Pengakuan Erick Thohir Mengambil PSSI untuk Ambisi Politik
Pengamat sepak bola nasional dan mantan jurnalis olah raga senior, Anton Sanjoyo atau yang lebih dikenal sebagai Bung Joy, mengungkapkan bahwa Erick Thohir secara terbuka mengakui bahwa ambisinya mengambil alih PSSI dari awal adalah untuk menyasar kursi Wakil Presiden (Wapres) dalam Pilpres 2024. Hal ini diungkapkan Bung Joy dalam sebuah podcast yang tayang di kanal YouTube @Ruang Publik pada Senin (29/12/2025).
Bung Joy menjawab pertanyaan dari host acara tersebut, bahwa langkah Erick Thohir maju sebagai Ketua Umum PSSI pada Februari 2023 lalu, memang untuk kepentingan politik. Ia menyebutkan bahwa Erick Thohir ditugaskan langsung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mengambil alih PSSI dari tangan Mochamad Iriawan (Iwan Bule) sebagai Ketum.
Pengambil alihan ini dinilai penting sebagai bagian dari agenda besar politik untuk menaikkan elektabilitas menjelang Pilpres 2024. Karenanya, masuknya Erick Thohir di PSSI bukan sekadar proyek penyelamatan sepak bola nasional, seperti yang selama ini disampaikan.
Menurut Bung Joy, ada iirisan kuat antara kepentingan olahraga dan agenda politik kekuasaan. Semuanya dibalut dalam narasi reformasi dan prestasi. Bung Joy menyebut perintah Jokowi ke Erick tersebut berkaitan erat dengan kebutuhan Jokowi mengendalikan PSSI demi menjaga kepentingan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 yang saat itu dipersiapkan.
Kritik terhadap Kepemimpinan Erick Thohir
Dalam pertemuan pertamanya dengan Erick Thohir beberapa pekan setelah terpilih sebagai Ketum PSSI, Bung Joy secara terbuka menyatakan ketidakpercayaannya terhadap komitmen Erick membangun sepak bola nasional. Ia menilai PSSI lebih berpotensi dijadikan wahana politik jelang Pilpres 2024.
“Dalam pertemuan itu saya bilang Pak Erick, saya enggak percaya Pak Erick mau bangun sepak bola. Saya lebih percaya Pak Erick itu akan menggunakan PSSI untuk tujuan politik,” ujar Bung Joy.
Karenanya, Bung Joy meminta Erick Thohir mengatakan sesuatu atau memberikan penjelasan agar mereka percaya bahwa Erick Thohir memang akan membangun sepak bola Indonesia saat menjabat Ketum PSSI. “Apa yang bikin saya percaya? Tolong Pak Erick katakan sesuatu,” katanya saat itu ke Erick Thohir.
Erick Thohir akhirnya menjelaskan rencananya kepada Bung Joy dan sejumlah pemerhati sepak bola nasional yang hadir. “Ceritalah dia bla bla bla bla. Diskusinya berlangsung lama karena kita bicara mengenai pengembangan sepak bola mengenai versi dia. Itu oke saja semua yang dia katakan itu. Karena dia juga kan punya pengalaman, punya klub Basket, arena basket dan macam-macam. Jadi okelah, saya percaya, gitu ya,” kata Bung Joy.
Namun Bung Joy mengatakan ingin bukti yang bisa dilihat dalam satu atau dua tahun mendatang setelah PSSI dipegang Erick Thohir. “Setelah setahun atau 2 tahun, saya ingin buktinya,” katanya.
Naturalisasi Pemain dan Kritik terhadap Kebijakan Erick Thohir
Sepanjang perjalanan kepemimpinan Erick Thohir di PSSI diketahui banyak sekali melakukan naturalisasi pemain Tim Nasional dengan memanggil pemain-pemain diaspora. “Yang kemudian itu juga saya kritik habis-habisan, karena terlalu banyak naturalisasi, menurut saya,” kata Bung Joy.
Akhirnya, menurut Bung Joy, pertemuan kedua dengan Erick Thohir terjadi pada Februari 2025, atau 2 tahun setelah Erick menjabat Ketum PSSI. Dalam pertemuan itu, ia mengingatkan ke Erick Thohir bawa di pertemuan pertama ia tidak percaya Erick akan membangun sepak bola karena hanya ingin maju di Pilpres 2024.
Namun ternyata Pak Erick enggak mencalonkan diri kan. Dia akhirnya tidak mencalonkan diri atau tidak dibawa. Tadinya kan pasangannya Prabowo itu bukan Gibran. Di Bandung saja, saya masih melihat posternya Prabowo dan Erick Thohir,” kata Bung Joy.
Bung Joy mengatakan dengan tidak majunya Erick Thohir di Pilpres 2024, maka pendapatnya di pertemuan pertama bahwa Erick Thohir menggunakan PSSI sebagai kendaraan politik, kemungkinan salah. “Tapi, apa yang dia (Erick Thohir-Red) katakan? Kan masih ada 2029, Joy,” kata Bung Joy.
Menurut Bung Joy, apapun posisi yang Erick Thohir incar di pemerintahan, wapres atau presiden, yang jelas Erick Thohir memiliki ambisi politik yang cukup tinggi. “Entah itu Wapres atau itu Presiden. Tapi jelas dengan pengakuan itu, saya anggap dia memang punya ambisi politik cukup tinggi. Yang menurut saya itu wajar saja. Siapa sih yang enggak mau jadi wapres, siapa sih yang enggak mau jadi presiden? Ya kan? Itu menurut saya cita-cita mulia,” papar Bung Joy.
Pembinaan Sepak Bola yang Melenceng
Namun kata Bung Joy, jika menggunakan cita-cita itu dengan wahana sepak bola, maka akan melenceng dalam pembinaan sepak bolanya. “Anda tidak akan membuat sepak bola menjadi jauh lebih bagus. Karena seperti yang saya bilang tadi, Pak Erick terlalu banyak melakukan naturalisasi. Sampai 22 orang yang dia panggil gitu loh,” kata Bung Joy.
Walaupun naturalisasi itu sah-sah saja, Bung Joy menjelaskan di pertemuan kedua ia bilang ke Erick Thohir tidak adil. “Kenapa tidak adil? Silakan melakukan naturalisasi karena secara hukum mereka sah, mereka punya darah Indonesia juga. Tapi ketika Pak Erick melakukan A, Anda tidak melakukan yang B. Yang harus Anda lakukan juga. Apa itu Pembinaan sepak bola di dalam negeri,” kata Bung Joy.
Saat itu, Bung Joy mengatakan ke Erick Thohir, apakah tidak mau Indonesia mengekspor banyak pemain ke Eropa seperti Jepang. “Kita mengekspor pemain kita bisa tampil di Liga Inggris, Liga Spanyol, seperti yang dilakukan Jepang. Puluhan tahun yang lalu Jepang melakukannya dan sekarang mereka memetik hasilnya,” kata Bung Joy.
Bung Joy mengatakan saat itu Erick mengatakan akan mengusahakan hal itu. Namun ia kembali mempertanyakan. “Mengusahakan, tapi apa usahanya Bapak? Karena ini, harus jalan paralel Pak, saya bilang gitu,” katanya.
Kritik terhadap Pembinaan Usia Muda
Bung Joy mengatakan ambisi Erick Thohir bisa mengorbankan arah pembinaan sepak bola nasional. Ia menyoroti kebijakan naturalisasi besar-besaran yang dinilai tidak diimbangi pembangunan kompetisi dan pembinaan usia muda di dalam negeri. “Kalau naturalisasi dijadikan jalan pintas demi prestasi instan dan elektabilitas, sepak bola kita akan melenceng. Kita naik peringkat FIFA, tapi fondasi kita rapuh,” ujarnya.
Bung Joy juga mengkritik absennya roadmap pembinaan yang jelas di tubuh PSSI, lemahnya sistem data pemain nasional, hingga minimnya perhatian terhadap pengembangan wasit dan kompetisi usia dini. Ia menyebut keberhasilan tim nasional saat ini lebih banyak merupakan hasil pembinaan federasi asing, terutama Belanda, ketimbang produk sistem sepak bola Indonesia.
Pembinaan Usia Muda Didominasi Swasta
Bung Joy mengungkapkan fakta lain yang dinilainya ironis: hampir seluruh pembinaan usia muda di Indonesia justru digerakkan pihak swasta, bukan PSSI. “Kompetisi usia muda di Jakarta, Bekasi, sampai Papua itu semua bikinan swasta. PSSI tidak hadir,” ujarnya.
Ia mencontohkan pembinaan di Surabaya sebagai pengecualian, sementara di banyak daerah tidak ada program berkelanjutan dari federasi. Bahkan, penyelenggara kompetisi usia muda kerap dipersulit dalam urusan perwasitan dan birokrasi. “Penugasan wasit sering jadi masalah. Ada biaya tambahan, ada fee penugas. Kalau tidak diikuti, wasit tidak dikirim. Ini sudah berlangsung belasan tahun,” ungkapnya.
Mentalitas dan Kejujuran di Tubuh PSSI Bermasalah
Menurut Bung Joy, persoalan utama PSSI bukan pada kompetensi, melainkan integritas. “Ilmu mereka ada. Bantuan FIFA juga ada. Yang kurang itu orang-orang yang jujur,” katanya.
Ia menyebut pembinaan usia muda kerap dihindari karena tidak menghasilkan keuntungan finansial maupun elektoral. Kompetisi usia muda dinilai “tidak ada cuannya”, sehingga minim minat untuk digarap serius.
Meski kritis, Bung Joy mengakui Erick Thohir masih menjadi figur paling realistis memimpin PSSI saat ini. Ia menilai Erick memiliki kemampuan finansial, akses politik, dan kapasitas manajerial untuk mengendalikan elite Exco PSSI yang penuh kepentingan. “Dengan segala kontroversinya, sekarang ini cuma Erick yang paling mungkin. Ketua umum PSSI harus direstui Istana. Tanpa itu, selesai,” ujarnya.
Ia juga menilai rangkap jabatan Erick Thohir sebagai menteri dan Ketua Umum PSSI bukan persoalan hukum, karena tidak dilarang FIFA maupun regulasi nasional. Namun tantangannya adalah pembagian perhatian dan rasa keadilan antar cabang olahraga.
Bung Joy menegaskan, kegagalan Indonesia lolos ke Piala Dunia harus dijadikan cambuk, bukan penyesalan semata. “Ini semesta mengingatkan kita: belum layak. Kita harus kembali membumi, melihat sumber daya kita sendiri, dan bekerja berdarah-darah, jauh dari sorotan,” katanya.
Menurut Bung Joy diharapkan kritik terhadap PSSI tidak berhenti, baik saat federasi dipuja maupun saat dihujat. “Sepak bola tidak dibangun dengan halusinasi. Ia dibangun dengan kerja senyap, kerja kotor, dan keberanian mengorbankan diri,” kata Bung Joy.











