"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Profil Noe Letto, Ahli Pertahanan dengan Latar Belakang Pendidikan Luar Negeri

Profil Sabrang Mowo Damar Panuluh atau Noe Letto

Sabrang Mowo Damar Panuluh, yang lebih dikenal dengan nama panggung Noe Letto, baru saja dilantik sebagai tenaga ahli Dewan Pertahanan Nasional. Pelantikan ini dilakukan langsung oleh Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin pada Kamis (15/1/2026). Dalam posisi barunya, Sabrang akan mengisi kedeputian bidang Geoekonomi, Geopolitik, serta Geostrategi.

Ketiga bidang ini berkaitan dengan kajian global. Geoekonomi mengkaji perekonomian global, geopolitik mengkaji peta politik dunia dan hubungan antarnegara yang berdampak pada kepentingan Indonesia. Sementara geostrategi mencakup bagaimana merumuskan strategi jangka panjang terkait pertahanan dan keamanan negara berdasarkan kondisi geografis dan ancaman potensial.

Sabrang lebih dikenal sebagai pentolan band Letto. Ia adalah putra dari tokoh intelektual muslim Indonesia, sekaligus penulis Emha Ainun Nadjib (Cak Nun). Meski dikenal sebagai anak band, Noe memiliki jejak pendidikan yang jauh dari dunia musik.

Jejak Pendidikan Noe Letto

Jejak pendidikan Noe Letto dirangkum pada Minggu, (18/1/2026). Ia mengenyam pendidikan dari Lampung, ke Yogyakarta, sampai ke Kanada. Putra pertama dari Emha Ainun Nadjib dan istri pertamanya, Neneng Suryaningsih, mengenyam pendidikan SD dan SMP di Lampung.

Saat usianya enam tahun, orangtuanya memutuskan berpisah dan Noe mengikuti sang ibu pindah ke Lampung. Di sana ia bersekolah di SD 1 Yosomulyo, kemudian melanjutkan ke SMP Xaverius Metro. Setelah lulus SMP, Noe kembali ke Yogyakarta dan meneruskan sekolah di SMU 7 Yogyakarta.

Mulai dari SMP, ia mulai mengenal musik. Bahkan saat bersekolah di SMA, ia bertemu beberapa kawannya untuk saling bermain musik dan beberapa kali aktif bersama komunitas ayahnya. Pada tahun 1997, Noe melanjutkan kuliah di perguruan tinggi Universitas Alberta, Kanada. Ia mengambil dua jurusan sekaligus, yaitu Matematika dan Fisika.

Alasan Memilih Jurusan Matematika dan Fisika

Noe menjelaskan alasan mengapa ia memilih kedua jurusan kuliah ini. Alasannya, ia tidak suka hafalan. “Karena sekali belajar matematika itu sekali paham. Sampai mati enggak berubah, enggak perlu ngapal apa-apa juga. Fisika (juga) kurang lebih seperti itu,” ucap Noe.

Karena alasan ini, ia tak suka berhubungan dengan menghafal pelajaran. “Menurut saya otak gunanya bukan buat ngapalin. Kalau buat ngapalin udah ada kertas, catatan dan HP, tapi prosesingnya itu,” kata Noe.

Gelar Bachelor of Science With Honors

Berdasarkan data University of Alberta Spring Convocation 2003, Noe lulus dari Universitas Alberta dengan gelar Bachelor of Science With Honors (B.Sc.). Bachelor of Science With Honors berbeda dengan jenjang S1 pada umumnya. Kurikulum kuliahnya lebih berat dan mahasiswa dipersiapkan menjadi peneliti atau ilmuwan. Sehingga lulusannya lebih cepat masuk S2 dan S3.

Pada beberapa kampus, mahasiswa yang mengambil program ini memiliki IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) yang tinggi dan jika nilainya turun bisa dipindah ke S1 umum. Selain itu, jika jenjang S1 pada umumnya hanya fokus akan pengetahuan sains secara umum, maka bachelor honors akan fokus sangat mendalam pada riset dan spesialisasi akademis. Sehingga mata kuliahnya seringkali lebih sulit dan lebih banyak di bidang spesialisasi mereka.

Dengan program kuliah yang cukup berat, Noe hidup berjuang mandiri dengan menjalani pekerjaan paruh-waktu agar dapat memiliki uang yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari demi menyelesaikan pendidikan. Noe juga sering menjadi pemateri dalam berbagai acara yang berkaitan dengan pendidikan. Ia juga sering memberi materi kuliah umum dari sudut pandang fisika seperti di Universitas Ahmad Dahlan, Unnes, Universitas Widya Mataram, dan masih banyak lagi.

Profil Karier Noe Letto

Nama Sabrang mulai melambung di tanah air saat ia membentuk band Letto bersama rekan-rekan SMA-nya. Noe sebagai vokalis, sementara kawannya yaitu Patub sebagai gitaris, Arian sebagai bassis, dan Dhedot sebagai drummer. Letto memulai debut kariernya sebagai band pada tahun 2004, dan pada tahun 2005 mereka meluncurkan album Truth, Cry, and Lie dengan lima singel. Lagunya banyak yang hits, seperti Sampai Nanti, Sampai Mati, Sandaran Hati, Sebenarnya Cinta, sampai lagu berjudul Sandaran Hati.

Pada tahun 2016, Letto menambah 2 personel yaitu Cornel sebagai gitaris, dan Widi sebagai keyboardis setelah keduanya menjadi additional player untuk Letto. Selain di dunia musik, pria kelahiran 1979 ini juga mendirikan Pic[k]Lock Productions yang memproduksi film-film berkualitas seperti Minggu Pagi di Victoria Park dan Guru Bangsa Tjokroaminoto.

Halwa Futuhan

Penulis yang rajin memberitakan kegiatan masyarakat lokal dan peristiwa lapangan. Ia gemar berkunjung ke pasar tradisional, memotret aktivitas warga, dan mencatat percakapan menarik. Hobinya termasuk mendengar musik tempo dulu. Motto: “Cerita kecil sering kali memiliki dampak besar.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *