, Anda tidak punya rencana besar,” katanya, dengan alasan bahwa kerugian finansial karena ‘diseret’ ke dalam konflik akan membuat masa depan Hongaria bangkrut.

Para pejabat UE dengan cepat menolak label ‘dewan perang’ dan menganggapnya sebagai rekayasa belaka. Mereka berpendapat bahwa sesi-sesi yang dirujuk oleh Orbán terfokus sepenuhnya pada keamanan defensif dan dukungan kemanusiaan, yang dimaksudkan untuk mencegah perang global yang menurut Orbán mereka provokasi.

Mereka berpendapat bahwa dengan membingkai UE sebagai entitas penghasut perang, Orbán hanya menyuarakan narasi yang mendukung Moskow untuk menopang basis domestiknya.

Kekhawatiran dari Mantan Presiden RI

Sebelumnya, mantan Presiden Republik Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), juga menyatakan kekhawatiran terhadap kemungkinan terjadinya ‘prahara besar’ dalam beberapa waktu ke depan. SBY dalam kicauan di X mengatakan bahwa selama tiga tahun terakhir, ia mengikuti perkembangan dunia.

Terlebih dinamika global bulan-bulan terakhir. Sebagai seseorang yang puluhan tahun memperhatikan dan mendalami geopolitik, perdamaian dan keamanan internasional, serta sejarah peperangan dari abad ke abad, ia terus terang khawatir dengan kondisi sekarang.

“Cemas dan khawatir kalau sesuatu yang buruk akan terjadi. Cemas kalau dunia mengalami prahara besar. Apalagi kalau prahara besar itu adalah Perang Dunia Ketiga,” ujarnya, Senin (19/1/2025).

Ia tak menampik kemungkinan Perang Dunia Ketiga yang sangat bisa saja terjadi. Meskipun, ia tetap percaya hal yang sangat mengerikan ini bisa dicegah. “Tapi, day by day, ruang dan waktu untuk mencegahnya menjadi semakin sempit,” katanya.

Ia menggambarkan situasi dunia menjelang terjadinya Perang Dunia Pertama (1914-1918) dan Perang Dunia Kedua (1939-1945) memiliki banyak kesamaan dengan situasi saat ini.



Drone dan formasi persenjataan lainnya melintas saat parade militer untuk memperingati 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II yang diadakan di depan Gerbang Tiananmen di Beijing, Rabu (3/9/2025). – (Xinhua)

Misal, munculnya pemimpin-pemimpin kuat yang haus perang, terbentuknya persekutuan negara yang saling berhadapan, pembangunan kekuatan militer besar-besaran termasuk penyiapan ekonomi dan mesin perangnya, serta geopolitik yang benar-benar panas.

Sejarah juga mencatat, bahwa meskipun sudah ada tanda-tanda nyata bakal terjadinya perang besar, tetapi sepertinya kesadaran, kepedulian, dan langkah nyata untuk mencegah peperangan itu tidak terjadi.

“Mengapa? Mungkin bangsa-bangsa sedunia tidak peduli, atau tidak berdaya, atau mungkin tidak mampu untuk mencegahnya,” tutur politikus senior Partai Demokrat itu.

Secara pribadi ia berdoa semoga mimpi buruk terjadinya perang dunia disertai penggunaan senjata nuklir itu tidak terjadi. Banyak studi yang mengatakan bahwa jika terjadi perang dunia, perang total dan perang nuklir, maka kehancuran dunia tak bisa dihindari.

“Korban jiwa bisa mencapai lebih dari 5 milyar manusia. Tidak ada peradaban yang tersisa dan musnahnya harapan manusia.”

“Tapi tidak cukup dengan doa satu, dua orang. Andaikata 8,3 miliar manusia penghuni bumi juga berdoa secara khusyuk, Tuhan tak begitu saja mengabulkan kalau manusia dan bangsa-bangsa sedunia tidak bekerja dan berupaya untuk menyelamatkan dunianya.”

Sesempit apapun, kata SBY, masih ada waktu dan cara untuk menyelamatkan bumi dan dunia. “Mari kita berbicara dan berupaya. Ingat kata-kata Edmund Burke dan Albert Einstein yang intinya mengatakan bahwa kehancuran dunia bukan disebabkan oleh orang-orang jahat, tetapi karena orang-orang baik membiarkan orang-orang jahat menghancurkan dunia. Atau juga, kalau yang baik-baik diam, yang jahat akan menang.”

SBY menyarankan agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengambil inisiatif mengundang para pemimpin dunia berembuk di Persidangan Umum PBB yang sifatnya darurat (Emergency UN General Assembly). Agendanya adalah langkah-langkah nyata untuk mencegah terjadinya krisis dunia dalam skala yang besar, termasuk kemungkinan terjadinya perang dunia yang baru.



Board of Peace Saingi PBB? – ()

“Saya tahu, boleh dikata saat ini PBB tidak berdaya dan tidak berkuasa. Tetapi, janganlah sejarah mencatat PBB melakukan pembiaran dan juga doing nothing.”

“Mungkin saja, seruan para pemimpin sedunia itu ‘sebagai berseru di padang pasir’. Artinya, tak akan diindahkan. Tetapi, mungkin juga itu awal dari kesadaran, kehendak, dan langkah-langkah nyata dari bangsa-bangsa sedunia untuk menyelamatkan dunia yang kita cintai ini. Ingat, if there is a will, there is a way.”

Adriatno Majid

Seorang penulis berita online yang mengutamakan kecepatan dan ketelitian dalam menyampaikan informasi terkini kepada pembaca. Aktif mengikuti perkembangan isu sosial dan digital. Memiliki hobi membaca artikel sejarah, bersepeda pagi, serta memotret momen sederhana yang menarik. Baginya, proses menulis adalah ruang untuk melihat dunia lebih dekat. Motto hidupnya: "Informasi yang jujur adalah fondasi kepercayaan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *