"Mengabarkan Enrekang, Menginspirasi Negeri"

Euforia Masyarakat Indonesia atas Kemenangan Zohran Mamdani



Pelantikan Wali Kota New York, Zohran Mamdani pada tanggal 1 Januari 2026 menjadi awal dari sebuah diskursus politik global yang menarik. Mamdani, yang berusia 34 tahun, dilantik di Stasiun Subway New York City Hall sambil mengucapkan sumpah dengan memegang Al-Quran yang dibawakan oleh istrinya.

Penggambaran seremonial pelantikan Mamdani yang biasanya lebih formal dan tidak terlalu ramai oleh khalayak awam menarik perhatian publik di kota New York maupun dunia. Mereka kini menanti apa perubahan radikal yang akan dilakukan Mamdani pada kota terbesar di Amerika Serikat tersebut.

Kemenangan Mamdani, seorang politisi muda Amerika Serikat keturunan India kelahiran Uganda, dalam pemilihan wali kota di bulan November 2025 sebenarnya sudah bisa diprediksi. Ia telah menarik perhatian publik ketika memenangkan pemilihan internal Partai Demokrat sebagai calon wali kota pada pertengahan tahun 2025.

Sebelum menjadi politisi, Mamdani berkarier dalam advokasi akses tempat tinggal untuk komunitas terpinggirkan di daerah Queens, New York. Dalam kampanyenya, ia menjanjikan program-program populis seperti mendorong kenaikan upah minimum dari US$ 16.50 per jam menjadi US$ 30, pembiayaan bus gratis untuk mengurangi kemacetan di New York dan meningkatkan akses mobilitas warga, mendorong pembekuan kenaikan harga sewa properti, meningkatkan beban pajak warga berpenghasilan tinggi, dan kebijakan radikal lainnya.

Mamdani, seorang minoritas di Amerika Serikat, memenangkan pemilihan wali kota New York secara mutlak di atas para pesaingnya, yaitu Andrew Cuomo, mantan wali kota New York tahun 2011-2021 yang maju secara independen dan Curtis Sliwa, kandidat senior dari Partai Republik.

New York, bagaimanapun, hanyalah sebuah kota di Amerika Serikat. Namun, seluruh dunia seolah merayakan kemenangan Mamdani, tidak hanya terbatas pada konstituen setempat saja. Harian New York Times melaporkan bahwa Mamdani berhasil mengalahkan kelompok elite di New York.

Sementara itu, BBC melihat keberhasilan Mamdani di pemilihan Wali Kota New York sebagai momentum yang bersejarah. Di Indonesia, harian Kompas menekankan bagaimana Mamdani mengalahkan ‘persekongkolan politisi lama New York’, sementara beberapa media lain seperti CNBC Indonesia, Detikcom, dan Republika.id justru memberikan penekanan pada identitas Mamdani sebagai Muslim.

Pemberitaan atas kemenangan Mamdani juga ditemukan pada situs resmi Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) serta publikasi Partai Nasional Demokrat (Nasdem). Masyarakat Indonesia tiba-tiba tertarik dengan Zohran Mamdani, nampak dari melonjaknya pencarian informasi tersebut di Google Search di bulan November 2025.



Pertanyaan mendasar adalah: mengapa kita semua, di luar New York, merayakan kemenangan Mamdani?

Memaknai Representasi

Agar sistem demokrasi dapat berjalan ideal, salah satu hal penting adalah adanya representasi. Menurut Lilleker (2019), representasi tidak hanya terbatas pada adanya satu tokoh atau organisasi politik yang disetujui sekelompok masyarakat untuk membawa agenda politik. Representasi ditunjukkan dengan adanya pemikiran, sikap, dan tindakan yang selaras serta memberikan manfaat maksimal pada seluruh masyarakat.

Agar masyarakat menjaga legitimasi pada representasi tersebut, Lilleker (2019) berargumen perlunya komunikasi yang terjalin lancar antara representasi dan konstituennya. Komunikasi ini harus dua arah dan menunjukkan secara rinci dan rasional bagaimana keputusan diambil, bagaimana keputusan ini akan bermanfaat dalam jangka panjang, serta bagaimana kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi.

Kualitas ini tercermin dalam kampanye politik Mamdani dan cara ia menjalani karier politiknya sejak awal. Dia membawa identitas sebagai generasi muda, imigran, Muslim, pekerja, dan memiliki etnisitas Asia Selatan dan Afrika. Dalam pidato kemenangannya, Mamdani menyampaikan bahwa “New York adalah kota yang dibangun oleh imigran, ditenagai oleh imigran, dan akan dipimpin oleh imigran”.

Pernyataan ini tidak berlebihan karena 38% warga kota New York berstatus imigran. Meskipun berkontribusi besar terhadap ekonomi di New York, komunitas imigran menghadapi keresahan atas kesejahteraan mereka. Mamdani meraih simpati karena ia berhasil mengkristalisasi representasi identitas yang ia miliki, sehingga masyarakat New York merasa dekat dan memiliki optimisme atas perubahan situasi ke arah yang lebih baik.

Manifestasi Representasi

Representasi menjadi atensi utama awal pemerintahan Mamdani. Tim Transisi pemerintahan yang ia bentuk terdiri dari seluruhnya profesional perempuan dengan identitas imigran. Ia juga langsung menerbitkan perintah eksekutif untuk memperbaiki akses tempat tinggal, seperti membekukan kenaikan harga sewa tempat tinggal, meningkatkan pajak untuk individu dan perusahaan dengan penghasilan per tahun di atas satu juta dolar Amerika, serta membangun tempat tinggal baru yang terjangkau pada lahan yang dikuasai oleh pemerintah kota.

Euforia Mamdani di Indonesia?

Dengan wewenang terbatas pada sebuah kota, kebijakan-kebijakan Mamdani secara pragmatis tidak akan berdampak apa pun pada masyarakat di luar New York. Namun, masyarakat Indonesia antusias dengan kemenangannya. Mamdani dirayakan karena masyarakat Indonesia beresonansi dengan simbolisme yang ia promosikan, terutama identitasnya sebagai pemimpin Muslim muda.

Namun, yang menarik adalah melihat bagaimana aktor politik di Indonesia turut merayakannya: mereka cenderung melakukan ini secara pragmatis alih-alih membawa semangat representasi Mamdani. Mereka mencoba membangun suatu koneksi identitas dengan kemenangan Mamdani yang menunjukkan adanya anomali: seorang tokoh Muslim yang memimpin kota terbesar di dunia Barat.

Meski begitu, tidak cukup hanya melihat Mamdani dari identitasnya. Zohran Mamdani, bagaimanapun, adalah politisi yang membawa mandat rakyat dan diharapkan akan meningkatkan hajat hidup rakyatnya. Jika ada replikasi Mamdani di Indonesia, kita akan melihat munculnya tokoh politik yang tidak dilatarbelakangi nama besar keturunan, tapi identitas kelompok yang terpinggirkan.

Kita akan melihat tokoh politik yang mendorong naiknya UMR secara signifikan. Kita akan melihat tokoh politik yang punya posisi tegas mendukung dan mendorong agenda-agenda progresif, meskipun kurang populis. Kita akan melihat tokoh-tokoh politik yang memberi ruang untuk sikap dan pandangan yang berbeda, mendorong perdebatan substantif yang sehat alih-alih berhenti pada pernyataan seperti ‘pro-kontra itu biasa, berbeda pendapat itu biasa’.

Budaya politik dan sirkulasi pendapat di Indonesia dan Amerika Serikat memang berbeda, tapi wajar untuk kemudian memandang skeptis perayaan kemenangan Mamdani oleh berbagai pihak di Indonesia; bahwa mereka tidak sedang benar-benar mendorong keterwakilan kelompok minoritas sebagaimana apa yang Mamdani lakukan, tetapi cenderung mengejar tujuan pragmatis seperti popularitas.

Terpilihnya Mamdani memang perlu dirayakan. Bagaimanapun, ini adalah pertanda dimulainya perubahan perspektif atas representasi di panggung politik dunia. Masyarakat Indonesia perlu membaca fenomena ini secara kritis dan tidak berlebihan, toh apa pun yang dilakukan Mamdani secara praktis tidak akan berdampak apa pun ke Indonesia. Justru semangat representasi Mamdani atas identitas yang terpinggirkan ini yang perlu ditiru dan diperkuat di Indonesia. Tidak hanya atas identitas yang melekat, tetapi juga memastikan representasi identitas yang inklusif ini diterjemahkan ke dalam kebijakan dan tindakan.

Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *